"Maha agung kaisar memasuki ruangan"
Para pelayan membungkuk ketika kasim mengumumkan kedatangan mendadak sang kaisar agung. Dari decitan lantai kayu, mereka dapat melihat sepatu buludru berwarna hitam melewati mereka satu per satu.
Itu dia si agung yang sejak dua tahun lalu naik tahta menjadi seorang kaisar. Pria berperawakan gagah itu melipat tangannya dibelakang berjalan di depan iringan pelayan dan beberapa perdana mentri.
"Istriku di dalam?" tanyanya dengan suara bariton khasnya. Salah seorang pelayan membuka suara, "Benar, yang mulia. Yang mulia Permaisuri di dalam"
Mendengar ucapan kepala pelayan sang istri, pria itu mengangguk dan menitahkan mereka untuk meninggalkan paviliun permaisuri.
Ia membuka pintu kayu berukiran naga emas, namun mengernyitkan alis. Kemana istrinya pergi? Biasanya setiap jam tiga, sang permaisuri akan meminum secangkir teh sembari membaca. Namun kini wanita yang mempu membuatnya bertekuk lutut itu menghilang.
Ia berjalan dengan pelan menuju paviliun belakang, sebuah tempat yang dibuat khusus atas permintaan sang permaisuri yang menyukai pemandangan hutan bambu rindang. Gemericik air terdengar saat pria itu memasuki hutan bambu, di sana, di tengah bambu tinggi terdapat sungai kecil.
Ia mendekat dan tersenyum kecil, ikan-ikan hias indah disana hidup dengan damai, sesekali ikan-ikan tersebut akan saling kejar mengejar merebutkan makanan yang seseorang berikan beberapa menit lalu.
Ia kembali berjalan menyusuri jalan setapak kecil, sekitar tiga meter di depannya ia dapat melihat siluet wanita pujaannya, pria itu semakin mempercepat langkah dan berhenti tepat di belakang sang permaisuri.
"Hormatku pada permaisuri negeri ini" ucapnya sembari tersenyum simpul.
Gadis itu terkesiap dan segera menoleh kebelakang, air matanya berlinang dan segera menerjang pelukan sang suami.
"Yang mulia! Aku benar-benar merindukanmu" Pria itu tersenyum dan mengelus punggung sang istri, "Akupun merindukanmu"
Lizhin menatap wajah sang suami dengan air mata, sudah sebulan ia tidak melihat paras tampan tersebut. Wangyi mengusap air mata sang istri dengan ibu jari kemudian mengecup kening wanita itu, "Jangan menangis, aku membencinya"
Tangis Lizhin semakin deras, "Bagaimana bisa aku tidak menangis? Selama sebulan aku tidak mendengar kabarmu! Bahkan keberadaanmu tidak diketahui siapapun!"
Wangyi tertawa, dan kembali memeluk Lizhin, "Sudah satu tahun kita menikah tapi kau belum terbiasa dengan tugasku rupanya" ia terkekeh, "Aku pergi untuk melindungi wilayahku permaisuriku, dan aku pasti akan kembali"
"Aku takut kau berbohong" cicit Lizhin dalam pelukannya. Wangyi tersenyum, "Itu tak akan terjadi"
Pasangan itu saling menukar kabar; apa yang Lizhin lakukan ketika ia pergi, kemana Wangyi pergi bertugas sebulan belakangan, bagaimana kondisi kerajaan sepeninggal Wangyi bahkan berapa kali Lizhin menangisi kepergian Wangyi yang mendadak.
"Katakan padaku kemana yang mulia meninggalkanku mendadak?" Desak Lizhin, memaksa agar sang suami membuka mulut.
Wangyi menghela napas, "Di perbatasan timur banyak bandit menyerang dan merampas kekayaan rakyat, yang menyebabkan kerusuhan dimana-mana" Ucapnya kemudian kembali mengelus surai lembut Lizhin, "Sekarang giliranku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan saat kau pergi? Kau terlihat sangat sibuk" Ucapnya sembari melirik setumpuk kain di atas meja.
Lizhin tersenyum dan mengambil sapu tangan buatannya, "Lihat aku membuatnya"
Wangyi tersenyum, "Kau menyulam? Sangat indah" Puji pria tersebut membuat pipi sang istri seketika merona, "Benar, aku mempelajarinya beberapa hari lalu"
YOU ARE READING
BETWEEN ME AND US
Historical FictionSebuah untaian takdir telah terjalin antara tiga giok Dinasti Qin. Hubungan antara cinta, politik dan dendam menjadi satu dalam benang merah takdir. Hubungan yang penuh akan sandiwara dan penghianatan mengharuskan mereka untuk terus menyimpan sebila...
