Assalamu'alaaikum ini adalah kisah pahit manisku waktu menuntut ilmu dulu, ntah harus ku mulai dari mana.
Namaku Linda Puspita Sari, anak dari seorang petani yang tinggal di sebuah pegunungan Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. Aku adalah seorang alumni dari Ma'had Al Birr Universitas Muhammadiyah Makassar.
Aku lahir dari keluarga yang kurang mampu, aku dibesarkan dengan serbah kekurangan. Karena itu setelah aku lulus dari sekolah menengah atas, tak terbesit sedikitpun di dalam diriku untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah, pikiranku saat itu adalah ingin langsung kerja saja, karena aku tak mau merepotkan orang tuaku, aku tak mau menambah beban mereka dengan aku kuliah.
Aku ingin segera bekerja, aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untukku berbakti kepadanya.
Setelah selesai UNBK aku langsung ke Makassar bersama dengan sepupuku untuk bekerja di rantauan, padahal waktu itu pelulusan saja belum, tapi saking semangatnya, akhirnya aku memberanikan diri untuk meninggalkan kampung halamanku.
Saat sampai Makassar, aku numpang di kost sepupuku keesokan harinya barulah ia menemaniku ke tempat kerjaku. Sedangkan dia tidak ikut bekerja denganku karena dia masih berstatus sebagai mahasiswi di UIN Alauddin.
Saat perjalanan menuju tempat kerjaku, perasaanku campur aduk, ntahlah tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata. Bagaimana tidak ini adalah pertama kalinya aku bekerja juga sendirian di rantauan. Aku bekerja di salah satu tokoh donat.
Singkat cerita, ku lalui hari-hari kerjaku dengan penuh kepahitan, namun aku tetap harus bertahan karena cita-citaku adalah ingin membahagiakan orang tuaku. Dan sudah ku nadzarkan dalam diriku bahwa gaji pertamaku akan ku berikan untuk orang tuaku.
Dunia kerja memang gak selalu mulus, setiap hari kulalui di tempat kerjaku tanpa adanya istirahat kecuali jika waktu tidur malam telah tiba juga waktu sholat, waktu tidurku pun terbatas, yah selalu hanya dua jam dalam sehari semalam.
Tapi aku gak menyerah begitu saja, aku terus berjuang karena ada impian yang ingin aku gapai.
Awalnya begitu pahit untuk ku ceritakan, awal yang menguras tenaga, pikiran, dan air mata. Yah awal yang sangat pahit, karena aku difitnah oleh salah satu rekan kerjaku jikalau aku telah mencuri uangnya. Padahal aku baru saja bekerja hitungan hari.
Tapi aku sangat bersyukur karena mampu bertahan sampai satu bulan pertama bekerja. Hingga tiba waktu gajian. Diriku sangat bahagia, tak sabar rasanya ingin segera mengirimkan gaji pertamaku untuk kedua orang tuaku.
Seiring berjalannya waktu akhirnya terbukti bahwa diriku bukanlah seorang pencuri dan tidak pernah mencuri, setelah sekian lama di jauhi oleh rekan kerjaku.
Tapi terlepas dari itu semua, hal yang membuat aku sangat-sangat bersyukur lagi yaitu, aku dipertemukan dengan salah satu rekan kerja yang dengan dirinyalah ALLAAH menakdirkan diriku untuk bisa kuliah di salah satu kampus impianku. Kuliah yang sebelumnya tidak pernah terbesit dalam pikiranku.
Yah, dia bercerita kepadaku, bahasannya dia adalah alumni lulusan pondok, dia bercerita kepadaku bagaimana bahagianya menjadi seorang santriwati. Yang mana semuanya serba antri, makan, mandi. Bahkan bagaimana dituntut oleh guru untuk menyetor hafalan.
Mendengar itu semua aku hanya bisa tersenyum, ingin rasanya merasakan menjadi santriwati. Ingin rasanya makan yang serba antri dan lain sebagainya.
"Tapi bagaimana bisa, sedangkan aku sudah lulus sekolah menengah atas apa iya masih bisa mondok?" gumamku dalam hati waktu itu.
Ku lalui hari kerjaku seperti biasanya, sambil kerja saya dan juga temanku sambil ngobrol. Lagi-lagi dia bercerita tentang kehidupannya di pondok. Ia mengerti keinginanku yang begitu besar ingin mondok.
"Kalau kamu mau merasakan kayak jadi anak pondok, ayo kita kuliah di Al Birr. Di sana bagus ada asramanya juga jadi persis kayak lagi mondok," ucapnya waktu itu.
Mendengar itu semua aku sangat semangat untuk bisa menjadi salah satu dari mahasiswinya.
"Dengan kuliah di sana, itu adalah kesempatanku untuk bisa memperbaiki bacaan Al-Qur'anku," gumamku dalam hati dengan senyum lebar.
Yah, bacaan Al-Qur'anku memang sangat hancur waktu itu, karena sedari kecil aku hanya belajar mengaji dari mamaku yang juga orang awam. Aku tak bisa membedakan cara baca tsa, dzal, sin dan Zai.
