Follow dulu sebelum membaca 👋👋
.
.
.
Cerita ini mengandung tentang kesehatan mental dari peristiwa traumatik yang menimbulkan efek pada psikis tokohnya (Ulya), jadi segala delusi, dan sikap yang rasanya tidak wajar harap dimaklumi :)
***
Di malam dingin di tengah bukit perkemahan, Sayhan merasa menggigil, memeluk dirinya sendiri sembari menggerutu.
Angin malam menerpa tanpa ampun, menyusup lewat celah tenda kemah. Kabut tipis merayap pelan di atas tanah lembap, dan satu-satunya cahaya yang tersisa hanyalah dari bulan yang menggantung pucat di langit malam, menemani bumi dengan sinar dingin.
Perkemahan pramuka yang diikutinya menjadi boomerang untuk dirinya sendiri, keputusan yang kini terasa seperti jebakan. Harusnya ia tidak usah untuk sok ikut.
Sayhan yang biasa menyebut dirinya sendiri dengan 'Ulya' diambil dari nama tengahnya menatap Rio sahabatnya, anak itu tampak lelap meski dingin terasa sampai ke tulang.
Mengambil ponsel dalam tasnya Ulya mendial nomor seseorang, tak lama benda pipih itu menyambungkannya pada seseorang yang sangat ia rindui meski hanya baru 2 hari tak bertemu.
"Mami....hiks Ulya mau pulang"
"Abang tahan ya sayang besok kan pulangnya?"
"Gak bisa mami, Ulya kedinginan, Uya gk bisa tidur"
"Sekarang abang baring mami nyanyiin sampe bobok ya"
Ulya merebahkan tubuhnya disamping Rio dengan meletakkan ponselnya di samping kanannya, tak lama mulai terdengar nyanyian sang mami.
Lagu twinkle twinkle little star yang dinyanyikan mami menjadi alunan lagu yang akhirnya membuat remaja laki-laki kelas 2 SMP itu akhirnya memejamkan mata.
Keesokan pagi yang bagi Ulya terasa begitu lama akhirnya datang, dimana hari ini adalah hari kepulangan dari Base Camping.
Membereskan semua peralatan dari tempat memakan waktu 4 jam lamanya ditambah dengan acara penutup.
Senyuman manis Ulya tak henti-hentinya mengembang karna akhirnya hari ini ia bisa pulang.
Ulya tidak pulang bersama teman-temannya dengan naik bus, karna mami dan daddy berjanji menjemputnya di tempat kemah.
Melihat mobil yang sudah tak asing baginya membuat anak itu bersorak riang disamping Rio.
"Seneng lu" ucap Rio melihat anak itu sedikit melompat-lompat, membuat rambut halusnya tuing-tuing.
"Seneng banget malah" balas anak itu dengan binar mata bahagia.
Ketika mobil daddynya berhenti didepannya anak itu langsung lari menghambur ke pelukan Bagas yang merupakan sosok dari ayah sambung nya.
"Daddy abang kangen" ucap anak itu dengan wajah yang menempel di dada Bagas.
"Baru juga 3 hari abang" goda sang daddy seraya mengelus rambut halus Ulya.
"3 hari tapi abang gk bisa tidur nyenyak"
"Setelah ini abang bisa tidur sepuasnya dirumah"
Ulya sedikit menjauhkan dirinya dari Bagas ketika atensinya menemukan dua adik kembar yang ia rindukan.
"Hanan, Hagan, abang kangen" Ulya memeluk adik kembarnya sekaligus, membuat yang dipeluk terkekeh.
"Cama Hanan uga angen ma abang" balas Hanan dengan aksen cadelnya yang menggemaskan.
"Hegan uga" balas si adik kembar tak mau kalah.
"Uluh uluh anak mami, sini"
Melepaskan pelukan pada si kembar Ulya langsung memeluk mami nya itu dengan mata berkaca-kaca. Sungguh wanita ini yang paling dirindui Ulya selama kemah 3 hari.
"Ayo pulang daddy udah minta izin tadi sama guru abang"ucap lelaki dewasa itu, yang tiba-tiba saja sudah ada dibelakangnya dan mami.
Memasuki mobil Ulya dan kedua adiknya duduk di belakang dengan posisi Hagan, Hanan, Ulya.
Disepanjang perjalanan keluarga bahagia itu saling bercerita tentang 3 hari yang membuat mereka tak saling jumpa. Hingga kabut dari area pegunungan tiba-tiba menebal membuat Bagas kesusahan melihat jalan.
Panik seketika menyerang semua orang yang ada di mobil termasuk Ulya. Apalagi ketika ia merasakan guncangan pada mobil. Dan semua gelap seketika.
YOU ARE READING
Sayhan Ulya Gemilang 🌙 (END)
FantasySayhan Ulya Gemilang harus merasakan trauma dari peristiwa tragis yang membuat nya kehilangan ibu beserta ayah sambung dan kedua adik kembar seibunya yang baru berusia 3 tahun. Kecelakaan tunggal yang menewaskan seluruh anggota keluarganya, menyi...
