bab 1

3 0 0
                                        

     Gerimis hujan membungkus kota malam itu. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sedangkan aku baru saja menyelesaikan pekerjaan rumahku dan bersiap untuk tidur. Baru saja mataku terpejam, suara gedoran  pintu membuat mataku kembali terbuka. Aku beranjak dari kasur, berjalan ke ruang tamu hendak membukakan pintu untuk Ayah yang memang sering pulang jam segini. Meskipun dua hari terakhir dia tidak pulang ke rumah.

Dok! Dok! Dok!

     Gedoran itu semakin keras terdengar. Membuatku semakin bergegas menuju pintu depan.

     "Keluar kamu!" Langkahku terhenti. Itu bukan suara Ayah. Untung saja aku belum membukanya. Aku bisa menebak bahwa mereka bukanlah orang-orang baik. Aku segera balik kanan, berlari masuk kembali ke dalam rumah.

     Aku mengambil paku payung dari dalam laci, lalu bergegas mematikan listrik rumah ini sehingga pandanganku menjadi gelap.

     "Segera keluar kau! Kami akan mendobraknya jika kau tidak segera keluar!" Teriakan dari luar masih terdengar.

     Aku tak peduli dan segera berlari ke arah pintu belakang. Tidak lupa ku taburkan paku payung yang kuambil tadi ke sekitar rumah. Setidaknya ini mampu menahan pergerakan mereka nanti.

BRAKK!

     Pintu rumah telah didobrak. Untungnya aku telah keluar melalui pintu belakang. Aku berlari dibawah siraman gerimis hujan, menjauhi rumah, juga menjauhi pemukiman warga. Astaga! aku tersadar jika aku mengambil jalan yang salah. Menjauhi pemukiman warga akan semakin berbahaya. Lihatlah, sejauh mata memandang tidak ada satupun bangunan yang terlihat. Hanya bentangan sawah yang luas juga beberapa pohon yang tampak lebat.

     Ingin rasanya aku berputar balik, tapi itu tidak mungkin. Karena itu sama saja dengan menyerahkan diri pada mereka, alias, mendekati mereka.

     Sepertinya gelapnya rumahku serta paku payung yang bertebaran dimana-mana cukup membantu. Buktinya tidak ada seorang pun yang mengejarku saat ini. Tapi aku harus tetap waspada dengan terus berlari menjauh, entah sampai kapan.

     Tidak lama, aku kembali menoleh ke belakang. Kali ini aku melihat ada dua orang bergaya layaknya preman tengah mengejarku dengan jalan sedikit terpincang-pincang. Meski begitu mereka tetap bisa berlari dengan cepat. Sepertinya itu hal yang biasa bagi mereka. Aku mempercepat langkahku, tanpa alas kaki mampu membuatku berlari lebih cepat dari biasanya. Apalagi dalam keadaan terdesak seperti ini. Rambutku berterbangan tertiup angin, sesekali poni rambutku menghalangi pandangan.

"Berhenti kau!" Teriak salah satu dari mereka.

     Kelenjar keringat mulai berkerja dengan cepat. Membuat keringatku bercucuran di seluruh tubuh, bersamaan dengan gerimis hujan yang mulai berubah menjadi deras. Malam semakin gelap nan larut, entah sudah berapa lama aku berlarian di sini. Seluruh tubuhku telah basah kuyup, napasku tersengal, hawa dingin mulai menusuk tulang rusuk.

     Aku mulai lelah, dua pria yang berada lumayan jauh di belakangku juga tampak lelah, akan tetapi mereka tetap tidak menyerah.

     Sampai kapan aku akan terus berlari?

     Ku perhatikan sekitar, tetap tidak ada kemungkinan aku berhasil lolos dari kejaran mereka. Sejauh mata memandang masih tetap sama, tidak ada bangunan. Hanya ada pohon-pohon tinggi menjulang yang tiap helai daunnya menjatuhkan butiran-butiran air. Tapi setidaknya aku sudah melihat bangunan-bangunan tinggi yang masih sangat jauh dari posisiku.

     Aku benar-benar lelah, tenagaku sudah hampir sepenuhnya terkuras. Secepat apapun aku berlari, langkah dan tenaga mereka tidak sama sepertiku. Kakiku terasa begitu kram. Bahkan untuk merasakan sakit karena menginjak bebatuan dan kerikil saja, aku tidak sempat. Sepertinya ini sudah takdirku untuk tertangkap oleh mereka. Dibelakangku, kejaran dua pria itu semakin cepat, sedangkan langkah kakiku perlahan mulai melambat.

     Pada akhirnya aku akan tertangkap oleh mereka. Mau menyerah sekarang ataupun nanti, akan sama saja. Hanya akan buang-buang tenaga. Aku sudah lelah, batinku mulai memutuskan untuk berhenti berlari.

     Persis saat aku berhenti berlari, dari arah kiri sebuah cahaya terang datang menyilaukan mata. Tubuhku terpental kala sebuah mobil menghantam tubuhku. Kepalaku terbentur tanah, mungkin juga bebatuan. Aku tadi tidak sempat melihat jika ada mobil yang akan melintas tepat di depanku. Tubuhku lemas, kepalaku sakit, aku berbaring di tanah yang becek dengan cairan kental berwarna merah yang menetes dari kepala, juga beberapa bagian tubuhku yang terluka. Pandanganku perlahan kabur, menyisakan setetes demi setetes air hujan yang menerjang penglihatan, sebelum mataku benar benar terpejam.
Mungkin, ini sudah takdirku untuk tertangkap oleh mereka.

***

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 24, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DIA ADALAH AYAHKU Stories to obsess over. Discover now