Hingga pada suatu hari, kerjaanku tak begitu banyak. Akupun izin ke bosku, hari itu aku gunakan untuk pergi ambil formulir di kampus favoriku tersebut. Dan Alhamdulillaahnya orang tuaku support diriku untuk bisa kuliah. Bahkan ia bersedia membiayai kuliahku. Aku sangat terharu kupikir orang tuaku melarang karena kami dari orang yang tak mampu. Teringat jelas perkataan mamaku waktu itu.
"Kalau kamu memang mau kuliah, silakan, Nak. Lanjutkan pendidikanmu untuk biaya kamu tak perlu khawatir biar mama dan bapak serta saudara laki-lakimu di sini yang bekerja untuk biaya kamu kuliah, di sini kami banyak yang akan bekerja untuk kamu." Suara dari balik telepon yang berhasil menciptakan senyum lebar di bibirku.
Mendapatkan support langsung dari orang tua seperti itu, rasanya seperti mendapat tiket emas langsung untuk masuk di perguruan tinggi. Setelah beberapa bulan kerja saya resign dari tempat kerjaku karena mau ikut tes masuk kuliah. Yang mana temanku resign lebih awal dariku.
Hingga tiba hari yang kutunggu-tunggu. Hari itu aku sangat Deg-dagan, takut, khawatir tapi ku lawan rasa deg-degan dengan semangat yang begitu tinggi. Sambil menunggu panggilan masuk dalam ruangan. Kuperhatikan kiri dan kananku mereka sangat antusias dan semangatnya tentu tak kalah dariku. Hari itu tepatnya hari mengikuti tes untuk masuk kampus.
Setelah beberapa menit kami semua memasuki sebuah ruangan sesuai nomor peserta di formulir kemarin. Setelah kubuka lembar soalnya diriku begitu syok, karena soalnya full bahasa Arab. Dan tentu saja bahasa Arabku waktu itu masih zonk. Ntah harus ku isi dari mana. Ku paksakan diriku untuk memahami soal-soal tersebut tapi hasilnya nihil. Tetap, tak satupun aku mengetahui jawabannya.
Alhasil ku kerjakan semua soal itu dengan ngasal dan bermodalkan basmalah, ntah benar atau salah yang terpenting optimis. Dan akhirnya selesai juga ku kerjakan semuanya. Waktunya istirahat, karena setelahnya nanti kami masih harus ujian lisan.
Setelah istirahat, namaku di panggil oleh salah satu dosen untuk masuk kedalam idaroh kampus untuk ujian lisan, dan pastinya saya lebih deg-degan dari sebelumnya karena ternyata ujiannya adalah tes bacaan Al-Qur'an. Dengan badan gemetar sambil tersenyum lebar aku duduk di depan dosen pengujiku. Aku di suruh baca salah satu ayat dalam Al-Qur'an.
"Bagaimana caranya kamu mau masuk Al Birr, sedangkan bacaan Al-Qur'anmu saja masih seperti ini. Kamu taukan di sini itu belajarnya full bahasa Arab, jadi harus bisa ngaji," ucap dosen pungujiku dengan lantang.
Deg, mataku langsung berkaca-kaca.
"Ini adalah alasanku masuk di sini biar bisa memperbaiki bacaan Al-Qur'anku," jawabku dengan nada pelan.
"Di sini itu tidak ada program tahsin. Ada, tapi itu program asrama khusus yang tinggal asrama dan disini asramanya terbatas," jawabnya dengan tegas.
Tapi sebenarnya dosenku ini sangat baik, setelah diajar oleh beliau, beliau menjadi dosen favoritku di kampus. Setelah tes bacaan Al-Qur'an sekarang waktunya wawancara. Ku jawab semua pertanyaan yang diberikan oleh dosen dengan harapan agar bisa lulus beasiswa. Akan tetapi setelah wawancara, Qodarullaah aku tidak bernasib baik seperti temanku yang mendapatkan full beasiswa.
Aku keluar dari ruangan tes, sambil menangis, pupus sudah harapanku, setelah melewati dua tes tadi. Aku berpikir mungkin aku tak lulus untuk kuliah di perguruan tinggi ini. Rasanya takut sekali. Setelah kedua tes tersebut aku tak langsung pulang, karena masih ada satu tes, yaitu tes masuk asrama.
Di sini diriku sangat berharap agar sekiranya aku bisa lulus supaya bisa tinggal asrama.
___
Sampai sini dulu yah! Bagaimana siap berlayar dengan lanjutkan ceritanya?
(Di ketik di Kolaka Utara dan Gowa)
ESTÁS LEYENDO
Ilmu Itu Mahal
No FicciónCerita ini merupakan kisah nyata dari author, yang sengaja dibukukan untuk kembali di kenang oleh author dan semoga bisa menjadi motivasi untuk para readers dan senantiasa berprasangka baik kepada ALLAAH akan takdirnya.
