Alea merapikan kemeja putihnya di depan cermin. Seharusnya, pagi ini adalah pagi yang penuh harapan. Ia mengulangi apa yang ia katakan di dalam hati tadi malam: "Aku bisa. Aku pasti bisa."
Namun, bayangan kekecewaan dari berbagai wawancara sebelumnya menggantung di pelupuk matanya, menolak untuk pergi.
Di ruang tamu kecil, ibunya duduk di kursi yang mulai reot. Ibu Alea dulu adalah seorang wanita kuat dengan senyum cerah, kini hal itu hanya menjadi bayangan. Penyakit kronis yang tak kunjung sembuh membuat tubuhnya semakin kurus. Alea mencoba tersenyum ketika menghampirinya.
"Bu, Alea berangkat dulu ya. Doakan Alea, semoga kali ini diterima," kata Alea sambil menunduk, mencium tangan ibunya.
Ibu Alea mengangguk pelan. "Ibu selalu mendoakanmu, Nak. Kamu kuat, Alea, jangan menyerah."
Alea merasa ada gumpalan di tenggorokannya, tapi ia menahannya. Tidak boleh menangis sekarang! Ada hal-hal yang lebih mendesak daripada air mata yang tumpah, batinnya.
Alea keluar dari rumah kontrakan kecil mereka, melangkah cepat menuju halte bus. Di pinggir jalan, orang-orang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Alea menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa gugup yang menjalari tubuhnya.
Wawancara kerja kali ini adalah harapan terakhirnya untuk bulan ini. Tabungannya sudah hampir habis, dan ia masih harus membayar biaya pengobatan ibunya. Alea bukan hanya pencari kerja; dia adalah tulang punggung keluarganya. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun yang lalu, dan sejak itu Alea mengambil alih semua tanggung jawab keluarga.
Sambil menunggu bus, Alea merenung sejenak. Ia mengingat kembali percakapan dengan sahabatnya, Dita, beberapa hari yang lalu.
"Alea, kenapa kamu nggak coba pekerjaan apa saja dulu? Yang penting ada pemasukan," saran Dita.
Alea menggeleng. "Aku butuh pekerjaan yang stabil, Dit. Yang bisa bantu biayain ibu juga."
Bus datang, mengganggu lamunannya. Alea segera naik dan mencari tempat duduk. Di perjalanan, ia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan untuk mengulang poin-poin yang sudah ia siapkan untuk wawancara hari ini. Tangannya agak gemetar ketika memegang ponsel tapi ia segera menggenggamnya erat.
Akhirnya bus berhenti di depan gedung kantor yang ia tuju. Alea turun dan berdiri di depan bangunan tinggi. Gedung itu tampak megah, dengan kaca-kaca besar yang memantulkan sinar matahari pagi. Alea merasakan jantungnya berdebar kencang.
Ia melangkah masuk, menuju meja resepsionis. "Selamat pagi, saya Alea. Saya ada jadwal wawancara jam sepuluh," ujarnya sopan.
Resepsionis, seorang wanita dengan rambut terikat rapi, tersenyum dan memintanya menunggu di ruang tunggu. Alea duduk di kursi, merasa waktu berjalan lambat. Setiap detik terasa seperti satu menit, setiap menit seperti satu jam. Akhirnya, seorang pria berjas keluar dari ruangan dan memanggil namanya.
"Silakan, Ibu Alea," katanya.
Alea berdiri, mengambil napas dalam-dalam dan memasuki ruangan. Di dalam ada seorang wanita paruh baya dengan wajah serius yang duduk di balik meja.
"Selamat pagi, Alea," sapanya.
"Selamat pagi, Ibu," balas Alea, berusaha terdengar percaya diri.
Wawancara dimulai. Pertanyaan demi pertanyaan datang dengan cepat, Alea pun menjawab sebaik mungkin. Ia menjelaskan pengalamannya, kemampuan yang dimiliki, serta motivasinya untuk bekerja di perusahaan itu.
Namun di pertengahan wawancara, sang pewawancara berhenti sejenak dan menatap Alea dengan pandangan penuh arti.
"Kami tertarik dengan semangat Anda, Alea. Namun, kami ingin tahu apa yang membuat Anda sangat membutuhkan pekerjaan ini?" tanya wanita itu.
Alea terdiam sejenak. Ada rasa malu, ada pula rasa putus asa yang perlahan menggerogoti hatinya. Tetapi ia tahu jika ia tidak jujur, kesempatan ini bisa saja hilang.
Dengan suara bergetar, Alea menjawab, "Ibu saya sakit dan saya adalah satu-satunya orang yang bisa menghidupi keluarga. Saya ingin memberikan perawatan terbaik untuk beliau. Saya butuh pekerjaan ini untuk itu."
Sang pewawancara mengangguk, seolah memahami beban di balik kata-kata Alea. "Kami akan mempertimbangkan jawaban Anda, Alea. Terima kasih sudah datang."
Alea tersenyum kecil, mengucapkan terima kasih dan meninggalkan ruangan. Kakinya terasa lemas saat berjalan keluar.
Wawancara sudah selesai tetapi pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya justru semakin banyak. Apakah ia cukup baik? Apakah jujurnya tadi adalah keputusan yang tepat?
Di luar gedung, Alea berhenti sejenak, dan menengadah ke langit yang cerah. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba merasakan ketenangan yang mungkin diberikan oleh alam.
Langkah kakinya terasa berat saat berjalan menuju halte bus. Hatinya dipenuhi kekhawatiran dan harapan yang silih berganti. Namun satu hal yang ia tahu pasti, ia harus terus berusaha. Untuk ibunya, untuk masa depan mereka yang lebih baik.
Saat bus yang ia tunggu tiba, Alea masuk ke dalamnya. Menuju rumahnya yang kecil namun penuh kehangatan. Di dalam benaknya ia tahu mungkin ada banyak pintu yang akan tertutup, tapi ia juga percaya akan ada satu pintu yang terbuka. Satu pintu yang bisa membawa cahaya bagi hidupnya dan hidup ibunya.
Dan sampai saat itu tiba, Alea akan terus berjalan, langkah demi langkah, dengan harapan yang tak pernah padam.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Jurnal Alea
Literatura FemininaAlea seorang wanita pencari kerja yang menjadi tulang punggung keluarga
