1: Klan Itu

58 11 0
                                        

The Clan of Samsara | ©erimies | alih bahasa oleh fuyunaria

━━━━━━━━━

Di sebuah hutan di bawah kaki gunung, tepat di perbatasan Negeri Api, terdapat sebuah kompleks klan ninja yang luas dan makmur-serta agak aneh dibandingkan klan lainnya.

Selama masa kekacauan dan peperangan antar klan, wilayah itu tidak pernah diserang sekalipun. Bahkan, tidak ada yang mau mendekatinya dengan kemauan sendiri.

Mereka dikenal (meski samar) sebagai "Samsara."

Klan itu tidak memiliki musuh, tidak pula sekutu. Mereka hidup mandiri: menanam pangan dan kapas sendiri, memelihara ternak di dataran subur yang telah mereka miliki begitu lama, hingga tak seorang pun lagi tahu siapa yang dulu pertama kali tinggal di sana.

Namun mereka membunuh. Kadang-kadang. Tanpa pola. Tidak pernah menargetkan korban yang sama dua kali berturut-turut.

Terkadang, para anggota Samsara muncul di tengah pertempuran klan lain, lalu pergi meninggalkan tumpukan mayat dari kedua belah pihak. Tidak ada yang pernah tahu alasan di balik kehancuran tanpa makna itu-dan para Samsara tidak pernah berusaha menjelaskannya.

Satu hal yang diketahui banyak orang tentang mereka hanyalah batas darah mereka-kemampuan menguras chakra dengan cepat, cukup untuk membunuh ninja dalam hitungan detik.

Lebih buruk lagi, mereka dapat menggabungkan kekuatan itu dari jarak jauh, saling berkoordinasi seolah berbagi satu kesadaran. Tak jarang korban mereka mati tanpa pernah melihat wajah pembunuhnya.

Lambat laun, hutan dan gunung tempat tinggal mereka menjadi mimpi buruk yang menghantui para shinobi di seluruh negeri.

Namun, para Samsara tidak mempermasalahkan keterasingan itu. Mereka memiliki alasan dan cara hidup sendiri. Dunia luar tidak diperlukan.

⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯⎯

Sinar matahari menembus rimbun kanopi, memantulkan titik-titik cahaya di atas rerumputan dan di atas sekelompok kecil anak-anak yang sedang berlutut di padang rumput.

Barisan gagak hitam-rapi, diam, dan mengawasi-bertengger di dahan-dahan sekitar, seolah turut mendengarkan.

"Kita tidak punya banyak aturan di klan ini. Kalian masih ingat apa saja?" tanya seorang kakek tua.

Kepalanya botak dan keriput, namun garis-garis di sekitar matanya membuat wajahnya tampak hangat dan bersahabat. Suaranya parau, seperti kulit tua-lelah tapi menenangkan.

"Ya!" seru anak-anak serempak. Mereka mengenakan jubah berwarna oranye, merah, dan kuning-warna-warna hangat yang ramah.

Beberapa tersenyum lebar, beberapa saling berbisik, sementara yang lain menatap sang kakek dengan perhatian sungguh-sungguh.

Mereka tampak berusia sekitar lima tahun: lincah, penuh energi, dan mata mereka berkilau penasaran.

Kakek itu tersenyum, keriputnya semakin dalam membentuk lembah di wajahnya.
"Baiklah," katanya lembut. "Kalau begitu, coba sebutkan. Kamu dulu, Karma kecil."

Seorang gadis berambut dan bermata gelap tersenyum, lalu berbicara dengan lantang:

"Kita tidak boleh menguras sesama anggota klan. Kita tidak boleh menguras anak kecil. Kita tidak boleh memberitahu rahasia klan kepada orang luar. Dan kita tidak boleh menghakimi."

Kakek itu mengangguk puas. "Itu benar. Karena sifat kita, klan Samsara menghargai dan menjunjung kebebasan individu. Namun hari ini, aku akan menjelaskan alasan di balik aturan-aturan itu-karena keempatnya adalah pengecualian mutlak terhadap kebebasan itu. Jika kamu melanggarnya, kamu bisa saja diusir oleh kepala klan."

The Clan of SamsaraStories to obsess over. Discover now