Sepia Nadir Agasthya

7 0 0
                                        

Di bawah pepohonan rindang yang menjadi tempat favoritnya, Agasthya merasa hidup. Buku dan pena adalah napasnya, imajinasi adalah dunianya, dan tokoh-tokoh ciptaannya adalah sahabat terbaiknya. Setiap hari, ia menulis kata demi kata dengan tinta hitam, lembar demi lembar berisi apapun yang ingin ia utarakan. Laptop dan keyboard adalah pelengkap hidupnya, sementara headphone dengan musik favorit selalu mengapit telinganya.

Namun, ada hal yang mengusik ketenangan Agasthya. Kicauan burung yang bersenandung saat terbang melintasi pepohonan, suara klakson, dan makian di jalanan saat ia pulang dari "Basecamp"-nya, semua itu membuatnya risih. Agasthya lebih senang tenggelam dalam keheningan, betah dalam kebisuan, dan suka dengan dunia tulisannya yang damai. Di dalam kepalanya, selalu ada satu nama yang berputar, Arjuna. Arjuna adalah teman sekelasnya, yang bagi Agasthya, mustahil untuk sekadar menjadi teman bicara. Arjuna selalu mampu menarik perhatian semua orang di sekitarnya dengan keaktifan berorganisasi dan pesonanya. Meskipun wajar bagi anak kelas satu SMK untuk nekat mencintai lawan jenis, Agasthya memilih diam dengan cintanya. Ia memilih hening bersama cemburu dan rasa sakitnya.

Pada suatu hari yang cerah, Agasthya memberanikan diri menuliskan surat pengakuan cintanya. Dengan tangan gemetar, ia menyelipkan surat itu ke dalam buku yang selalu dibawa Arjuna. Keesokan harinya, Arjuna menemui Agasthya di bawah pepohonan rindang, tempat favorit Agasthya.

"Terima kasih, Agasthya. Aku menerima pengakuan cintamu," kata Arjuna dengan lembut. "Namun, maafkan aku. Aku hanya mencintai satu orang, dan itu bukan kamu. Aku harap kita bisa kembali berdamai dan menjadi teman, menjadi dua orang asing yang bisa berbincang tentang berbagai topik seru. Maafkan aku, Agasthya, aku hanya mencintai dia."

Mendengar itu, hati Agasthya terasa hancur, namun ia tersenyum. Meski cintanya tak terbalas, setidaknya ia telah berani mengungkapkannya. Mereka kembali menjadi teman, meski ada jarak tak terlihat di antara mereka. Agasthya memilih berdamai dengan perasaannya, tenggelam dalam keheningan, dan kembali ke dunia tulisannya yang damai.Di bawah pepohonan rindang itu, Agasthya terus menulis, mengisi lembar demi lembar dengan cerita baru, membiarkan imajinasinya terbang tinggi. Ia tahu, di dunia tulisannya, ia bisa menciptakan akhir yang bahagia, meski kenyataan tidak selalu demikian.

Tangerang Selatan, 04 Juni 2024.

Senandung GulanaStories to obsess over. Discover now