22.15 p.m
San Francisco, California.
Di dalam sebuah ruangan, terdapat seorang pria yang sedang menumpuk sesuatu sambil bersiul.
Siulan pria itu terdangar jelas di dalam ruangan. "Terlihat cukup bagus" Gumam nya melihat tumpukan yang ia buat.
Duk....
Sebuah suara berhasil mengalihkan atensi pria itu, dia mencoba mencari dari mana asalnya suara yang ia dengar barusan dan siapa pelakunya.
Saat pria itu mencoba mendekat ke tempat yang dirasa adalah asal dari suara yang dia dengar tadi, ada sebuah bayangan seseorang dari luar jendela yang lewat begitu saja.
Bukan nya menghampiri, pria itu hanya diam sejenak lalu kembali melanjutkan apa yang dia lakukan sebelumnya.
08.45 am
San Francisco, California.
Suara sirene polisi, garis kuning kepolisian yang dibentangkan dan suara para petugas kepolisian yang sibuk, ditambah suara flas kamare dari dalam ruangan disebuah rumah terdengar dengan jelas.
"Jadi, tetangga yang mampir untuk mengembalikan pemotong rumput adalah orang yang melapor ke kepolisian? " Tanya seorang pria tua berumur 43 tahun. Felix Smith, kepala Kepolisian di San Francisco, California.
"Benar sir, tetangga yang melapor sudah kami identifikasi dan kesaksian nya sudah dicatat" Ucap seorang polisi muda sambil memperlihat kan beberapa lembar kertas.
"Begitukah? Tapi....sepertinya ada yang aneh" Sambil menyalakan sebatang rokok , matanya yang masih terlihat tajam namun sedikit sayup itu memperhatikan sekitar dengan teliti. "Apa disini tidak ada cctv?"
"Tidak sir, rumah ini dan lingkungan sekitar tidak ada yang memasang cctv" jawab polisi muda itu. sembari mengecek ulang lembara kerta yang ia bawa, polisi muda itu mengerutkan dahi nya.
"Sayah sekalih, penyelidikan kali ini pasti akan memakan banyak waktu" Ucap Felix sembari mematikan rokoknya.
"Ayo masuk, kita lihat apa yang dilakukan tim forensik didalam" Setelah mengatakan hal itu Felix langsung berjalan masuk begitu saja. Polisi muda yang belum sempat menjawab itu pun hanya bisa mengikuti kemana kepala Kepolisian itu pergi.
Didalam rumah, suara flas kamera masih terdengar. Mendokumentasikan sebuah tumpukan mayat di atas meja makan.
Felix memperhatikan tumpukan mayat itu, dan melihat ke berbagai sisi ruangan. Saat menemukan seseorang yang ia cari, ia pun mendekat "Jadi, karya seperti apa yang diciptakan oleh pembunuh kali ini? " Ucapnya kepada seorang wanita yang memakai seragam forensik.
"Ulang tahun, lebih tepatnya kue ulang tahun" Ucap wanita itu tanpa menoleh ke arah Felix , sembari sibuk menyemprotkan benda-benda di ruangan itu dengan cairan khusus.
Miela Derpina Growl, dokter forensik berusia 35 tahun adalah identitas dari wanita itu.
"Kue ulang tahun? Jadi si pembunuh memberikan hadiah. kalau begitu kita harus cek data diri para korban, siapa yang tanggal ulang tahun nya hari ini atau tanggal ulang tahun nya yang mendekati hari pembunuhan terjadi" Ucap Felix kepada polisi muda yang masih setia berdiri di belakang nya.
"Baik sir! " Ucap polisi muda itu sembari mengetik sesuatu di handphone nya.
"Tapi, bagaimana bisa tumpukan mayat itu disebut sebagai kue ulang tahun? " Tanya Felix menoleh ke arah tumpukan mayat yang ada diatas meja makan, lalu kembali memperhatikan apa yang dilakukan oleh dokter forensik.
"Ditemukan beberapa lilin kecil, yang sengaja di tancapkan di bagian atas tubuh korban yang ditumpuk dibagian paling atas. Oh, atau...aku menyebutkan kalau lilin nya sengaja seperti ditanam di tubuh mayat yang paling atas" Jelas Miela, sambil menoleh sebentar ke Felix.
"Hmm.... Tapi, bukan kah ini sedikit aneh? " Celetuk Felix dan itu berhasil membuat Miela berhenti melakukan kegiatan nya, lalu mengahadap dengan tegak di depan Felix. "Aneh? Keanehan apa yang Anda maksud? Sudah menjadi ciri khas para pembunuh menciptakan sesuatu dari hasil kerja nya itu" Ucap Miela dengan raut wajah datar.
Felix yang mendengar itu tersenyum kecil "Ya, tentu saja aku tahu. Hanya... Lingkungan yang tenang dan tidak ada cctv... "
"Tidak ada cctv, itu adalah satu hal yang sering di temui saat menyelidiki kasus pembunuhan" Ucap Miela memotong perkataan Felix.
"Mungkin anda terlalu berlebihan dalam hal ini... " Lanjut Miela.
"Bukan berlebihan, aku hanya tak mau melewatkan sedikit saja informasi dan sekecil apapun bukti. " Ucap Felix sambil kembali menoleh ke arah mayat yang masih berada di atas meja makan tersebut.
"Begitukah? Kalau begitu selamat mencari bukti lain, dan informasi yang dibutuhkan" Tanggap Miela, ia berdiri tegak kembali didepan Felix lalu menoleh ke arah tumpukan mayat. "Segera kirim tumpukan mayat itu ke kantor forensik, kita harus melakukan autopsi sesegera mungkin" Perintah Miela kepada anggota forensik lain nya di ruangan itu.
"Baik !! " Jawab para anggota forensik lain nya.
Miela kembali menoleh ke Felix, sambil sedikit tersenyum "kalau begitu, saya permisi" Ucap Miela kemudian melenggang pergi tanpa menunggu jawaban dari Felix.
Felix hanya terkekeh menanggapi hal itu "anak muda jaman sekarang suka sekalih memotong ucapan orang yang lebih tua. "
Felix menoleh ke arah polisi muda itu "Ayo kita pergi juga, sudah tidak ada yang bisa dilihat di sini. "
"Baik sir. " Balas polisi muda itu. Dean Growl, berusia 27 tahun. Adik tiri dari Miela.
Jangan Lupa vote & komen 💋
See you next time❤️
ESTÁS LEYENDO
THE TALENT of Genetic || the blood relations cannot lie ||
De Todosunyi nya malam itu membuat suasana seseorang amat tenang dan damai seperti malam-malam sebelumnya. tak lama terdengar suara sirene polisi, suara pintu yang didobrak dan todongan senjata terarahkan kepada seseorang yang masih dengan santainya menik...
