We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

wild rabbit

2.7K 222 11
                                        

Minji tersenyum  saat dia sudah berhasil mencapai pos kelima gunung yang menjadi spotnya mendaki, bisa dibilang Minji memang sedikit nekat karena mendaki tanpa rekan yang ia kenali dia hanya ikut dengan rombongan pendaki  yang dipimpin oleh seorang guide.

Dia menghirup udara segar yang sudah lama dia idam idamkan. Sesaknya kota yang dia tinggali juga tekanan akademik dari orang tuanya membuat Minji merasa begitu tertekan dan jenuh dengan rutinitas yang harus dia lakukan setiap hari, sekolah hingga sore, bimbingan belajar dan segala jenis bimbingan demi bisa masuk ke kampus idaman orang tuanya. Maka dari itu dia begitu bahagia saat orang tuanya mengizinkannya untuk mendaki gunung saat dirinya berhasil lolos masuk perguruan tinggi yang bergengsi itu.

"Minji!, jangan senyum senyum sendiri", Minji menoleh saat namanya disebut oleh salah satu pendaki yang tadi mengajaknya berkenalan, Yujin namanya. Gadis tinggi yang saat tersenyum memunculkan dimple yang sangat manis di pipinya.

" Udah mau naik lagi ya?", tanya Minji saat melihat Yujin yang sudah kembali memakai sepatu yang tadi sempat dia lepas. Anggukan Minji dapatkan dari gadis yang tampaknya memang tidak banyak bicara itu.

Keduanya bergerak menuju guide yang memberikan arahan kepada para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan yang menurut perkiraan mereka akan mencapai puncak sebelum magrib.

Perjalanan kembali dimulai dengan Yujin berjalan dibelakang Minji, Yujin memang terlihat sudah sering mendaki gunung berbeda dengan Minji yang baru dua kali, ini kali keduanya setelah dulu sewaktu smp dia mendaki gunung bersama ayahnya.

Akhirnya rombongan itu sampai dipuncak tepat saat matahari hampir terbenam, sesaat mereka menikmati keindahan dari sunset yang nampak begitu mempesona. Setelah puas memandang tenggelamnya matahari mereka bergegas membangun tenda karena memang akan bermalam disana, banyak pendaki lain disana ada yang sudah membuat api unggun kecil untuk menghangatkan tubuh mereka.

Minji menghampiri Yujin yang duduk diatas batang kayu, gadis itu tampak sedih sambil memegang sebuah foto ditangannya.

"Hey", Minji menyentuh lengan Yujin agar menarik atensinya.

"Kenapa ji?", tanya Yujin sambil tersenyum walaupun jelas matanya menyiratkan kesedihan.

"Harusnya gue gak sih yang nanya gitu?" Mata Minji melihat kearah tangan Yujin.

" Ini foto Minju, pacar gue yang hilang waktu ngelakuin pendakian disini setahun lalu"

......


Minji menatap iba kearah Yujin yang sudah terlelap di sampingnya, beberapa jam lalu gadis itu bercerita tentang pacarnya yang menghilang karena terpisah dari rombongan saat mendaki di gunung ini dan sampai sekarang belum ada kabar entah masih hidup atau mungkin sudah meninggal, tubuhnya tidak pernah ditemukan.

Minji berulang kali mencoba menutup matanya agar dapat tertidur namun seberapa kerasnya dia mencoba otaknya menolak untuk beristirahat.

Akhirnya Minji memutuskan untuk keluar dari tenda berharap ada pendaki lain yang masih berada diluar namun ternyata nihil, berakhir dia duduk ditempat tadi dia dan Yujin berbagi cerita. Matanya menatap kearah bulan yang tengah memamerkan kesempurnaannya malam ini.

"Eh!" Minji terkejut saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh kakinya dan saat dia menunduk terlihatlah seekor kelinci putih yang sangat lucu, kelinci liar.

Alis Minji terangkat saat kelinci itu sangat jinak dan tak menolak saat tangannya menyentuh bulu lembutnya, sedikit janggal bagaimana bisa ada kelinci liar sejinak ini. Minji mengangkat kelinci itu kepangkuannya dan saat dia menatap mata kelinci itu semua suara disekitarnya mendadak hilang, tatapan Minji menjadi sayu, bahkan saat seorang gadis mengambil kelinci dari pangkuannya dan beranjak pergi yang Minji lakukan hanya mengikuti langkah gadis yang tersenyum tipis itu dengan tatapan mata yang kosong.

                    –––––––———

"Kau yakin dia orangnya?".

" Aku yakin dia orangnya, terakhir kali aku salah mengingat namanya hingga membuat gadis malang itu mati saat aku mencoba menandainya", samar samar Minji bisa mendengar suara dua orang yang tengah berbincang. Telinganya berdenging hebat saat dia mencoba memfokuskan pandangannya yang buram.

"Lihat gadis itu sudah bangun", Spontan Minji menyeret tubuhnya mundur saat dua orang didepannya menatap kearahnya. Seorang gadis dan seorang pria dewasa yang sepertinya ayah dari gadis itu.

"Kalian siapa?!, g-gue dimana?", kepanikan mulai menyerang Minji saat menyadari dirinya sudah tidak bersama dengan rombongannya, dan ada dua orang asing yang mungkin telah menculiknya, dia hanya ingat terakhir kali dia masih berada dipuncak sedang bermain dengan kelinci liar dan bagaimana bisa dia ditempat ini sekarang.

"Ayah, dia lucu ", saat tangan gadis misterius hendak menyentuhnya refleks Minji menepisnya dan itu membuat ekspresi gadis didepannya berubah menjadi dingin.

" Dia menolakmu", Minji bisa mendengar gadis didepannya berdesis saat pria didepannya mengucapkan hal itu. Ruangan itu terasa lebih dingin, Minji mendongakkan kepalanya dan seketika matanya bergetar saat melihat kelinci putih yang terakhir kali dia ingat lehernya sudah tercabik dengan darah yang mengotori bulu putihnya.

" Apa yang kamu lakukan!" Minji berteriak marah mencoba melepaskan tangan gadis misterius yang berusaha merobek perut kelinci itu dengan tangannya.

"Minji, Be my mate or you'll end up like this bunny", tangan berlumuran darah itu menarik pinggang Minji mendekat membisikkan kalimat yang membuat Minji mengetahui nama gadis itu.

" Call me Hanni", Minji mendorong tubuh Hanni menjauh . Gadis itu terengah-engah padahal jika dilihat tubuh Hanni lebih kecil darinya tapi kenapa  Minji malah merasa terintimidasi.

"Orang gila!", Minji mencoba berlari kabur namun gagal saat pria dewasa yang sedari tadi hanya  menonton menangkapnya dan menahan tubuhnya agar tak berontak.

" Hurry and put on the necklace before the sun rises."

                         ________________

" Minjiii!" Kepala Minji berdenyut nyeri saat dia membuka matanya dan hal pertama yang dia lihat adalah wajah khawatir keduanya orang tuanya, tangannya terinfus di ruangan serba putih, rumah sakit.

"Gimana bisa kamu mengalami hipotermia?!, kalau tidak ada Yujin yang menemukan kamu menggigil kedinginan pasti kamu sudah entah bagaimana jadinya." Kebingungan memenuhi kepala Minji, ada yang aneh. Bukan itu yang dia alami.

Apa dia hanya berhalusinasi tentang kelinci liar itu?







I'm Own You (Bbangsaz)Stories to obsess over. Discover now