Hujan turun sangat deras,beribu ribu tetesan air membasahi aspal,kilatan petir di malam yang gelap itu saling menyambar, membuat jalanan serasa makin menyeramkan, jalan utama kota yang awalnya ramai oleh deruan mesin mobil mulai menyepi, seorang gadis cantik dengan menggunakan dress pendek putih dan membawa sepasang hills tinggi di kedua tangan nya berlari dengan langkah gontai, kaki jenjang cewek itu mulai melemah, air mata nya mengalir bersamaan jatuh ke bumi, mengikuti tetesan hujan, kelopak mata lebar yang ia miliki terlihat sembab, cewek itu menatap jalanan dengan mata sendu,karaneta analira verdan, dengan kaki memerah akibat terlalu lama berjalan tanpa alas kaki cewek itu bersimpuh di atas aspal kasar hitam "Argh!!!" Teriaknya meluapkan semua rasa sesak yang ia rasakan, cewek itu menangis dengan bibir kecil merah muda yang bergetar. " Aku benci kamu Tan!"ucapnya pelan, cewek itu menggigit bibir nya, mengutuk dirinya berkali kali ketika mengingat kelakuan Tristan dengan kupu kupu malam di bar tadi,netta menangis sesenggukan untuk pertama kalinya,hawa dingin kota menyerbu tubuh nya yang basah, kepala nya terasa sangat berat, karena mungkin dia terlalu banyak minum malam ini, mata nya tertunduk menahan rasa sakit yang menjalar di kepala nya. "Bromm" suara deruan mobil sport hitam mendekat dari kejauhan dengan kecepatan penuh, seorang cowok dengan mata tajam mengenakan jaket hitam dan topi di kepala nya menancap gas mobil dengan kecepatan tinggi, mata tajam cowok itu terbelalak ketika menyadari seseorang perempuan berada di tengah jalan raya sepi itu saat mobil sport nya melaju dengan kecepatan tinggi.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Ciiiitt!!!", suara deruan rem terdengar bising cowok itu menginjak rem dan berhenti secara tiba-tiba, "Jlebb!" Spontan lampu mobil menyala membuat netta yang mabuk mendongak dan menutupi wajah dengan telapak tangan nya karena silau. " Sial!! " Umpat cowok itu memukul setir dengan emosi, bagaimana tidak, hampir saja dia menabrak cewek itu cowok berbadan kekar itu melepas sabuk pengaman lalu keluar dari mobil dengan membanting pintu dengan kasar, menerobos hujan menghampiri cewek itu dengan luapan emosi. " Bangun!" Ucap cowok itu menarik tangan netta dengan kasar, cowok itu mencengkram tangan netta menatap nya dengan tatapan tajam. " Lo buta!!!" Umpat cowok itu kesal," oh, atau Lo udah bosen hidup? , Lo mau mati hah!" Netta menatap cowok kekar itu sendu, cewek itu merasa pening, entah mengapa kepala nya terasa semakin berat, netta ingin membalas perkataan kasar yang di ucapkan cowok itu , tapi penglihatan nya tiba-tiba memburam, kesadaran cewek itu mulai menghilang, samar samar dalam ketidak sadaran netta karena mabuk cewek itu melihat sosok yang sangat dia benci dalam diri cowok itu, seseorang yang membuat nya harus menangis seperti ini untuk pertama kalinya, karaneta benci, dia sangat benci melihatnya. " Lepasin tangan aku!" Ucap netta memberontak berusaha melepaskan cengkalan cowok itu. " Mata aku ternyata buta, karena aku bisa jatuh cinta sama kamu,bajingan, nggak punya hati, mungkin aku kemaren anggep kamu segala nya........" Netta menjeda ucapan nya sebentar menghapus air matanya dan tersenyum miring " tapi sekarang nggak,aku