BAB 1

995 10 2
                                        





"aku bisa saja melawan mu, tapi aku masih ingat dengan status ku sebagai anak. jadi aku masih menghormati"
- Amora



HAPPY READING...


"bram, sudah. jangan terus terus an memukul dia, ingat dia anak mu" teriak bunda Amora histeris dengan perilaku suaminya.

"tidak, dia pantas mendapatkan semua ini. Anak sialan, kamu tidak pantas lahir di dunia ini" bantah ayah Amora seperti orang kesetanan.

Bram masih saja memukuli sang anak. Sudah hal biasa Amora dapatkan bahkan hanya masalah sepele pun bisa membuat Amora di ambang kematian. Tapi Amora tidak bisa melawan sang ayah, mau bagaimana pun Bram tetaplah ayahnya.

"mati kau sialan, kau tak pantas hidup" Bram semakin kuat melayangkan pukulannya kepada Amora.

Amora sudah kewalahan, ia berusaha menjawab perkataan sang ayah tetapi mulut ini kelu untuk sekedar berbicara. Amora sudah tak kuat, akhirnya Amora hanya pasrah di pukuli sang ayah.

Jika itu membuat sang Ayah puas, Amora akan melakukan semua nya. Walapun berakibat nyawanya.

"bram, sudahh. Aku mohon, Amora sudah hilang kesadaran. Aku mohon" bunda Amora menangis melihat sang putri sudah lemas akibat pukulan dari suami.

Seakan sadar, Bram berhenti lalu melirik sang putri yang sudah hilang kesadaran akibat ulahnya sendiri. Bram segera mengangkat Amora ala bridal style membawa menuju mobil.

"cepat ambil kunci mobil, Amora harus segera di tangani dokter" ucap Bram sedikit mem bentak karena sang istri tak kunjung bergerak.

Bram berlari membawa Amora menuju mobil, lalu menyalakan mesin mobil. Ia membelah jalanan kota yang sedikit padat, Bram menyalip semua kendaraan yang menghalangi jalannya. Bram telah sampai di rumah sakit.

"dokter buruan, anak saya darurat" ucap Bram panik. Semua perawat mendekati Bram dengan membawa brangkar.

Bram menaruh Amora di atas brangkar tersebut, namun melihat perawat yang hanya santai membuat amarah Bram tersulut.

"BURUAN, ANAK SAYA SUDAH DARURAT. KAMU SEENAKNYA SANTAI BEGINI" Bram membentak perawat tersebut.

Mendengar teriakan Bram, perawat tersebut sedikit berlari membawa Amora menjauh dari Bram.

Tak berselang lama dokter keluar dari ruang ugd. Bram yang melihat itu segera berlari menuju sang dokter, ia berharap tidak terjadi apa apa kepada Amora.

"dok, gimana keadaan anak saya dok. Tidak apa apa kan, tidak ada yang parah kan dok" Bram menyambut dokter dengan pertanyan beruntun.

"udah sayang, tenangin diri kamu dulu. Amora pasti kuat kok" Hanin mengelus lengan sang suami menenangkan.

"anak bapak dan ibu tidak apa apa, saya berhasil menyelamatkannya. namun telat  sedikit saja, nyawa anak bapak tidak bisa di tolong lagi" ucap sang Dokter.

"alhamdulilah, terimaksih dok. Sekarang apa boleh saya menjenguk anak saya" balas Hanin.

"boleh, silahkan bu. Saya permisi dulu" Dokter mengizinkan hanin untuk menjenguk Amora.

Hanin memasuki ruangan sang anak. sedangkan Bram menunggu di luar, ia belum ada keberanian untuk menemui sang putri. Hanin merasa gagal menjadi ibu, ia tidak bisa melindungi Amora dari amukan suami nya sendiri.

Hanin mendekati Amora lalu mengelus surai sang anak lembut, ia sangat merasa bersalah saat melihat beberapa selang yang tertancap di tubuh Amora.

"sayang, maafin bunda. bunda pecundang yang gabisa jaga kamu, bunda tau kamu kuat. jadi bunda minta kamu untuk bertahan demi bunda ya nak" Hanin terisak sembari menggenggam jemari Amora.

Hanin bisa saja melawan Bram namun jika ia melawan, Bram akan semakin murka, bisa saja mencelakai ia dan juga Amora bersamaan. Hanin juga pernah berniatan membawa Amora kabur, tapi sebelum kabur ia sudah ketauan oleh Bram.

