Suatu Entitas

4 0 0
                                        

Awalnya aku hidup bahagia bersama dengan Bibi Moe dan adik kecil perempuanku bernama Riri. Kami memang bukan lah satu keluarga yang utuh, bahkan aku sendiri bukan darah kandung Bibi Moe, tapi beliau menyayangi ku dan merawat diriku dengan baik seperti anaknya sendiri.

Kampung halaman ku adalah tempat yang begitu damai dan tentram, tidak ada suara teriakan dan suara orang berkelahi, tidak ada orang-orang yang suka mengumpat, kami semua berbahagia tinggal disini. Aku sangat bersyukur dan berharap kebahagiaan ini tetap ada. Tapi kenyataannya semua itu tidak bertahan lama, suatu kelompok entah-berantah darimana datangnya dan mereka memiliki tujuan apa—aku pun tidak mengerti—merampas kebahagiaan kampung kami. Itulah yang bisa aku simpulkan.

Belakangan ini Bibi Moe sering menampakkan wajah gusar dan bingung, kadang dia berjalan berputar di rumah kecil ini yang dindingnya terbuat dari semen dengan tanah liat. Beliau pada akhirnya memberitahu bahwa aku harus segera pergi dari kampung ini. Bagaimana mungkin? Ini adalah kampung dimana aku, bibi, dan adik kecilku tinggal. Tidak ada tempat tinggal lain selain ini. Hal tergila nya Bibi Moe menekan diriku untuk segera pergi dari rumah hari ini tanpa dirinya dan adik perempuan ku yang sangat aku sayangi, Riri. Tidak mungkin. Aku bahkan tidak akan melakukan itu, ada apa dengan Bibi Moe? Ternyata Bibi Moe begitu khawatir pada suatu kelompok yang bahkan aku masih belum percaya apa itu asli. Aku menolak Bibi, aku akan melakukan sesuatu yang Bibi Moe inginkan asalkan aku bisa tinggal bersama mereka selama satu minggu. Bibi pun setuju, hingga aku bisa tinggal bersama mereka selama satu minggu, tentunya supaya Bibi mengerti bahwa tidak perlu terlalu khawatir akan hal tentang entitas tersebut.

Tiga hari sudah terlewati serta banyak hal mengganjal yang aku sadari, hilangnya tetanggaku satu-persatu. Aku masih bersikukuh dan berpikir positif, mungkin warga kampung ku mulai pergi karena mudik dan akan kembali lagi. Bahkan aku memastikan gestur tubuh bibi—tidak ada yang sama—kegelisahan beliau semakin bertambah dari hari sebelumnya. Sebenarnya aku juga mulai khawatir jika terjadi hal buruk, tapi aku tidak ingin melakukan tawaran bibi yang begitu sulit untuk dilakukan.

Setiap hari aku membantu bibi dan juga bermain dengan Riri. Keesokan harinya, tetangga di samping kanan-kiri dan belakang mulai tidak terlihat batang hidungnya, entah kemana dan aku masih abai serta menepis perasaan tidak mengenakkan.

"Bu Moe saya izin pergi, selamat tinggal Azera dan Riri," Wanita berjaket coklat tua itu melambaikan tangan, dia tetangga kami. Aku tersenyum masam dan ikut melambai bersamaan dengan Riri yang girang menimpalinya. Beliau bukan pergi untuk mudik, aku bisa melihat jelas di wajahnya, sangat jelas. Aku bukan lagi anak kecil yang tidak tahu suatu kebenaran. Beliau terpaksa pergi, tapi kenapa? Ini menjadi suatu pertanyaan yang besar untuk diriku. Sebelum pergi, Nyonya Nanda berbincang dengan BiBi Moe menggunakan volume yang kecil sampai aku tidak dapat mendengar perbincangan mereka.

Sore ini kami semua berada di rumah sampai menjelang malam tiba, tidak ada percakapan antara aku dan Bibi Moe, hanya saja Riri terus mengajak aku bermain tepuk tangan. Saat waktu tidur tiba, aku masih belum bisa memejamkan mata, aku sangat khawatir dan gelisah, aku juga merasakan takut yang rasanya asing. Kupandang wajah Riri yang terlelap. Dia sangat kecil dan imut, umurnya baru beranjak lima tahun, aku takut jika sesuatu terjadi pada adik perempuan ku. Kupeluk tubuh kecilnya dan mulai ikut terlelap.

Pagi ini adalah hari ke lima, dimana kampung benar-benar senyap dan terlihat mati, tapi masih ada beberapa orang hanya saja buka orang yang kami kenal. Pagi ini aku membantu Bibi Moe memasak sarapan dan membantu hal yang lain. Setelah itu, melakukan rutinitas lainnya dengan Riri yaitu bermain. Setelah bermain aku belajar sejenak, hingga di waktu antara siang dan sore Bibi Moe berbicara secara intens denganku. Tentunya pembicaraan itu membuat pikiranku bingung dan perasaan ku sedih. "Azera, harus segera pergi dari kampung sekarang, Bibi khawatir sama kamu, bibi takut terjadi sesuatu sama kamu." Aku mendadak lesu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 11 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Dunia AzeraStories to obsess over. Discover now