udah liat semuanya tadi, dan wow, kamu berhasil buktiin kalo, karaneta salah besar karena terlalu percaya dengan seorang Tristan aldegano". Devin abrian elvaro, cowok itu mengerenyitkan dahinya, pasalnya dia bingung, tak mengerti apa yang sebenarnya di maksud cewek ini, benar benar menyebalkan,El menghembuskan nafas kasar, " Apa maksud Lo?" Kesadaran karaneta benar benar hilang, cewek itu tersenyum miring, bukan nya menjawab pertanyaan El, wanita itu malah tangan nya ke leher cowok itu, membuat El semakin geram." Aku benci kamu Tristan!" Bisik cewek itu di telinga El, netta mendekat kan bibirnya ke telinga cowok itu,El terbelalak hebat saat merasakan gigitan di telinga nya, cowok itu spontan langsung mendorong tubuh netta yang kecil itu, Jujur, El jengkel dengan wanita di depan nya ini, netta menatap nya dengan wajah cemberut , elvaro menggeram melihat itu" sebenernya apa mau Lo?, gue bukan Tristan anjir!", cewek itu hanya tersenyum, netta kali ini menggerakkan tangan nya meraba wajah El, mata coklatnya menatap cowok itu sendu, Elvaro mengeratkan giginya emosi wanita ini benar benar membuat nya gila " Lo bener bener...." "Buk!" Ucapan cowok itu terhenti saat tubuh kecil wanita yang di depan nya jatuh secara tiba-tiba, dengan sigap elvaro menahan pinggang cewek itu, menjatuhkan karaneta ke dada bidang miliknya. " Shit!", merepotkan!" Umpat nya kesal, dengan tubuh kekar nya cowok itu menggendong tubuh netta, membawa nya ke mobil, ditengah hujan deras itu El menghembuskan nafas kasar, melirik tubuh cewek yang pucat itu tubuh nya kecil, berkulit putih dan ringan menurut El,baju netta basah kuyup, membuat tubuh nya transparan,El memalingkan wajahnya saat menyadari dada cewek itu membesung karena pakaian nya memang sedikit terbuka, mengingat dia adalah laki laki normal, bisa saja El kelepasan kapan saja bukan?, cowok itu membaringkan tubuh netta di bagian jok belakang mobil, saat El hendak menutup pintu, cowok itu menggeleng heran, kenapa wanita ini bisa memakai pakaian terbuka seperti itu?, El melepas jaket nya dan menutupi dada cewek itu, netta yang mabuk merasa terlihat tidak nyaman,El gelisah saat cewek itu menyentuh tangan kekar nya dengan sedikit mendesah. " Gue bisa nggak waras gara gara Lo sial!" Elvaro melepas tangan cewek itu dan segera beranjak dengan membanting pintu mobil sebelum akal sehatnya benar benar menghilang,El kembali ke jok depan, memasang sabuk pengaman, sekarang cowok itu benar benar frustasi, El mengambil handphonenya dan membuka Rom chat seseorang dan menghubungi nya. " Ada apa tuan?" Suara di seberang sana memulai percakapan, " Lo ke sini sekarang!" " apakah Tuan Di apartemen kota?" " Hm!" " Baik, saya ke sana sekarang!" " Ajak bibik Katrina!" " Tapi kenapa?, apa terjadi masalah?" " Nggak usah bacot!" " Baik tuan, saya segera ke sana!" " Hm!" El mengakhiri percakapan nya, cowok itu melirik gadis pucat yang terbaring di jok belakang melalui spion mobil, sebenarnya siapa cewek ini?, dengan pakaian terbuka seperti itu dimalam hari, mabuk di tengah jalan sendirian, bukannya itu sangat berbahaya?, el menghembuskan nafas kasar sebelum akhirnya menancap gas, menerobos hujan yang semakin deras menuju apartemen nya. *** Setelah cukup lama netta tak sadar kan diri, akhirnya