Tujuhbelas

10.5K 624 52
                                    

"P-pa... pa?"

Dengan suara seraknya gadis itu bersuara, membuat Listi dan Wafa tersentak dan menoleh cepat ke arah Nada. Keduanya memiliki ekspresi berbeda. Pria itu kentara sekali terkejut, sedang Listi hanya terkejut sebentar lalu raut wajahnya kembali rileks.

"Nada," Dandi dan Wafa sama-sama memanggil.

Dandi menunduk, membiarkan Wafa menyuarakan pikirannya terlebih dahulu. Iya, ia tahu ini sebuah kesalahan dan sudah seharusnya ia bertanggung jawab. Pria tua itu tersenyum tipis, memperlihatkan wajah lelahnya yang kurang tidur semalaman.

"Papa? Papa? Bagaimana ini, Bi? Paman? Apa hanya Wafa yang tidak tahu?" Wajah Wafa mengeras, memperlihatkan emosi yang sebelumnya jarang sekali ditunjukkan.

"Pamanmu bisa menjelaskannya, Nak," lirih Listi sembari menatap nanar ke arah Nada yang sepertinya sudah tidak fokus kembali.

"Menjelaskan yang bagaimana? Oh... dan kau juga tidak tahu, Nad?" Kali ini Wafa bertanya ke Nada, meyakinkan dirinya bahwa ini semua tidak ilusi, tidak mimpi, dan sebuah kenyataan pahit.

Nada menatap Wafa dengan pandangan terluka. "Kau...," Setetes air mata mengalir begitu saja ke pipi pualam gadis itu. "Sepertinya kalian harus menyelesaikan permasalahan kalian terlebih dahulu. Saya pamit, Assalamu—

"PERMASALAHAN KALIAN BAGAIMANA, HAH? Dia itu Ay—sial... aish," Wafa menahan Nada lalu kemudian mengacak-acak rambutnya, frustasi.

"Fa... ini rumah sakit, kau harus lebih mengecilkan suaramu, Nak," interupsi Listi pelan.

Wafa menoleh cepat ke arah bibinya, benar-benar terluka. "Bi... apa Bibi yang merebut Paman? Apa Bibi yang membuat Paman meninggalkan istri dan anaknya sepuluh tahun lalu?" Dengan perasaan kalut Wafa menyuarakan pemikirannya, membuat Listi tersentak dan merasa tersakiti. Segala hal yang diucap Wafa bagai belati yang menyayat hatinya, begitu perih dan meninggalkan bekas.

"Wafa," Dandi memperingatkan Wafa.

"Aku sedang bertanya pada Bibi, Paman!" sentak Wafa benar-benar kalang kabut.

"Aku yang mengejar bibimu! Bukan dia! Dia tidak pernah tahu apa-apa tentang masa laluku, Wafa!" beritahu Dandi, terpancing emosi.

Nada yang melihat adu mulut itu hanya bisa menyandarkan tubuhnya ke kursi tanpa bisa menggerakkan satu pun anggota tubuhnya. Ia merasa sangat lemas yang bahkan untuk berbicara pun ia tak mampu. Ia memejamkan matanya kuat-kuat, menghalau air matanya mengalir lebih deras dan menenangkan dirinya. Tapi nyatanya ia tak mampu. Kedua kalinya ayah kandungnya sendiri menyakitinya. Dua kali, dan luka yang kali ini terasa lebih dalam dan lebih menyakitkan.

"Ak-aku," Tiba-tiba Nada merasa napasnya begitu sesak. "Aku... aku benar-benar harus pulang, Kak," lirih Nada sesenggukan.

Wafa sama sekali tak menjawab, membuat Nada menarik kesimpulan bahwa pria itu memperbolehkannya pulang. Iya, dia harus pulang. Dia harus menemui ibunya dan meminta maaf pada ibunya.

Saat Nada berdiri hendak melangkah keluar, tiba-tiba...

"Ustazah... jangan tinggalin Irfan sendirian," Bocah kecil yang meringkuk di tengah-tengah pertengkaran orang dewasa itu menangis dengan tatapan sedih.

***

Di tempat lain, Rani memasukkan satu per satu album foto keluarga kecilnya yang masih bahagia ke dalam sebuah kardus. Sebelum memasukannya, ia membukanya kembali, mengisi memorinya dan mencoba merasakan kembali kehangatan yang pernah diberikan Dandi padanya dan juga anaknya. Sakit, memang. Tapi cinta tidak bisa egois. Kau tidak boleh memaksakan kehendakmu. Jika seseorang yang kau cintai memiliki perasaan lebih pada orang lain, maka sepatutnya kau harus bisa melepaskannya. Karena dengan seperti itu, kau yakin tidak akan ada lagi luka yang tertinggal.

Jodoh dari Surga-NyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang