01

193 14 6
                                        

Reuni sebenarnya menyenangkan tapi bisa berubah menyebalkan, apalagi jika kau memiliki teman yang tukang pamer. "Aku sudah diterima di perusahaan multinasional dengan gaji menggiurkan." Ucap Jimin berapi-api, menyukai perhatian yang diberikan atas kalimatnya.

"Kau tak ingin bergabung dengan mereka?" Jin menyandarkan punggungnya pada dinding kelas, tepat disamping Taehyung.

"Tidak, apa yang perlu dibicarakan tentang hidupku, tak ada yang menarik." Jawab Taehyung sambil memperhatikan isi kelas yang sama sekali tak berubah meski dia telah lulus hampir delapan tahun yang lalu, dari SMP ini.

"Kau tak suka perhatian?"

"Bukan—aku hanya pecundang dibanding mereka semua."

"Kau bukan pecundang Taehyung, jangan merendahkan dirimu. Ayolah dimana mimpi besar dan semangatmu itu." Taehyung menoleh, menatap teman sekaligus kakaknya itu dengan senyum kecut. "Sudah hilang karena kenyataan."

"Ayolah, semua orang pernah kehilangan arah tapi saranku cepat bangkit dan temukan jalanmu." Jin tersenyum bijaksana.

"Akan aku pikirkan sambil membantumu di toko." Taehyung tertawa pelan usia menyelesaikan kalimatnya.

"Taehyung, ditolak masuk perusahaan idaman bukan akhir hidupmu. Bagaimana jika kau mencoba perusahaan dengan level yang lebih tinggi? Park corporation."

"Oh tidak, jangan perusahaan itu. Aku saja enggan mengantar bunga kesana tempo hari. Apa Hyung tidak mendengar cerita bos besar di sana, sangat kejam? Dia bahkan memecat karyawan setianya demi pembaharuan kinerja."

"Mungkin—itu penting demi kelangsungan perusahaan." Jin yang selalu berpikir positif tentu saja mengucapkan sesuatu yang positif pula.

"Tapi mengusir kakek tua yang tersesat dari lobi gedung dengan tak hormat itu—menjijikkan."

"Baiklah, baiklah, kau tak perlu masuk kesana jika benci. Cari saja perusahaan lain di bawahnya."

"Aku setuju ide itu."

"Kita harus pulang, untuk memastikan semua kiriman bunga sempurna, kau tahu apa yang terjadi jika ada yang salah kan? Ini perusahaan Park."

"Hmm. Hyung jangan menerima pesanan dari Park lagi, maksudku—mereka tak menoleransi kesalahan sekecil apapun, aku hanya cemas."

"Jika kita berpikir positif hasilnya pasti positif."

"Ya, semoga hal itu benar." Bisik Taehyung meski kecemasannya sama sekali tak terkikis.

"Taehyung, kenapa berdiri di sana?!" pekik Jimin sambil melambaikan tangan kanannya, mengisyaratkan Taehyung untuk mendekat.

"Pergilah Taehyung." Taehyung menampakkan wajah enggannya. "Setidaknya jangan menunjukkan bahwa kau kalah telak, ayolah, atasi si Jimin itu."

"Baiklah...," gerutu Taehyung malas.

"Aku pergi ke toko sekarang ya."

"Hyung meninggalkan aku sendiri di sini? Oh tidak Hyung jangan melakukan ini padaku. Seokjin hyung." Seokjin atau yang biasa dipanggil Jin itu hanya tersenyum lebar kemudian berlalu.

I Am YoursWhere stories live. Discover now