"Sekian presentasi dari saya, apabila ada kesalahan dalam berkata atau tingkah laku saya minta maaf, dan terimakasih untuk para rekan-rekan yang sudah menyempatkan waktunya untuk hadir di ruangan ini. Saya Nabila. Terimakasih", ucapku tersenyum dan menatap beberapa wajah orang di hadapanku yang sedang bertepuk tangan bangga melihatku.
"Hebat kamu Nab bisa menyelesaikan hari ini", ucap Gita yang menghampiriku setelah semua orang keluar dari ruangan rapat.
"Hahaha, makasih Git. Aku juga gak nyangka sama diri sendiri", jawabku sambil menata berkas-berkas yang berantakan di meja rapatku.
"Kan udah aku bilang, kamu bakalan berhasil Nab. Lo sih gak percaya diri", kata Gita sambil terkekeh.
"Lagian aku gak tenang aja Git, tahu sendiri aku orangnya suka panik dan mudah stress", kataku.
Berkas pun sudah tertata rapih di hadapanku, dan aku pun mengangkatnya untuk balik ke meja kerjaku.
"Ayoklah balik! udah jam pulang nih", kataku sambil menggandeng Gita untuk segera keluar dari ruangan rapat itu, karena sudah tidak ada orang.
Gita pun mengikutiku dan berjalan menuju lift untuk turun ke lantai paling bawah.
Namaku Nabila Kamania Ivanka, biasa di panggil Nabila. Sekarang usiaku 25 tahun dan aku bekerja di kantor perusahaan Nutrifood Semarang lebih tepatnya di bagian divisi surveilans dan marketing.
Aku bekerja di sini sudah sekitar hampir tiga tahun dan merasa nyaman dengan lingkungan yang sangat mendukung untuk membuatku berkembang. Sebenarnya kedua orangtuaku memintaku untuk bekerja di kota sendiri saja agar lebih dekat dengan orangtua, akan tetapi jika Tuhan menghendakinya aku di sini lalu bagaimana dengan keingin orangtuaku? akhirnya mereka mengiklhaskannya. Toh Semarang dan kotaku tidak terlalu jauh. Hanya dua sampai tiga jam ditempuh.
Aku anak ketiga dari tiga bersaudara, dan sekaligus anak terakhir. Entah mengapa banyak orang yang selalu bertanya padaku "kapan nikah?", template pertanyaan yang sering diulang-ulang dari jaman nenek moyang mungkin, dan aku bosan mendengarnya.
Apa harus usia 25 tahun sebagai acuan untuk sudah berumah tangga? apakah menikah itu adalah suatu pencapaian seseorang? bukankah banyak di luar sana yang rumah tangganya ujungnya berantakan padahal baru beberapa bulan menikah? lalu pencapaian apa yang dimaksud?. Lagian aku termasuk golongan gen Z, dimana beda generasi beda pemikiran dengan generasi sebelumnya, dan pencapaianku bukan menikah. Tetapi dimana semua wishlist impianku tercapai semuanya dengan tekad dan usaha diri sendiri.
₊ °✦ ‧ ‧ ₊ ˚✧
"Kamu mau langsung pulang Nab?", tanya Gita padaku.
"Iya Git, mau rebahan aku", jawabku.
Ting!
Pintu lift pun terbuka, aku dan Gita pun melangkah keluar dari lift karena sudah berada di lantai satu. Lantai utama.
"Hello my name is V"
Ketika aku sudah melangkah keluar dari lift, terdengar suara notifikasi chat dari ponselku yang masih ku genggam.
Tasya: Nab, jadi kan nanti kita beli tikert konser BTS?
"Git, kamu keluar dulu. Aku mau balas chat dulu", kataku sambil berkata ke Gita yang berada di sampingku.
"Oh Okay, aku balik dulu ya", kata Gita.
"Bye", Gita pun berjalan keluar pintu utama meninggalkanku.
Tasya: Nab, jadi kan nanti kita beli tikert konser BTS?
ESTÁS LEYENDO
MY IDOL IS MY SOULMATE - [V BTS]
FanfictionTakdir memang tidak ada yang tahu. Berawal dari menyukainya di layar televisi dan sangat gila mengoleksi semua fotonya di ponselku dengan bertuliskan emoticon 'Love' serta menonton konsernya, melihatnya bernyanyi di atas panggung, hingga berakhir d...
![MY IDOL IS MY SOULMATE - [V BTS]](https://img.wattpad.com/cover/376582315-64-k64694.jpg)