Chapter 1: Flame on candle

16 1 0
                                        

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

.
.
.
.
.






EVANGELINE — atau yang lebih dikenal sebagai Mangie Storm, atau sekadar Mangie bagi mereka yang cukup akrab dengannya — mengayuh sepedanya perlahan di bawah langit malam yang bertabur bintang samar. Jalanan kota berdenyut dengan keramaian. Lampu-lampu neon berkelip seperti bintang buatan, sementara suara deru kendaraan dan langkah kaki berpadu menjadi satu orkestra malam yang tak berujung. Beberapa orang menoleh saat ia lewat, berbisik-bisik di antara mereka. Namun, Mangie tak peduli. Matanya terarah lurus ke depan, tatapan dingin yang sudah terbiasa tak mengindahkan dunia di sekelilingnya.

Angin malam menyelinap di sela-sela helaian rambut pirangnya yang terurai, tapi ia tidak menggigil. Kesejukan malam bukanlah hal yang mampu menggetarkannya lagi. Sepedanya melaju keluar dari hiruk-pikuk kota, menuju jalanan yang lebih sepi dan redup. Rumahnya masih sekitar tiga puluh menit lagi dari sini. Sebuah perjalanan yang sunyi, tapi justru itu yang ia butuhkan. Di keranjang depan sepedanya, tertata rapi bahan-bahan makanan yang ia beli setelah lelah bekerja seharian. Sayuran segar, sepotong roti tua, dan beberapa bungkus daging mentah yang mengeluarkan aroma khas. Semua itu cukup untuk bertahan hingga beberapa hari ke depan.

Hidup Mangie tidak pernah mudah, tapi ia sudah lama berdamai dengan hal itu. Sejak sebulan lalu, ayahnya, Robert, tak pernah lagi pulang. Tak ada pesan, tak ada kabar, hanya kepergian yang menggantung seperti jaring laba-laba di sudut rumah. Bagi Mangie, kepergian itu terasa lebih melegakan daripada menyakitkan. Tak ada teriakan, tak ada tangan kasar yang mengayun ke arah wajahnya, tak ada paksaan untuk menyanyikan lagu-lagu yang selalu mengingatkan pada sosok ibunya.

Ayah mungkin menghilang, pikirnya, atau mungkin dia memang sengaja pergi. Namun, entah mengapa, Mangie merasa itu tidak penting lagi. Ada kebebasan di balik kehilangan, dan ia tak rindu pada sosok yang hanya memberi luka. Kakaknya, Ethan, juga tak ada di rumah. Pemuda itu pergi berperang, dan Mangie tak tahu apakah ia akan kembali sebagai seorang pahlawan atau sekadar nama di batu nisan.

Tak sekali pun ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi. Ibu meninggal saat melahirkannya, dan bertahun-tahun ia dipaksa percaya bahwa itu kesalahannya. Robert dan Ethan mengatakannya berulang kali, hingga suara itu hampir berakar di benaknya. Tapi tidak. Mangie menolak percaya. Ia memilih menanamkan dalam hatinya, bukan salahku. Bukan salahku. Meski kadang, di tengah keheningan malam, keyakinan itu terasa rapuh.

Mangie pernah dipaksa menyanyi, suaranya mengalun seperti gema dari masa lalu — sebuah pantulan sempurna dari suara ibunya. Robert, yang kehilangan istrinya, menganggap suara Mangie sebagai pengganti yang tak sempurna. "Bernyanyilah," katanya dengan mata merah dipenuhi anggur murahan. Suaranya serak, tapi tatapannya tajam seperti pecahan kaca. Mangie, saat itu, bernyanyi dengan hati yang kosong, hanya demi menghindari hukuman. Tetapi bahkan itu pun tak cukup.

Suatu malam, ketika nada lagu baru saja keluar dari bibirnya, tangan Robert tiba-tiba melingkar di lehernya. Matanya merah membara, seperti lilin yang terbakar dari dalam. Jari-jari kasarnya mencengkeram leher Mangie hingga ia terbatuk, tubuhnya terjengkang ke belakang, dan lagu itu terhenti seketika. Robert mencekiknya tanpa alasan jelas, hanya didorong oleh mabuk yang bercampur kesedihan. Tapi Mangie tahu, alkohol bukan satu-satunya alasan. Bahkan saat sadar, ia tetap seorang monster.

Needles In A Cloud Where stories live. Discover now