[WARNING KEKERASAN!]❌📢
Kalau tidak suka yang berbau kekerasan, sebaiknya tinggalkan lapak ini.
Tapi kalau menyukai berbau misteri maka jangan harap bisa keluar lagi.
-----
Sera membuka matanya, sinar matahari yang masuk dari jendela membuat ia sedikit mengernyitkan kening. Bau obat yang begitu khas, khas akan rumah sakit.
Sera mengangkat tangannya, dan menatap dengan malas selang infus yang terpasang di tangannya 'Rumah sakit lagi?' batinnya.
Air matanya luruh mengingat apa yang terjadi padanya. Perlakuan orang-orang yang ia kenal begitu merusak mental nya. Sera meringis merasakan perih di lengannya, luka yang ia dapat dari orang-orang yang begitu tega menyiksa dirinya.
"Alhamdulillah non Sera sudah sadar" Ucap mba ning, orang yang mengasuh Sera. Perempuan berumur 45 tahun itu tampak bahagia, ia memencet tombol di samping ranjang untuk memanggil dokter.
Sera tersenyum, seperti biasa hanya Ning yang menyambutnya. Jangan tanya dimana kedua orang tuanya. "Sera pingsan lagi ya mba?"
"Iya, non kalau sakit bilang atuh. Mba khawatir tau" Sera tersenyum tangannya menggapai tangan mba ning. "Maaf ya mba, aku juga tidak tau kalau sampai pingsan, aku rasa hanya demam saja"
Dokter datang bersama perawat. Mba ning keluar dari kamar. Tersisa dokter, perawat dan Sera.
"Lagi Ser?" Sera mengangguk pelan, menjawab pertanyaan dokter cantik, Bella namanya.
"Kenapa kamu tidak membalas perbuatan mereka? Kamu tidak bisa begini terus sera, mereka harus kamu laporkan ke pihak berwajib" Omel bella setelah memeriksa Sera. Ia mengambil catatan yang diserahkan oleh perawat dan membacanya.
"Aku tidak bisa kak, mereka teman-temanku"
"Hahaha tidak ada teman yang seperti itu, sadar sera. Kalau kamu tidak mau melaporkan mereka biar kakak saja. Kaka bisa mengambil visum dari luka kamu, itu bisa menjadi bukti yang kuat" Ucap bella dengan bersemangat.
"Tidak kak, biar ini menjadi urusanku. Apa aku bisa pulang hari ini?" Ucap sera berusaha mengalihkan pembicaraan.
Bella berdecak kesal. Karena terlalu sering masuk rumah sakit, ia jadi mengenal Sera. Dan saat di rumah sakit hanya ada ning yang menemaninya. Bella tidak pernah melihat kedua orang tua Sera.
"Besok kamu bisa pulang" Bella mengusap kepala Sera. "Kalau kamu perlu bantuan kakak untuk melaporkan mereka, katakan saja. Kakak menyimpan bukti visum kamu"
Sera tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih"
Setelah bella dan perawat pergi, ning kembali masuk. "Non, mba sudah mengabari tuan dan nyonya, mereka akan pulang besok pagi".
"Benar mba?"
Mba ning mengangguk bersemangat. Walaupun perjalanan bisnis kedua orang tua Sera belum selesai setidaknya mereka bisa pulang sebentar untuk melihat anaknya. Ning merasa ikut bahagia, sebab sudah 1 tahun lebih kedua majikannya itu tidak pulang. Ia juga kasihan melihat Sera yang terlihat sangat merindukan kedua orang tuanya.
"Bener, tadi mba ning yang telfon. Karena besok tuan dan nyonya pulang non harus cepat sembuh, sudah masuk jam makan siang, non mau makan apa?"
"Aku tidak mau makan makanan rumah sakit ya mba, hambar"
"Oke siaap"
"Aku mau makan sate taichan"
"Yasudah mba keluar ya sekalian nebus obat"
"Iyaa"
Setelah mba ning pergi, Sera berusaha bangun. Ia melirik ke arah ponselnya. Ia tidak berani membuka ponsel itu, selain terror yang sering ia dapatkan mungkin saat ini ia pasti sedang di hujat habis-habisan. Sera memeluk lututnya, menangis dalam diam.
YOU ARE READING
ALIBI
Random[WARNING BULLYING!!] Bullying yang terjadi di anggap hal yang biasa, baik bullying Verbal maupun non Verbal. orang-orang hanya menganggap hanya candaan saja, candaan yang hanya lucu bagi pelaku namun kerusakan bagi korban. 12 orang di salah satu Uni...
