ON GOING
! STAY TUNED!
Biru dan Lyra percaya bahwa cinta adalah tentang memiliki waktu sebanyak-banyaknya untuk bersama-tentang kencan sederhana, tawa di tengah kesibukan, dan mimpi tentang masa depan yang ingin mereka bangun berdua.
Namun, ketika B...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Kalau ada seratus kehidupan dan aku harus memilih seseorang untuk kucintai, maka aku akan tetap mencari kamu Biru."
-Lyra-
🐋🐋🐋
Happy Reading
***
"Belum selesai juga, Mbak lukisannya? udah jam 5 sore, loh. Balik lah yuk."
Suara itu terdengar bersamaan dengan langkah seorang perempuan berambut pendek yang warna nya begitu nyentrik. Ia baru saja membuka ruang kelas yang nyaris kosong, lalu melangkah masuk dengan santai.
Cahaya matahari sore menyusup dengan tenang melalui jendela-jendela tinggi ruang kelas seni, jatuh sebagai semburat keemasan di antara kanvas-kanvas yang berjajar memenuhi ruangan
Di salah satu sudut, seorang perempuan duduk fokus menghadap kanvasnya.
Rambut cokelat sebahunya tergerai bebas, beberapa helai jatuh menggelitik sisi wajahnya. Sebuah bandana kain sederhana terikat di kepalanya, menahan sebagian rambut agar tidak mengganggu pandangan. Ia mengenakan atasan bewarna kuning susu yang sederhana, dipadukan dengan celana jeans biru tua yang sedikit terkena noda cat.
Tangannya bergerak perlahan. Ujung kuas menari di atas kanvas, meninggalkan sapuan demi sapuan. Perempuan itu memiringkan kepala, memperhatikan lukisannya cukup lama. Lalu, tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis. menampilkan 2 buah lesung pipi kecilnya yang sangat manis.
"belum selesai juga tuh lukisan Lyra?" tanya perempuan tomboy itu setelah berhasil berdiri di belakang perempuan yang dipanggil dengan nama Lyra itu.
"perfect. bagus kan?" Lyra dengan senyum yang menampilkan giginya bertanya dengan bangga.
Sofia, nama perempuan berambut pendek itu. Nama yang selalu Lyra rasa tidak cocok dan berbanding terbalik dengan kepribadian sahabatnya itu.
Sofia menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap lukisan itu. "Bagus." mendengar jawaban dari Sofia Lyra tersenyum semakin lebar.
"Tuh, kan? Ini bakal jadi kado ulang tahun untuk Biru tahun ini." ungkap Lyra dengan senang.
"enak banget jadi Biru, selalu dapat lukisan bagus dari mahasiswi seni terbaik selama tiga tahun ini. jujur aku sedikit iri sih." Sofia menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Lyra terkekeh kecil.
"Makanya punya pacar yang suka melukis juga dong." Lyra mulai membereskan beberapa alat lukis miliknya, ia juga melirik jam tangan yang ada di tangannya.
"Ogah." ucap Sofia dengan cepat membantah.
"Lah kenapa?" tanya Lyra berpura-pura heran, dia tau sekali watak sahabatnya itu.