01: Ayahnya Riki.

506 42 3
                                        

Riki, anak berusia 3 tahun bangun dalam dekapan hangat Ayahnya. Ia berusaha lepas dari pelukan tersebut, ia menatap wajah damai ayahnya yang tertidur.

"Yayahh, banunn," panggil Riki sambil menepuk pipi sang ayah cukup keras.

Heeseung yang merasa terusik itu pun membuka matanya yang langsung disambut dengan senyum sang anak yang sudah berada di depan wajahnya.

"Riki udah bangun? ayah masih ngantuk nak." Heeseung kembalikan tubuhnya membelakangi sang anak, dan melanjutkan tidurnya.

Riki hanya menatap ayahnya, ia menarik narik baju yang dikenakan sang ayah untuk membuat ayahnya terusik.

"Ayaaahh!"

Riki pun naik keatas tubuh Heeseung, ia mendudukkan dirinya diatas tubuh ayahnya. Ia pun mulai mengguncang tubuh sang ayah, sambil manarik narik baju papanya.

"Yayah, banunn banunn. Iki mau mi susyuu," ucap Riki.

Heeseung yang sudah tidak tahan pun segera bangun, dan memindahkan sang anak ke pangkuannya.

"Anak nakal, ayah kan lagi tidur sayang. Kamu apa gak bisa bikin susu sendiri nak?" Ucap Heeseung, jujur saja ia benar benar mengantuk, sebab kemarin ia menemani Riki bermain sampai pagi menjelang karena anaknya tak kunjung tidur.

Riki menggeleng. "Da isaa yayahh, ayoo ikin susyu Iki."

Heeseung tidak bisa berkata tidak lagi, ia harus menuruti apa yang anaknya kau jika tidak ingin diganggu.

"Oke oke, ayo ke dapur. Riki jalan kaki yaa." Heeseung pun menurunkan sang anak dari pangkuannya.

Riki pun berdiri tegap di atas lantai, menatap sang ayah lalu mengangguk. "Syapp boss."

Riki pun berjalan perlahan mendahului sang ayah yang terkekeh melihat tingkah sang anak.

"Sini Riki, pegang tangan ayah."

Heeseung pun meraih tangan sang anak, lalu berjalan beriringan menuju dapur.

Sesampainya di dapur, Heeseung langsung mendudukkan Riki diatas kursi. Riki yang sedang mager itu hanya duduk anteng menunggu ayahnya membuat susu.

"Yayah," panggil Riki.

"Iyaaa nak?"

"Tati jalyan jalyan yu, te taman ain pak boya," ucap Riki sambil menatap sang ayah.

Heeseung yang mendengar ucapan sang anak sedikit berpikir, saat ia paham pun langsung terkekeh.

"Iyaa nanti sorenya yaa sayang, kalau siang siang nanti panas."

Riki menggeleng. "Da panyas yayahh."

"Panas Riki, nanti iki capek tau kalau main sepak bola panas panas," ucap Heeseung berusaha memberitahu sang anak, bahwa bermain bola disiang hari itu bukan hal yang bagus.

"Ihh ya ya ya, api yayah dandii yaaa." Riki menjulurkan jari kelingkingnya untuk membuat janji dengan sang ayah.

Heeseung tertawa kecil lalu meraih jari mungil tersebut. "Iyaa ayah janjii."

"Nah ini susunya Riki, sekarang mau boboan di kamar apa mau sambil nonton tv?" Tanya Heeseung yang langsung menggendong tubuh anaknya.

Riki mengambil dotnya dan langsung memeluk leher sang ayah saat ia sudah berada pada gendongan ayahnya.

"mauu noton tv, letcugoo yayahh"

Heeseung pun membawa tubuh kecil sang anak menuju ruang, dimana ia sering menghabiskan waktu dan bermain dengan sang anak. Heeseung langsung mendudukkan sang anak di atas karpet dengan bantal yang berada di belakang tubuh sang anak, ia pun langsung menyalakan televisi dan mencari film kartun kesukaan sang anak.

Ayah HeeWhere stories live. Discover now