Prolog

55 8 1
                                        

0.0
{Benang Merah}
_____________________

"Nantha? Jangan lepas talinya!"

Seruan gadis itu berhasil membuat pemuda bernama Nantha itu tersentak dari khayalnya. Kakinya dengan cepat mengikuti arus ke mana gadis berambut abu-abu gelap itu melangkah. Benaknya bertanya, siapa gadis itu?

"Lebih cepat, Nantha!"

Teguran halus itu lagi-lagi mengganggu pendengaran Nantha. Pancaran sinar raja siang mampu membuatnya melihat iris cantik milik gadis itu. Warnanya biru gelap, setenang lautan.

Nantha mengembang senyum tatkala si gadis melukiskan bulan sabit pada wajahnya. Tak pernah dirasa perasaan seindah ini di dalam hidup Nantha. Mungkinkah gadis itu adalah bidadari yang diturunkan Tuhan sebagai pendampingnya?

"Tha, Lebih cepat! Talinya bisa terlepas nanti." Pemuda beriris coklat itu menatap pergelangan tangannya. Entah kapan benang merah ini melingkar cantik pada pergelangan tangannya serta si gadis bergaun putih di depannya. Merasa seperti di dunia fantasi, Nantha dengan patuh menuruti apa yang dititah gadis itu.

Di tengah padang rumput yang luas, hanya ada mereka berdua di sini. Mungkin bilamana Nantha adalah seorang penyair, perjalanan waktu pada hari ini akan diabadikannya dalam larik-larik kecil syairnya.

Tanpa bertukar nama, keduanya mampu menikmati momen kecil ini dengan bertatap dan tersenyum. Tawa pun tak sesekali ikut mengudara, menghiasi kesunyian sepi dalam hidup masing-masing.

"Nantha! Ayo lebih cepat. Sebentar lagi kita sampai."

Nantha masih mengatur napasnya, sementara si gadis tanpa lelah terus mengayun kakinya dengan cepat. Mungkin tujuan mereka sebenarnya adalah pintu berbunga yang berjarak 1 km dari tempat.

Namun, entah mengapa, langkah kaki Nantha melambat, tak mampu imbangi langkah cepat gadis itu. Tinggal menghitung jari untuk sampai, Nantha malah terjatuh, kakinya seperti disandung oleh tali.

"Hei, tunggu sebentar!"

Seruannya tak didengar. Gadis itu membuka pintu dan hendak memasukinya. Benang merah yang tadinya terikat erat, kini hanya tertinggal di pergelangan tangan Nantha. Sedih membungkus hatinya mendadak. Senyuman gadis itu mampu merobek hati. Sepenggal kalimat terdengar, hanya mampu menjadi tangisnya di sini.

"Jangan pergi. Tetap di sini," pinta Nantha.

Seolah tak mendengar ucapan Nantha, gadis itu melengos masuk ke dalam pintu itu. Tertutupnya pintu itu membuat jatuh bendungan sungai yang tertahan. Nantha pun tak mengerti, mengapa ia menangis. Mengapa perginya gadis itu teramat menusuknya?

Seutas Tali Où les histoires vivent. Découvrez maintenant