Happy reading (。'▽'。)♡
Jangan baca doang lupa Vote dan Komen♥
.
.
.
.
Normal pov
Sebuah tempat yang dulunya adalah padang rumput yang hijau nan indah, kini ternodai oleh genangan genangan darah dan mayat manusia yang tak lagi bisa dikenali.
Perang.. Sebuah tindakan yang merupakan kesia sian. Ribuan, tidak..tetapi jutaan jiwa manusia dan makhluk lainya yang mati sia sia dalam pertarungan yang mereka angap sebagai cara bertahan hidup.
Rintikan air mulai turun membentuk hujan seolah, alam pun bersedih atas kematian sia sia mereka. Namun bagi mereka yang dapat mendegar suara alam.
Yang ada hanyalah rintihan kesengsaraan dan keputusan saat alam itu sendiri, ternodai oleh kekejaman dan dosa para manusia akibat keserakahan mereka sendiri.
Padang rumput yang dulunya indah dan subur.. Kini telah berubah menjadi medang perang dimana darah ditumpahkan.
Tempat dimana, tidak ada satupun jiwa atau nyawa yang berharga. Tidak peduli lawan atau kawan yang ada hanyalah, harapan palsu untuk hidup dan kemenangan.
Jiwa jiwa para korban perang yang kini seolah olah meraung kesakitan dan berkeliaran tampa tujuan. Mencari apa arti dari perang yang telah merengut kebebasan dan nyawa mereka.
Jeritan ketakutan, kesakitan, penderitaan dan keputusan yang memekakan telinga tersebar diseluruh tempat dimana sejauh mata memandang.
Hanya ada kematian.. Dan harapan palsu bagi mereka yang sekarat menungu akhir dari kehidupan menyedihkan yang telah mereka jalani.
Dan ditengah medan perang itu, diantara mayat dan kobaran api merah yang membakar habis sisa sisa tubuh manusia yang seolah tak ada harganya.
Seorang pemuda bersurai coklat kehitaman dengan beberapa helai rambutnya putih terduduk diam sambil mendekap tubuh dari pemuda lain.
Pakaian hitam pemuda itu kini basah akan darah. Namun..darah itu bukan miliknya, tetapi milik musuh yang ia bunuh dan pemuda berambut putih dengan sejumput surainya berwarna hitam yang sedari tadi di dekapnya.
Hanya ada keheningan disekitar mereka, kecuali suara derak api dan nafas memburu namun lemah pemuda bersuarai putih itu.
Dua pasang manik berwarna coklat yang kini memancar cahaya mereh redup yang berbahaya tampak begitu mati saat ia menatap kosong pada luka menganga di perut pada tubuh dipelukanya.
Cairan hitam yang merupakan racun kini mengalir keluar bersama darah dari lukanya, saat pemilik tubuh kini semakin melemah dalam pelukan pemuda bersurai coklat itu.
Maniknya yang semerah genangan darah disekitarnya, kini semakin redup kala ajal akan segera menjemput. Dengan begitu maniknya kini menatap manik coklat pemuda lain.
Pelukan pemuda itu semakin erat saat mata mereka akhirnya bertatapan, membuat pemuda berambut putih itu terkekeh lemah.
Senyuman lembut namun lemah mulai terbentuk dibibirnya yang menjadi merah karna darahnya sendiri yang ia muntahkan, saat ia dengan susah payah mengangkat tangan kirinya.
Dengan lemah ia menangkup wajah pemuda yang memeluknya erat itu, jari jemarinya dengan lembut mengusap wajahnya saat ia mencoba berbicara.
"Apa.. Kau mau ber-janji.. Padaku, bahwa kau akan.. Hah.. mencari..da n mengingat ku..Di-kehidu..pan selanjutnya..."
Ucapnya dengan susah payah saat setiap kata yang ia ucapkan seolah membuat seluruh tubuhnya ditusuk oleh ribuan pedang tak kasat mata.
Manik coklat didepanya bergetar sesaat sebelum sebuah tangan yang sedikit lebih besar dan kasar dari miliknya menahan tanganya untuk tetap berada pada sisi wajah pemuda bersurai coklat itu.
Pemuda bersurai coklat itu dengan lembut mengecup telapak tanganya yang kini telah mendingin seiring berjalanya waktu.
Manik coklatnya tak pernah mengakihkan pandanganya sedetik pun dari pemuda berambut putih itu... Seolah ia takut bahwa orang dalam dekapannya itu akan mengahilang begitu ia berpaling sedetik saja.
"..Aku berjanji.."
Pemuda itu tersenyum untuk terakhir kalinya, sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya kala jiwa malangnya meningalkan tubuhnya yang fana.
.
.
.
.
"..Hah!.. Hah...mimpi apa itu barusan.."
Ditempat yang berbeda, tepatnya pada sebuah kamar seorang pemuda berambut coklat kehitaman dengan sedikit rambutnya berwarna putih terduduk diam di tepi kasurnya dengan nafas yang memburu.
Wajahnya menjadi pucat pasi saat keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya terutama wajah dan tangan.
Tubuhnya menengang saat ia mengingat mimpi yang baru saja ia alami. Tempat itu, wajah dari orang dipelukanya yang bersimbah darah itu.. Terlihat familiar sekaligus, asing baginya.
Dia tak bisa benar benar mengingat siapa pemuda itu dan kenapa, dia bermimpi tentangnya terlebih.. Ditengah tempat yang terlihat seperti medan perang.
Bayangan tentang apa yang di ucapkan pemuda berambut putih dalam mimpinya itu kini muncul kembali.
"Apa.. Kau mau ber-janji.. Padaku, bahwa kau akan.. Hah.. mencari..da n mengingat ku..Di-kehidu..pan selanjutnya..."
"Siapa sebenarnya dia.. Dan kenapa aku merasa seperti, aku melupakan sesuatu yang sangat penting.."
TBC.
YOU ARE READING
fell in love with my enemy {[BoyRev]}
Mystery / ThrillerBeberapa orang mengatakan jangan terlalu membenci seseorang yang baru kita kenal. Karna terkadang ungkapan rasa benci menjadi cinta itu ada benarnya. Lagi pula itu ada benarnya, tekadang kita membenci seseorang yang bahkan kita tidak tahu kehidupan...
![fell in love with my enemy {[BoyRev]}](https://img.wattpad.com/cover/369563471-64-k991939.jpg)