cewek itu terbangun, netta merasa pusing,ia meraba dahinya, mata nya mengerjap heran, menyentuh kain yang tertempel di dahinya. " Kompres?, siapa.....," "Astaga.....!" Ucap nya kaget, netta segera bangkit dari posisi nya yang terbaring di balik selimut tebal putih, cewek itu mengamati sekeliling kamar besar rapih itu," ssh..!, dimana aku?" Gerutu nya bingung, netta merasakan sakit di seluruh tubuhnya, kepala nya terasa berat, dengan samar samar cewek itu berusaha mengumpulkan kesadaran nya, aneh, di mana dia sekarang?, kamar itu terlihat begitu luas, ranjang lebar dengan kasur yang empuk terasa begitu nyaman berseprai putih tebal,di lengkapi sofa empuk berwarna abu-abu tuadan televisi hitam tipis yang tertempel disudut ruangan bernuansa putih tak jauh dari sofa, menurut karaneta tempat itu sangat cocok untuk tempat bersantai ketika sedang letih sehabis pulang kerja , kulkas tinggi dengan dua pintu yang terletak di sebelah kanan dapur dan peralatan lainnya yang tertata rapih membuat siapapun tinggal di kamar ini pasti merasa nyaman, bagaimana tidak?, netta sesekali membenarkan posisi nya, aroma wangi khas parfum pria menyengat di indra penciumannya aroma segar yang tidak terlalu manis menempel di sprai itu membuat netta merasa sangat nyaman, entah mengapa karaneta sangat menyukai bau wangi itu seolah menjadi candu bagi nya, netta menyentuh pundak nya yang terasa pegal, cewek itu terbelalak kaget saat menyadari baju nya telah di ganti dengan kemeja putih yang jelas sangat besar bagi ukuran tubuh netta. " Siapa yang......" "Ceklek!" Suara knop pintu kamar mandi terbuka, membuat netta spontan langsung menoleh ke arah tersebut. "Deg!" " Huwaaa!" Teriak cewek itu histeris melihat seorang pria keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos dalam hitam, meskipun begitu netta bisa menyadari roti sobek kotak yang tersusun rapih di bagian perut pria itu,El memang tipikal pria yang rajin olahraga, tubuh nya tinggi kekar dan tidak di ragukan lagi, pria itu memang sangat tampan,tak heran jika di mana mana dia menjadi satu satu nya ketua geng yang diidamkan para wanita, netta menutupi mata dengan kedua tangannya, mengutuk dirinya sendiri berkali-kali " baru sadar?" Tanya cowok itu mendekat ke arah netta, wanita itu terbelalak melihat pria itu mendekat dengan penampilan nya yang seperti itu dengan santai, seolah tak ada rasa malu. " Buk!" "Shit!" Umpat elvaro saat netta tiba-tiba melempar bantal putih empuk tepat ke wajah nya " Lo apa apaan sih!" " Jangan dekatin aku, kakak siapa?, kenapa bisa di sini?" Ucap wanita itu, elvaro menggeram, pria itu meraih bantal putih yang ada di lantai, berjalan menuju ranjang, pria itu duduk di depan netta, meletakkan bantal putih itu tepat di samping nya. " Brak!" "Glek!" Netta menelan ludah nya dengan susah payah, saat cowok kekar berkulit putih itu meninju ranjang tempat nya bersandar, cowok itu menatapnya sinis, tampak sangat menyeramkan, tatapan tajam cowok itu terasa hampir membunuh nya, oh tuhan, bagaimana ini?. " Gue cowok pemilik semua sudut apartemen ini ...." Elvaro menjeda ucapan nya sebentar , menyentuh dahi gadis itu dengan jari telunjuk nya." Termasuk ranjang yang Lo tempatin!" Tekan nya memperjelas. " Dan satu lagi, seharusnya Lo terima