No.1

33 3 2
                                        

Hari Minggu biasanya identik dengan waktu untuk rebahan di kamar. Namun, hal itu tidak berlaku bagi lima gadis yang sangat suka menghabiskan waktu bersama. Bagi mereka, Minggu adalah momen istimewa untuk berkumpul dan saling berbagi cerita.

Hari ini, mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah danau kecil yang tidak jauh dari taman kota. Mereka duduk melingkar di atas rerumputan hijau, dengan aneka makanan yang mereka bawa memenuhi tengah lingkaran.

"Mari makan!" ajak Hafiza dengan antusias.

"Ayo! Aku udah lapar," sahut Samira, tak sabar ingin mengambil makanan.

"Tunggu! Tangan kalian udah bersih belum?" tanya Ilyana memastikan.

"Bersih!" seru mereka serempak.

"Kalau gitu, berdoa dalam hati, dimulai." Ilyana memimpin dengan lembut.

Setelah berdoa, mereka menikmati makanan bersama-sama. Tawa kecil dan candaan ringan mewarnai suasana. Setelah selesai, mereka mencuci tangan dengan tisu basah dan kering.

"Alhamdulillah, kenyang," ucap Azrina sambil tersenyum puas.

"Iya, Alhamdulillah," sahut Rayya setuju.

"Oya, Azrin, Ray, gimana sekolah baru kalian? Nyaman nggak?" tanya Ilyana dengan penasaran.

Sebagai catatan, Rayya dan Azrina kini bersekolah di tempat berbeda. Mereka memilih sekolah sesuai keinginan masing-masing. Sementara itu, Hafiza, Samira, dan Ilyana tetap berada di sekolah yang sama dan bahkan satu kelas.

Kelima gadis ini sudah bersahabat sejak SMP, dan meskipun kini mereka terpisah oleh kesibukan, mereka selalu berusaha menjaga komunikasi agar tetap dekat.

"Aku nggak betah," Azrina mulai bercerita dengan nada sedih. "Aku dibully teman-teman sekelas. Mereka nggak suka aku pakai kerudung."

"Apa?! Tega banget mereka!" Samira langsung kesal. "Itu kan hak kamu! Kenapa mereka malah risih? Dasar nggak jelas."

"Ya Allah, Azrin, terus sekarang gimana? Kamu nggak mau pindah aja?" Hafiza menimpali dengan cemas.

"Aku nggak bisa. Biaya sekolah ini udah mahal banget. Kasihan Mama kalau aku minta pindah," jawab Azrina pelan.

"Bener juga sih, tapi apa kamu kuat?" Ilyana bertanya dengan penuh perhatian.

"Aku usahain," Azrina mencoba tersenyum meski hatinya terasa berat.

"Semoga berhasil ya, Azrin. Aku doain semoga ada teman yang Allah kirimkan untuk bantu kamu," Ilyana menyemangati.

"Aamiin... Semoga aja ada."

"Kalau kamu, Ray? Gimana sekolahmu?" Hafiza mengalihkan perhatian ke Rayya.

"Alhamdulillah aman. Aku nggak ada masalah apa-apa. Teman-teman di sana baik," jawab Rayya dengan senyum lega.

"Syukurlah. Aku senang dengarnya," ucap Ilyana dengan tulus.

Suasana perlahan menjadi lebih santai. Mereka mulai tiduran di atas rerumputan sambil menikmati angin sepoi-sepoi.

"Teman-teman, suatu saat aku pengen dijodohkan sama seseorang pilihan Allah," kata Hafiza sambil menatap langit. "Aku yakin, aku nggak akan pernah menyesal."

"Kalau aku, harapannya bisa kuliah di Madinah. Kalau ada plus-nya, semoga jodohku orang Arab yang sholeh," ujar Ilyana dengan mata berbinar.

"Harapan aku sederhana, jadi pengusaha sukses dan nikah sama Rayyan," Rayya menimpali sambil tertawa kecil.

"Aku cuma ingin bahagia, bersama siapa pun itu," Azrina berkata pelan, tapi penuh harapan.

"Kalau aku, pengen nikah sama dia yang belum pernah aku temui," ucap Samira sambil tersenyum tipis.

"Semoga semua harapan kita terwujud," Hafiza menutup dengan doa.

"Aamiin!" jawab mereka serempak.

"Lihat, kayaknya ada anak gelandangan yang tidur disembarang tempat."

---

Hai semuanya! Gimana part 1-nya? Menarik? Cukup menarik? Atau kurang menarik?

Apapun pendapat kalian, semoga kalian suka yaa! Salam hangat dari Author 🙆🏻‍♀️

RAISHWhere stories live. Discover now