10 - Sial

1.9K 187 0
                                    

Pagi di Beauxbatons sangatlah berbeda dengan yang biasa Hermione lalui di Hogwarts. Terasa lebih menyenangkan. Burung pipit kecil masuk ke setiap jendela kamar, dan meletakkan satu perkamen yang terdapat nama masing-masing murid. Sepertinya para burung hantu kehilangan pekerjaannya di pagi hari. Sinar matahari yang menyeruak masuk ke dalam kamar berhasil menyengat mata Hermione, sehingga ia harus keluar kamar untuk membaca apa yang tertulis di perkamen tadi.

Ia berjalan ke arah pintu, dan menarik gagangnya. Ternyata murid lain juga ada diluar. Itu berarti, ia tak salah memilih kamar. Memang semua kamar memiliki lokasi strategis untuk merasakan silaunya cahaya sang surya.

"Mione, silau sekali. Bisa kau tutup kordennya?" Rengek Parvati.

Di kamar itu hanya ada si kembar Patil, dan Hermione. Sebenarnya kamar tersebut untuk lima orang, namun yang lain sudah mendapat kamar yang mereka inginkan. Jadi, kosong dua tempat tidur. Bukan mengenaskan, namun menyenangkan. Lebih luas, bukan?

"Kordennya hilang saat pagi menjelang. Mungkin memang sengaja di desain begitu agar kita tak bangun kesiangan," balas Hermione.

Parvati duduk diatas ranjangnya sembari mengucek mata dan membenahkan tatanan rambutnya. Sedangkan Padma.. ia belum bangun. Tidur tengkurap mungkin membuatnya tak merasakan siksaan cahaya mentari pagi yang memaksa bangun dari tidur.

"Parvati, lihat perkamenmu. Kau satu kelompok dengan siapa?" Tanya Hermione yang kini sudah kembali duduk di ranjangnya.

"Kelompok apa?"

"Lihat saja dulu perkamenmu."

Parvati turun dari ranjang dan menyambar perkamen atas nama dirinya di atas meja. Sementara itu, Padma sedang menguap dan meregangkan otot-otot tubuhnya.

"Kelompok 5. Membuat Ramuan Pemancing Laba-Laba," Parvati membaca judul perkamennya.

"Untuk apa memancing laba-laba? Di makan saja tak enak," protesnya.

"Lanjutkan saja ke nama kelompoknya," balas Hermione.

"Abbot, Hannah. Bones, Susan. Parkinson, Pansy. Patil, Parvati. Kendra, Rose. Binn, Michael. Seam, Justin. Collins, Arabella," baca Parvati.

"Oh! Si Parkinson! Mimpi apa aku semalam? Sampai-sampai nasibku sial begini. Dan.. siapa itu Kendra, Binn, Seam, dan Collins? Aku tak pernah dengar," lanjutnya.

Hermione mengedik tak tahu, "Mungkin murid Beauxbatons."

"Dengar, ini kelompokku," Sahut Padma yang ternyata sudah duduk sembari membawa perkamen dengan namanya.

"Patil, Padma. Lovegood, Luna. Bill, James. Guerrero, Ernie. Kendra, Chelsea. Hillary, Seah. Crony, Rianna. Dass, Adrian. Kau lihat? Hanya aku dan Luna dari Hogwarts! Hey! Apa yang mereka pikirkan?" Lanjutnya.

"Itu takdirmu, Padma. Dan.. kau, Hermione?" Kali ini Parvati kembali bersuara.

"Brown, Lavender. Granger, Hermione. Greengrass, Daphne. Vane, Romilda. Gordon, Kate. Kendra, Olivia. Lee, Jane. Goldstein, Rena."

"Rena Goldstein! Dia adik Anthony Goldstein. Anaknya baik. Kau beruntung, Hermione!" Pekik Parvati.

Hermione menggeleng lemah dengan sunggingan senyum yang amat dipaksakan, "Kau lebih beruntung."

Ya, Parvati lebih beruntung. Meski Hermione berhasil mendapat Rena Goldstein, yang kakak kembarnya menjadi prefek Ravenclaw, namun apa gunanya jika ada Brown dan Vane? Dikurangi dua bedebah itu, hanya ada dirinya dan Greengrass dari Hogwarts. Dan, Greengrass itu Slytherin. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya pura-pura tuli mendengar kata Mudblood.

(Bukan) Hanya MimpiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang