Anak Kebanggaan

6 0 0
                                        

Kirana dari bagaskara pelan-pelan mengabu saat mega menurunkan derai hujan ke bentala. Kerja kelompok yang mengharuskan mereka berada di luar ruangan kini berakhir di dalam rumah menunggu hujan berubah menjadi rinai saja.

Dua insan yang duduk di sofa empuk berwarna hitam itu duduk bersebelahan melepas penat seusai mengerjakan tugas ini. Hujan yang membuat hati menjadi sendu diawali dengan pertanyaan yang dilontarkan perempuan itu kepada temannya, “Enak ya, punya kakak?”

Pertanyaan itu bukan bermaksud ingin mencari tahu, namun lebih ke ingin memastikan. Laki-laki berkaos hitam itu melirik temannya tanpa menoleh dan membiarkan hening menyelimuti mereka sebentar. “Kenapa bisa bilang begitu?”

Perempuan itu membalas menurut sudut pandang yang diakui banyak orang, “Soalnya kalau ada masalah pasti bisa cerita ke saudaranya. Meskipun berantem, tapi bentar lagi akur juga kan?” Sang cowok membawa bola matanya menatap langit-langit yang dihiasi lampu gantung keemasan.

Rupanya perempuan itu belum selesai bicara. Ia kembali melanjutkan pembicaraannya, “Kalau semata wayang rasanya sepi. Apalagi pas BoNyok pergi, gue ngerasa tambah sepi.” Laki-laki itu dapat merasakan kesedihannya meski sedang tak menatap kedua mata perempuan itu.

“Gue ngerti perasaan lo. Karena...”

~*~

Panas matahari menusuk sampai ke kulit sekujur tubuhnya saat berada di dalam rumahnya sendiri. Pendingin ruangan yang dihidupkan pada siang ini tidak memengaruhi apa pun saat ibu-ibu komplek berkumpul di sini melaksanakan arisan. Bukan soal jumlah mereka yang banyak, namun ucapan mereka mengandung zat besi yang mematahkan hati orang yang mendengarnya.

“Aduh, zaman sekarang bukan lagi tentang anak cowok yang lebih keren daripada anak cewek. Tapi anak mana yang bisa kasih kita uang. Percuma banggain anak cowok kalau dia nggak punya apa-apa,” ujar Ibu RT yang memakai kacamata tebal berwarna hitam dan selalu identik dengan konde-nya.

Laki-laki berumur 17 tahun yang sedang duduk di dekat mereka menatap ibu itu dalam diam. Hatinya yang sedang baik-baik saja seolah dihujani panah api dari ibu itu karena perkataannya barusan.

“Setuju, Bu. Mana zaman sekarang anak cewek lebih sukses daripada yang cowoknya. Jangan terlalu membanggakan anak cowok, Bu Byankha. Nanti malah keenakan terus Ibu sendiri yang susah,” timpal ibu tetangga yang lain.

Jika ada orang yang pernah bilang lebih baik ngomong di depan langsung daripada ngomong di belakang, sepertinya lebih baik ngomong di belakang saja. Karena ini terlalu menyakitkan. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya kepada ponsel pintarnya dan memilih untuk tidak mengindahkan mereka.

Tidak lama dari itu, terdengarlah suara hentakan sepasang sandal yang mengalahkan suara ceriwis ibu-ibu komplek sehingga semua mata memandang kepadanya. Gadis berkaos coklat muda yang dipadukan dengan celana kargo selutut itu berhasil mencuri perhatian ibu-ibu komplek karena kehadirannya.

“Akhirnya Alea muncul! Halo, Alea,” sapa Ibu RT dengan menampilkan barisan giginya yang putih. Tidak lupa untuk fokus ke warna merah bibirnya yang tebal itu. “Iya, Ibu.” Senyum sang kakak menyapa seluruh ibu-ibu yang berada di rumah ini.

“Alea mau belajar bareng sama Gavin, nggak? Kan udah mau UTBK. Siapa tahu dari belajar bareng bisa jadi hidup bareng, HUAHAHAHAA...” Mendengar itu, Kak Alea pun memerah karena dijodohkan dengan Anak RT oleh ibunya langsung.

“Ibu bisa aja,” balas Kak Alea sambil membalikkan badannya untuk pergi ke dapur. Di sini laki-laki itu hanya bisa melihat sang kakak dibangga-banggakan oleh satu komplek dari prestasi dan kepintarannya. Sementara dirinya hanya mendengar sindiran langsung dari mulut mereka karena tidak ada yang dibanggakan dari dirinya.

Laki-laki itu menoleh ke arah lemari besar dekat ruang tamu dimana di situ berjejer 24 piala kakaknya yang berhasil diraih dari TK. Bagaimana Kak Alea tidak dibanggakan jika melihat isi lemari ini?

~*~

Ina yang baswara sudah terbit di nabastala. Tandanya umat manusia sudah bangun dari tidurnya mempersiapkan aktivitas sepanjang hari ini. Salah satu rumah mewah di Komplek Kenari ini sudah terdengar suara ramainya.

