Halo Mei di sini. Maaf ada keterlabatan Update karena aku belakangan kurang enak badan. Selamat Membaca kisah Ini ya.
Author POV
Janji hanyalah janji. Siapapun bisa mengingkarinya tak terkecuali Jeyan. Janji yang telah ia buat bersama Lean dan Wisnu ia ingkari tanpa sebab. Pun dia tak memberi kabar jika ia membatalkan kedatangannya untuk ikut makan malam bersama pasangan kekasih itu.
Tujuh tahun perpisahannya dengan Lean tak membuat dirinya bisa melupakan cinta yang ia miliki dulu. Cinta itu masih bersemayam di hatinya, menunggu terbalas suatu saat dan kisah romansa bisa dirajut kembali seperti sedia kala. Tentu bukan hal yang mudah bagi Jeyan menyaksikan kemesraan Lean dan Wisnu di depan matanya.
"Lo sampe kapan sih main kucing-kucingan sama Wisnu sih?" hardik Mikha yang tak terima dengan sifat kekanakan Jeyan. Bersahabat dengan Jeyan dan Lean membuat Mikha bisa melihat kisah mereka dari dua sisi.
Jeyan nampak urung untuk menjawab pertanyaan Mikha. Pikirannya masih sibuk berkelana memikirkan perempuan yang dicinta. Entah karena ia
"Kalo lo gak mau diajak ngomong, jangan buang-buang waktu berharga gue dong. Harusnya gue udah di kamar, tidur sama istri gue dan mimpi indah. Gak di sini nemenin lo yang katanya mau curhat tapi dari tadi kayak orang bisu."
"Menurut lo, Lean bener-bener udah lupain cintanya ke gue?"
"Menurut lo? Wisnu bukan orang pertama yang menjalin hubungan sama Lean setelah kalian putus. Mungkin lo lupa Vano?"
"Itu gak ngejawab pertanyaan gue tadi, Mikh!"
"Kalo Lean emang masih cinta sama lo, lo pikir dia akan nyaman buat ngejalin hubungan sama cowok lain? Lo pikir, atas dasar apa Lean nerima cinta Wisnu? She has turned over a new leaf, she loved you before but you're not his man anymore."
"Dia udah melangkah maju sedangkan gue masih di sini aja, masih berharap ada keajaiban yang bikin dia kembali ke gue. Hidup bersama dan bahagia dengan kedua anak kita. Ternyata waktu gak bikin Lean ngelupain kebrengsekan gue dan keluarga gue."
"Nah itu lo tau. Lo pikir aja, setelah apa yang lo dan keluarga lo lakuin, lo pikir Lean akan lupain semuanya? Gue kalo jadi Lean mungkin bakal ngeracunin lo biar lo mati. Lo dan keluarga lo udah ngehancurin keluarganya dan lo udah bikin dia harus melewati masa paling gila dalam hidupnya."
Jeyan meremat tangannya. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan apa yang telah ia perbuat pada Lean. Ia seharusnya sudah cukup bersyukur sebab Lean sudah tak menaruh dendam padanya.
"Lo bener, Mikh. Gue harusnya tau diri. Udah saatnya gue juga bisa melupakan tentang gue dan Lean. Seharusnya gue sadar kalo Lean masih bersikap baik ke gue karena kita sepakat buat Co-parenting doang. Lo bener, Mikh. Gue harus menghadapi kenyataan dan hanya berfokus ke kedua anak gue."
Kali ini Jeyan bertekad untuk menghadapi kenyataan. Ia akan pergi untuk memenuhi janjinya pada Lean dan Wisnu. Persetan dengan api cemburu yang akan membakarnya nanti. Jika Lean sudah bisa melupakan masa lalunya, kenapa hanya Jeyan yang harus terjebak di masa lalu yang menyiksa?
Jeyan pergi tanpa pamit, tak peduli berapa kali Mikha memanggil dan mempertanyakan tujuannya. Ia tetap pergi dengan tergesa.
"Jey, lo mau kemana? Lo gak mau nemuin Lean dengan keadaan lo yang setengah mabuk itu 'kan?" Jeyan sudah terlalu jauh untuk mendengar pertanyaan Mikha. Mikha hanya bisa berdoa agar Jeyan tidak mengacaukan pertemuannya dengan Wisnu dan Lean. Setidak-tidaknya, ia berharap Jeyan bisa sampai di sana dengan selamat tanpa terlibat insiden apapun mengingat lelaki itu sudah cukup banyak menenggak alkohol.
YOU ARE READING
Familiae || JJH
Fanfiction"Kok Ayah sama Bubun gak tinggal bareng? Temen Dya orangtuanya tinggal bareng semua."-Sandya "Kata orang kita anak haram ya? Kenapa mereka bilang begitu? Kan kita punya Ayah sama Bubun."-Najma Berdamai dengan masa lalu nampaknya begitu sulit untuk...