Hanin merasakan jari Amora bergerak lalu perlahan mata Amora terbuka menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam penglihatan nya. Amora mengedarkan pandangan nya, sudah hal biasa saat ia melihat pemandangan seperti ini.

Namun saat ini, Amora benar benar tidak sanggup. Kali ini ayahnya benar benar murka, tidak di beri celah untuk melawan. Badannya juga sudah mati rasa.

"bunda, Amora capek" saat ini Amora benar benar merasa semua badannya remuk daripada biasanya. ia sudah tidak kuat lagi.

"sayang, jangan ngomong gitu. bunda tau Amora kuat, Amora kuat kan sayang. bertahan ya, bunda mohon jangan tinggalin bunda sendirian. kalo ga ada kamu bunda sendirian" isak bunda tertahan seakan tau arah pembicaraan sang anak.

"tapi bun, Amora udah ga tahan sama ayah. mora tau kalo ayah adalah orang tua mora tapi kalo terus begini Amora juga capek bun, badan mora sakit semua. ayah selalu saja luapin semuanya ke mora, mora ingin nyerah. tapi masih ada bunda di samping mora" cerita Amora dengan panjang.

"iya sayang, kamu jangan nyerah demi bunda ya. bunda tau kamu kuat, jadi mohon bertahan ya" balas bunda Amora.

•••

Sudah 4 hari Amora berada di rumah sakit tapi ayah Amora tak kunjung menampakan batang hidungnya.

"walaupun mora kecewa dengan ayah, tapi Amora ingin ayah jenguk mora sekali ini saja, mora ingin ngerasain kasih sayang dari ayah. kadang mora suka iri ngeliat temen temen diantar ayah nya ke sekolah, sedangkan mora ga pernah sekali pun di antar ke sekolah, mora rindu ayah yang dulu" ucap Amora sambil memandangi pintu ruang inap berharap sang ayah datang dan memeluk dirinya.

Namun semua itu hanyalah angan angan Amora saja, ayahnya tidak akan sudi menginjakan kakinya kemari.

Amora sudah sembuh tapi masih sakit di beberapa bagian badannya. Dokter sudah membolehkan Amora kembali pulang. Amora bersiap siap untuk pulang, tidak ada yang membantunya. bunda? tidak, bunda baiknya kadang kadang doang. ayah? ayah apalagi.

Amora sudah terbiasa dengan sikap keluarganya, tetapi Amora merindukan keluarganya yang dulu.

setelah semua selesai, Amora berjalan keluar dari rumah sakit sambil menenteng tas yang berisi baju kotor selama ia di rumah sakit.

Amora memberhentikan angkutan umum, ia ingin menuju rumah sahabatnya. Amora ingin istirahat sebentar dari amukan ayahnya. Biarlah ia menghilang beberapa hari untuk menyembukan luka yang di beri sang ayah.

Amora sampai di depan gerbang rumah sahabatnya, mora menekan bel rumah. Tak lama ALANA MADDISON sahabat Amora keluar dengan piyama hellokitty yang melekat di tubuhnya.

"ya tuhan, lo kenapa lagi. di amuk sama aki aki itu lagi ya, emang dasar ya. maunya bikin doang pas udah jadi malah di jadiin budak pelampiasan amarah" Alana mengomel ketika melihat tubuh Amora sedikit membiru dan sepertinya Amora masuk rumah sakit.

"udah, gue gapapa. jangan khawatirin gue, ini ga disuruh masuk dulu" kode Amora kepada temannya.

"engga, karena lo ngga ngabarin gue pas masuk rumah sakit. bye" Alana mengibaskan rambutnya meninggalkan Amora.

Amora yang mengerti temannya, segera mengejar Alana yang masuk duluan. mora melihat temannya sedang duduk santai di depan tv.

"maafin gue, ngga ngabarin" Amora minta maaf.

"ga peduli" Alana mengabaikan Amora.

"ih jangan gitu dong lan. beneran deh, gue masuk rumah sakit aja gatau. tiba tiba aja udah di rumah sakit sehabis di pukulin bokap, gue ga bawa hp makanya ga bisa hubungin lo" jelas Amora.

"ck, emang ya tu aki aki. jahat bener" bukan Alana tak menghormati, tapi ia sudah sangat kesal dengan ayah Amora.

"eh amora, kapan sampenya" ucap suara laki laki yang datang dari arah pintu utama.



















25 MARET 2024 (23.24)

AMORA [OPEN PO]Des histoires addictives. Découvrez maintenant