Empat insan yang duduk saling berhadapan itu menikmati sarapan paginya tanpa asisten rumah tangga karena izin bekerja. Maka ibu yang dari tadi menyetrika lantai dengan sepasang sandalnya untuk mempersiapkan makanan keluarganya dan mengurusi rumah ini.

“Alea, Budi,” panggil ibu kepada kedua anaknya. Ya, nama laki-laki itu Budi. Sebenarnya namanya Bulan Diego. Tetapi sejak kecil, Alea memanggil Bulan Diego dengan menyatukan penggalan kata paling depan setiap nama adiknya.

“Mami sama Papi mau pergi besok selama 2 hari. Bisa jaga rumah dengan baik? Bibi belum pulang soalnya.” Budi terdiam menatap ibunya usai mendengar info itu. Berdua di rumah dengan kakak yang galak, judes, dan tidak menyayangi adiknya bak tinggal memelihara Si Raja Hutan di rumah. Kudu nyiapin mental selama 2 hari.

“Mami sama Papi kerja?” tanya Budi dengan lirih. “Iya, Sayang. Kami ada seminar di Manado. Tapi kami usahakan cepat pulang, ya.” Kini ibu menatap kakak yang sedang mengunyah roti buatannya dan memberi perintah kepadanya. “Kakak, tolong siapin makanan, masak, cuci baju, siram bunga Mami, isi air, dan beres-beres rumah. Udah Mami ajarin waktu itu caranya gimana,” perintah ibu yang membuat kakak diam saja menatap ibunya.

“Oh, iya.. Gimana, Kak? Udah punya pacar belum?” tanya ayah yang membuat bola mata Alea kini bergeser ke pria 48 tahun yang mengenakan kemeja merah mudanya beserta dasi hitam panjang yang menutup kancing bajunya.

“Kenapa Papi nanya begitu?” tanya Alea tidak langsung menjawab. “Ya, kamu kan udah kelas 12. Kamu harus segera menikah, Kak Alea. Apa kerja kamu kalau kamu belum menikah nanti?” jawab ayah yang bau-baunya akan memancing perdebatan lagi pagi ini.

Dari raut wajahnya, Alea sudah tidak mood lagi satu hari ini. “Aku bilang aku nggak mau nikah, Papi. Aku mau kuliah dan kerja,” jawab Alea dengan meninggikan nada bicaranya.

“Kamu yang bayar kuliahnya, ya. Papi nggak mau bayarinnya,” tukas ayah yang membuat Alea seperti menahan emosinya kepada ayah saat ini. Ia terlihat berusaha menguasai dirinya sendiri. “Aku nggak nafsu makan.” Alea berdiri dari duduknya lalu pergi dari dalam rumah mengambil tas sekolahnya.

Budi menoleh ke belakang untuk menatap punggung kakaknya yang menjauh dari hadapannya dan langkahnya sudah memasuki mobil putih. Sementara itu, ia melihat ayah dan ibunya kembali melanjutkan makan seolah tidak ada masalah di antara mereka.

“Budi, kamu gimana kuliahnya nanti? Udah tahu mau pilih jurusan apa?” tanya ayah penasaran. Matanya berbinar saat membicarakan ini dengan Si Bungsu. Namun Budi sama sekali tidak bisa menjawab karena belum menemukan identitas diri sendiri. Rasanya ingin sekali membicarakan tentang jati diri dengan Kak Alea yang lebih dewasa daripadanya. Namun Kak Alea adalah momok yang menakutkan. Ia tidak berani berbicara dengan perempuan 18 tahun itu.

It’s okay. Sambil jalani rutinitas kamu, pikirin baik-baik untuk kuliah nanti, ya.” Nada bicara ayah untuk putra kebanggaannya memang lebih lembut dari pada untuk kakaknya. Budi menganggukkan kepalanya sebagai respon.

~*~

Mobil putih yang memiliki model pintu geser itu sampai di depan gerbang sekolah untuk menurunkan sepasang manusia. Kakaknya sudah duduk di kelas 3 SMA, namun adiknya selisih satu tahun dibawah kakaknya. Mereka berdua adalah kakak beradik yang tidak pernah dilihat akur oleh satu sekolah.

Seperti saat ini mereka hendak turun dari mobil. Alea menggeser pintu mobil untuk turun, maka Budi membuntutinya dari belakang. Namun saat Alea sudah turun duluan, ia segera menutup pintu mobil itu sementara Budi masih di dalam mobil. Sambil menghela nafasnya, Budi membuka pintu itu dan turun dari mobil.

Bapak supir pribadi mereka sudah terbiasa dengan kelakuan mereka berdua. Jadi masalah kali ini bukanlah masalah serius. Sempat terlintas juga dalam benak supir tersebut, Mengapa ada kakak adik yang berantem serius seperti ini di usia muda? Bagaimana kalau nanti sudah berkeluarga?

~*~

bersambung

STORGE LOVEKde žijí příběhy. Začni objevovat