kasih sama gue, karena gue udah Sudi nyelametin Lo, dan bawa Lo ke apartemen gue, tepatnya pas Lo mabuk tadi malem!" Karaneta menatap pria itu heran mencoba untuk mengingat kejadian itu, tapi kepala nya malah bertambah sakit, dia benar-benar tak mengingat apa pun. " Ayo cepetan bilang, gue mau denger!" Netta melotot saat cowok itu mendekat kan telinga nya, nafas nya sangat sesak, tak ada lagi jarak di antara mereka, netta bisa merasakan bau parfum yang tak terlalu manis, persis sekali seperti bau wangi parfum yang menempel di sprai putih tadi. " Dasar cowok nggak tau malu!" " Dum!" Elvaro melotot tak percaya, tatapan nya kembali menatap sinis gadis yang menyebalkan di depan nya itu," apa Lo bilang?, coba ulangi!" " Kakak nggak tau malu!, semua cowok itu brengsek, nggak punya malu sama sekali, walau mereka telanjang dada seperti ini di depan umum sekali pun!" Elvaro tersenyum miring mendengar ucapan cewek itu" kenapa?, lo naksir liat tubuh sispek gue?, oh , atau baru pertama kali liat roti sobek?" Netta memundurkan wajahnya, saat cowok itu maju, menatap nya dengan ancaman yang benar benar licik dan mematikan. " Plaakk!" " Ssshhh!!, Lo ......" Elvaro ingin membalas wanita yang ada di depan nya itu saat tiba tiba sebuah tamparan mendarat dipipinya dengan begitu mulus, tapi El sadar, yang di hadapan nya adalah seorang perempuan, jelas saja El langsung menahan emosi nya , walau pipi pria itu terasa sedikit ngilu sekarang. " Kakak jangan macem macem, mungkin memang kakak yang selametin aku, untuk yang satu itu terima kasih,aku bukan cewek murahan yang mudah tergoda sama cowok modelan kayak kakak, yang nggak punya rasa malu, aku mau pulang!" Netta memalingkan wajah nya, cewek itu berniat beranjak dari ranjang dan pergi dari tempat itu. " Set!" " Mau ke mana Lo?" Tanya El menahan wanita itu dengan tangan kiri nya, kini karaneta berada di kukungan elvaro, cewek itu hanya terdiam, menatap nya heran meminta semua penjelasan kenapa cowok itu menahan nya. " Oke fine, silahkan pergi...,kalo Lo nggak punya urat malu...," Elvaro menjeda ucapan nya sebentar, menyentuh kerah kemeja gadis itu, membuat netta mengerenyit bingung." Karena Lo cuma pake kemeja putih gue doang ,kalo Lo sadar!" " What!" Ucap cewek itu melotot, netta menarik selimutnya sampai ke dada, elvaro hanya bisa tersenyum penuh kemenangan, melihat ekspresi gadis itu, jelas netta merasa syok, bagaimana bisa?. " Brengsek!" Batin karaneta, mata coklatnya menatap cowok itu nanar, bagaimana bisa pria ini memiliki pikiran seperti itu? Netta tak habis pikir. " Jadi kakak yang gantiin...." Netta tak sanggup mengucapkan nya, kelopak mata cewek itu membendung air mata, menatap seorang elvaro tak percaya, elvaro yang menyadari apa yang di pikirkan gadis itu tentang nya memutar bola mata malas. " CK!, bukan gue!" Ucapnya memalingkan wajah dan menjauh dari gadis di depannya itu, netta mengerenyit, apa maksud nya?, kalau bukan, lalu siapa?. "Tok!, tok!, tok!" Elvaro dan karaneta spontan langsung menoleh bersamaan saat mendengar suara ketukan pintu itu. "B- boleh saya masuk tuan?" Ucap seorang wanita paruh baya yang berada di dekat pintu dengan membawa nampan besar di tangan nya, wanita itu terlihat canggung, bagaimana tidak?, elvaro dan karaneta membenarkan posisi mereka masing-masing, cowok itu berdehem. " Hm!" Jawab nya singkat netta memalingkan wajahnya ke arah lain, wanita paruh baya itu berjalan mendekati mereka. " Nona, anda sudah sadar?, ah, saya bawakan air kelapa muda untuk mengurangi sakit kepala anda, dan baju ganti..." Wanita itu tersenyum, menjeda ucapan nya sebentar meletakkan nampan berisi gelas dan paper bag di atas nya ke atas meja tepi ranjang. " Maafkan saya, tadi malam saya tidak tau kalau tuan elvaro memanggil saya untuk membantu Anda mengganti baju, dan hanya kemeja putih itu yang ada di lemari , jadi saya terpaksa memakai kan baju itu untuk sementara, karena kemarin sudah sangat larut, apa tidak masalah?" Tanya wanita itu terlihat cemas jika karaneta marah kepada nya, netta menatap elvaro, cowok itu hanya tersenyum dan mengangkat satu alisnya ke atas. "Lo denger?" Ucap elvaro, netta terdiam bergulat dengan pikiran nya, jelas gadis itu merasa bersalah sekarang,dan pasti nya sangat malu Karena telah berpikir bahwa cowok ini yang telah menggantikan baju nya, astaga!, dasar bodoh. " Nona, apakah anda marah?" Netta menatap wanita paruh baya itu, gadis itu tersenyum dan cepat menggeleng. " Tidak!" Jawab netta singkat, wanita paruh baya itu terlihat lebih lega, dia mengambil segelas air kelapa yang ia letakkan tadi hendak membantu netta untuk meminum nya. " Saya bantu nona!" " Biar gue aja bik!" Sahut elvaro membuat netta langsung mengerenyit heran menatap cowok itu, bibik Katrina tersenyum dan memberikan gelas itu pada El." Silahkan tuan!" Elvaro mengambil gelas itu dan menyodorkannya kepada gadis yang masih menatap nya tak percaya. " Kenapa natap gue kayak gitu?" Tanya El, membuat netta terkesiap. " Nggak!" Jawab nya, El hanya bisa menggeleng. " Aneh, ayo minum!" Perintah cowok itu, netta meneguk air kelapa itu sampai habis dengan mata yang masih menatap El, setelah air kelapa itu habis elvaro meletakkan nya kembali ke atas meja. " Lain kali kalo nggak kebiasa minum, jangan coba coba, nanti kepala Lo sakit!"ucap nya sebelum akhirnya berdiri, mengambil kemeja putih yang terletak di pinggir ranjang dan memakai nya, mengancing kannya satu persatu, pria itu beranjak mengambil jas hitam yang tergantung tak jauh dari sana, dan kembali ke tepi ranjang dengan menenteng jas tersebut. " Bik, bantu dia ganti baju sekarang!" "Baik tuan!" Elvaro ingin beranjak dari tempat tersebut. " Tunggu kak!" Ucap karaneta menahan tangan elvaro, bibir cowok itu berkedut, dahinya mengerenyit heran melihat tangan nya ditahan oleh gadis itu. " Sorry!" Cewek itu merasa menyesal, buruk sangka, mungkin netta terlalu trauma dengan seorang Tristan, sehingga menuduh semua pria itu brengsek, kini dia benar-benar malu. " Hm!" Jawab elvaro singkat, netta tersenyum, lalu melepas tangan cowok itu, elvaro ingin segera beranjak, tapi tiba tiba langkah nya terhenti sekejap, menoleh ke arah netta. " Sepuluh menit, gue tunggu, Lo siap siap sekarang, atau gue tinggal!" " Apa!!, tapi..." Elvaro benar benar meninggal kan netta Tampa persetujuan netta, gadis itu merasa frustrasi, bagaimana diri nya bisa siap siap dalam waktu sesingkat itu?. " Argh!!, brengsek!" Teriak netta, bibik Katrina hanya bisa tersenyum melihat kelakuan kedua nya sejak tadi. " Mari nona!"