"Manusia dibuat buta oleh keyakinannya sendiri. Ia hanya ingin mempercayai apa yang ingin dipercayainya. "
.
.
.
Note: Cerita ini pernah di publish di wacaku. Namun, saya benar" menyesal pernah post disana. Karena, sistem app nya masih asing utk saya. Jadi... Back to wattpad again!
🥀🥀🥀
Konon, 1.000 bangau kertas origami dapat ditukar dengan 1 permintaan kecil.
Sementara, 10.000 bangau kertas origami dapat ditukar dengan permintaan sedang.
Aku cukup sial harus mengerjakan 100.000 bangau kertas origami hingga memakan waktu 3 tahun lamanya.
Padahal aku sudah benar-benar muak dengan keadaanku, namun dunia seolah punya caranya sendiri untuk menarikku pada kesengsaraan. Cara dunia membercandaiku sungguh lucu dan mengejutkan.
Kadang membuatku berfikir untuk menusukkan sesuatu yang tajam ke jantungku, atau menembakkan sesuatu ke kepalaku.
Mungkin, yang paling sering kupikirkan adalah mengalungkan leherku pada selimut lembut bergambar Doraemon di langit-langit rumah dan berlagak terbang dilangit dengan mulut mangap-mangap kehabisan oksigen.
Namun, aku cukup pengecut untuk melakukan hal tersebut. Dari awal, Aku memang sudah sakit secara mental, namun aku tetap takut untuk sakit secara fisik.
"Ini yang terakhir,"ucapku. Tinggal satu lagi bangau kertas origami, maka penyihir akan datang dan mengatakan;
"Tukarkan 100.000 bangau kertas mu, maka keinginan terbesarmu akan aku kabulkan." Dan, benar saja. Itu kejadian.
Aku tahu persis apa yang akan dikatakan penyihir itu karena ini adalah kunjungannya yang ke-3. Kunjungan pertama saat bangau kertasku berjumlah 1.000 dan kunjungan ke-2 saat bangau kertasku berjumlah 10.000
Aku tersenyum sumringah. Saking senangnya— atau mungkin lega, aku berbaring menatap langit-langit kamar dengan wajah haru. Sementara, penyihir itu menatap heran ekspresiku.
Sebentar lagi.
Iya, sebentar lagi kesengsaraanku akan segera berakhir.
Aku bangkit, mengambil posisi duduk, dan menatap penyihir itu dengan penuh harap.
"Aku ingin mati dalam keadaan dicintai banyak orang, dan namaku akan selalu terkenang sampai kapanpun juga—bisa dibilang, terkenal.
Selain itu, aku ingin kematianku adalah suatu hal yang tidak sia-sia. Dan, ketika aku mati, bunga tulip berbagai warna tumbuh dengan lebat dia atas kuburanku."
"Banyak sekali permintaanmu. Aku bilang, satu permintaan." Penyihir itu memberengut kesal, "lagian, aneh sekali nona macam kau ini. Kau bisa memanggilku saat siang hari. Bukan tengah malam seperti ini. Merepotkan saja!"
Aku menyipitkan mata, baru tahu bahwa penyihir ternyata secerewet ini.
"Apa salahnya memanggil tengah malam? Bukankah ritual semacam ini jadi lebih menantang?"
Penyihir itu tersenyum ngeri, "kau bilang ritual? Kaukira aku setan?"
"—aku tidak bilang seperti itu." Jawabku cepat. Kemudian, berfikir. "Bukankah kalian sejenisnya?"
"Sudahlah!" Ucap penyihir itu mengalah, "katakan, apa maumu, nona?"
"Aku sudah menyebutkannya tadi,"
"Sebutkan satu saja."
"Itu satu!"
Penyihir itu menghela nafas,"baiklah. Intinya, kau hanya ingin mati, bukan?"
Aku mengangguk, "mati dengan gaya..mati dengan terhormat. Mati dengan meninggalkan jejak." Tambahku.
YOU ARE READING
THE WITCH AND THE CORN FARMER-End
Fantasy(LOW FANTASY - DARK) Tak ada hal baik saat kauberurusan dengan penyihir. Ladang bunga yang dijanjikan mekar akan menjadi ladang penyesalan yang berujung ke kematian. Keinginan terbesar yang kaudambakan menjadi harapan semu untuk menjalani kehidupan...
