Prolog

11 0 0
                                        

"Dina pasangannya dengan Giwang ya.. terus.." kedua matanya masih menyusuri kertas absen nama-nama siswa kelas kami,"Selma sama Arya.."

Suara tawa dari sekumpulan laki-laki yang ada dibelakang kini menyudutkan Arya dengan kata 'cie' dan itu cukup membuatku risih. Apa lagi Arya pasti sekarang merasa malu dipasangkan denganku. Kepalaku menunduk sedih, dari hari-hari sebelumnya aku sudah menebak semua laki-laki dikelasku pasti tidak ada yang mau berpasangan denganku untuk test tari nanti.

Siapa yang mau dipasangkan dengan aku?

Tidak putih. Tidak cantik. Pemalu. Pokoknya tidak sempurna seperti kebanyakan teman-teman seumurkanku lainnya.

"Bu.. jangan sama saya.." Protes Arya pada akhirnya saat risih dengan siulan yang lain.

"Nah kan go publik.."

"Jodoh mah nggak kemana."

Bukan pujian. Aku tau itu ejekan dari mereka. Aku tidak mau menatap orang-orang termasuk guru yang sudah terkekeh pelan. Kata-kata mereka memang menyayat hati. Aku tidak tahu letak kesalahan ku pada mereka ada dimana?

"Yasudah.. Ada yang mau jadi pasangan Selma?"

Tidak ada yang mengangkat tangan. Sesuai ekspetasiku dibeberapa hari lalu. Detik itu juga aku ingin menangis. Aku dipermalukan di depan satu kelas. Seharusnya ini hal yang biasa tapi tetap saja sakit.

Memang aku sejelek itu? Semenjijikan itu?

"Saya aja bu, gapapa." suara lugas itu terdengar menjadi pusat perhatian satu kelas. Namanya Rendra Septian Nugraha.

—Diary Selma—

Hai! Jadi sebenernya ini cerita udah aku pengen aku angkat dari dulu, ini adalah salah satu karya aku yang diangkat jadi kisah nyata aku waktu ngelewatin masa-masa pubertas. Bullyan ejekan dari teman-teman sekelas, mungkin kalian pernah atau sedang ada di fase ini?

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 28, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Diary SelmaWhere stories live. Discover now