CHAPTER 1

228 91 184
                                        

Hai, selamat datang di karya kedua ku ya! jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote and komen jika kalian menyukai cerita ini.

•••

Happy Reading💓

•••

Bel Sekolah berbunyi nyaring, menandakan waktu masuk dimulainya pembelajaran. Semua Siswa Siswi memasuki kelasnya masing masing. Di salah satu kelas 11 MIPA 1, para murid terpaku menatap dua orang yang berdiri di depan kelas. Lebih tepatnya pada satu orang diantara mereka. Seorang siswa laki-laki yang berdiri di samping wali kelas mereka.

"Jadi anak-anak, ini nak Milven karena hari pertama pergiliran kelas kemarin Milven tidak masuk sekolah, jadi boleh sekarang perkenalannya. Ayo nak." Ucap Ibu Guru, Bu Ros namanya.

Suasana kelas sangat tegang, tak ada satupun yang bicara.

Laki-laki yang diperkenalkan itu hanya terdiam dan menatap Bu Ros dengan alis mengerut. Menangkap tatapan itu Bu Ros pun terperanjat, mengingat hal penting dan harus Ia sampaikan pada seluruh murid.

"Astaga Ibu lupa. Emm jadi Anak-anak, ini adalah Nak Milven Baghastara. Dan ada satu hal untuk Anak-anak ingat, bahwa Milven itu Tunawicara. Jadi, untuk itu Ibu harap kalian dapat merangkul Nak Milven."

Suasana Kelas hening sejenak, namun kembali riuh dengan obrolan murid kelas yang saling menyaut, lebih tepatnya berbisik.

"Gak perlu di kasih tau juga kita udah tau."

"Gila, dirangkul gimana. Kayanya, baru gua senyumin nyawa gua keburu ilang."

"Waduh, gawat sekelas sama dia lagi."

"Gua denger katanya kemarin dia ribut sama anak sekolah lain, sampe tuh anak sekolah lain masuk rumah sakit."

"Njir, yang bener lo?."

Bangsat. Satu kata terucap sinis di hati Milven. Mata foxy miliknya beredar tajam menatap semua siswa yang berbisik riuh membicarakannya. Dengan itu, semua siswa kelas pun terdiam, tidak berani untuk bergerak satu milimeter pun.

"Yaudah, Nak Milven silahkan kamu duduk di--"

tok..tok..tok

Pintu kelas terbuka dengan menyembulnya kepala seorang gadis yang tersenyum canggung melihat suasana kelasnya.

"Permisi Ibu, maaf saya terlambat." Ucap gadis itu memasuki kelas, ia berjalan menghampiri sang Guru dan menyalami tangannya. Suasana kelas sedikit longgar tidak setegang sebelumnya, kedatangan gadis itu membawa atmosfer ringan.

Setelah manyalami Bu Ros, gadis itu menatap laki laki disamping Gurunya. Gadis itu berusaha tersenyum ramah, namun yang ia dapatkan hanya sebuah tatapan sinis dan alis tebal yang mengerut risih.

Mendapat tatapan itu, gadis itu memalingkan wajahnya cepat.

"Kenapa kesiangan, Garci?"

Garcinia Chandani atau yang sering disapa Garci, gadis itu menggaruk tengkuk lehernya dan tersenyum cengengesan.

"Hehehe, ini Bu eumm tadi kejebak macet. Terus ban motor saya pecah Bu, harus di kompa, parahnya lagi saya di kejar orang gila, asli deh Bu. Liat rambut saya sampe berantakan."

"Kamu ini, banyak alasannya, ban nya kurang angin kalo di kompa bukan pecah. Orang gila mana yang ngejar orang yang lagi naik motor? Aneh-aneh aja, baru hari kedua sudah kesiangan, alasannya ga masuk di akal lagi. Ya sudah duduk di kursi kamu."

Mr. SilentStories to obsess over. Discover now