بسم الله الرحمن الرحيم...
-
-
-
Aku menatap orang² yang berlalu lalang begitu sibuk, hari ini adalah hari kelulusan para santri di pesantren Al-Hidayah, acaranya di mulai nanti malam, jadi siang ini kami sibuk menyiapkan berbagai suguhan untuk tamu dan tentu nya untuk para mubaligh.
Aku sendiri bertugas untuk mengetes hafalan Qur'an para santriawan santriawati yang akan tampil besok. Namaku adalah Humaira Syazafa Kareema, putri dari Abah Abdullah dan ummi Farah.
"Assalaamu'alaikum " aku mendengar ulukan Salam dari arah pintu masjid.
"Wa'alaikumussalam " jawabku masih dengan fokus mendengarkan sima'an.
"punten teh, abah tadi minta teteh ke rumah" Aku menoleh mendapati seorang santriwati yang sedang menunduk.
" iya nanti kesana, makasih ya" jawabku lalu mengakhiri sima'an. "Panggil ustadzah Rahma, bilangin badalin saya disini" pintaku pada santriwati yang tadi abah utus untuk memanggil ku, ia mengangguk dan berlalu pergi, akupun pergi menuju ndalem dan mendapati abah yang sedang mengobrol dengan ummi.
"Assalaamu'alaikum abah" salamku seraya mengetuk pintu yang terbuka, Spontan keduanya menoleh ke arahku.
"Wa'alaikumussalam" aku masuk dan menutup pintu kemudian duduk di samping ummi. "kenapa ummi? Bah?" Tanyaku pelan.
"gini, abah kan udah makin tua, dan kamu adalah anak satu²nya abah yang masih jomblo, kakak mu Zara sudah punya anak, sekarang dia sibuk di pesantren suaminya, jadi gimana kalau kamu abah jodohkan dengan anak teman abah, Kyai Ahmad?" Aku terdiam, mencerna segala ucapan abah yang kudengar tadi.
" kalau Syaza belum siap, gak papa nduk, kita gak maksa.. keluarga nya ki ahmad juga gak menekankan" Ucap ummi, sepertinya beliau memahami perasaanku yang bahkan aku sendiri tak tahu harus seperti apa.
"Mm... boleh Syaza kasih waktu dulu abah?" Tanya ku pelan pada abah, abah mengangguk mendengar permintaan ku.
" kalau gitu Syaza mau telefon kak Zara dulu ya? Takutnya susah masuk, soalnya udah rame di depan gerbang" Aku pergi setelah mengucapkan Salam, kak Zara memang belum datang, perjalanan dari tempatnya tinggal sekarang butuh waktu dua jam untuk sampai.
Jika kalian berfikir bahwa aku tidak over thinking tentang obrolan dengan abah tadi, tentu saja aku kepikiran, tapi yang terpenting saat ini adalah acara hari ini.
"Kakak dimana?" Tanya ku dari balik telephone.
" sebentar lagi masuk gang dek, nah ini udah mau sampe" Jawab kak Zara, aku celingak celinguk mencari mobil pajero putih milik kak Zara, dan baru terlihat dari arah kanan, meskipun sedikit sulit untuk mengenalinya karena keadaan jalanan yang hampir di penuhi oleh mobil² para tamu ataupun wali santri.
Aku langsung mematikan sambungan dan memasukkan handphone ke dalam saku Abaya yang aku kenakan.
Aku membuka gerbang pesantren lebih lebar agar memudahkan mobil kak Zara untuk masuk.
Tin tin!
Akhirnya mobil nya masuk dan aku segera menyusul ke rumah untuk menyambutnya. Setelah mobil terparkir sempurna di garasi, kak Zara dan suaminya, kang Rayhan beserta ponakan² kecilku keluar dari mobil, ummi dan abah sudah menunggu sejak tadi di depan rumah.
YOU ARE READING
Suami Dari Abah
Teen Fiction(REVISI) ⚠️Disclaimer guys, sbnrnya cerita ini udah prnh di publish, udh sempet rame jga yg baca, cuma karena author tiba² mogok dan ingin sedikit mengubah isinya, jadi saya unpub dan yeah, kalian bisa mulai baca dari awal trims^^♡ ☆dilarang baper y...
