Dingin.
Udara sore ini jelas terasa sangat berbeda bagi Cakra. Angin yang menuju ke arah barat menembus kemeja biru mudanya hingga menyentuh permukaan kulit. Besi pembatas yang menjadi pegangannya kini terasa lembab dan basah.
Arus laut bertambah tenang seiring dengan detakan jantung Cakra yang justru semakin kencang. Lampu-lampu kemuning mulai terlihat dari depan sana melalui ujung matanya yang menyipit, seakan meminta untuk didatangi. Semakin cepat air laut bergerak membawanya ke arah timur. Semakin dekat, dan Cakra kembali menghembuskan napasnya berat.
Sandyakala muncul dari arah barat, membawa semburat oranye hingga membuat Cakra bisa dengan lebih jelas memandangi hiruk-pikuk dengan suasana baru di sana.
Itu Bali?
Lagi-lagi Cakra membiarkan pertanyaannya melayang bebas di udara. Laki-laki itu gelisah. Kali pertama Cakra jauh dari kota kelahirannya, Jogja. Kini Bali ada di depan sana, menyambutnya dengan lampu-lampu kemuning dan atmosfirnya yang terasa jauh berbeda. Jujur, Cakra ketakutan.
Banyak ketakutan di benaknya yang tidak bisa dia ungkapkan pada siapapun termasuk Bunda. Cakra ketakutan, bahkan sejak Bunda berkata akan membawanya tinggal di Bali. Hingga sekarang, rasa takut itu masih ada.
"Cakra,"
Renita dengan wajah lelahnya menjadi hal pertama yang Cakra lihat setelah air laut yang keruh. Wanita itu nampak melengkungkan bibirnya ke atas. Cakra membalasnya sekilas. Atensinya kembali pada buih putih air laut di bawahnya yang seolah minta untuk disentuh.
"Kita hampir sampai. Lebih baik cek ulang barang-barang kamu, Cakra. Jangan sampai ada yang ketinggalan di kapal," Renita memposisikan tangannya menyentuh besi pembatas, matanya memejam menikmati hembusan angin yang membelai lembut wajah keriputnya.
"Cakra nggak ngeluarin barang apapun selama di kapal, Bunda,"
Cakra tidak tahu harus berbuat apa. Setelah menjawab seadanya, dia hanya diam membiarkan Renita mengusak rambutnya dengan lembut.
Cakra hanya berharap, Bunda bisa tahu rasa takut yang dia alami sekarang. Sayangnya Cakra terlalu pandai menyembunyikan semuanya hingga wanita seteliti Bunda pun tidak bisa menyadarinya.
"Kamu pasti akan suka Bali,"
"Kenapa bunda bisa bilang gitu?" pertanyaan Cakra mencelos begitu saja saat mendengar pernyataan itu keluar dari mulut Bunda.
"Bunda kelihatannya udah nunggu saat ini tiba," sambungnya.
"Ya, Bali berbeda dari Jogja. Karena di Bali, kita akan menjalani kehidupan baru yang jauh lebih bahagia,"
Cakra tertawa kecil.
"Di Jogja Cakra udah bahagia,"
Cakra sempat melirik mimik wajah Bunda yang berubah datar.
"Jogja nggak bisa bikin kita bahagia, cuma ada kenangan buruk disana, Cakra,"
"Nggak ada lagi Jogja, hanya ada Bali sekarang, Cakra," lanjut bunda.
Tangan Cakra mengepal. Mulutnya tiba-tiba terasa kelu. Dia tidak lagi memperhatikan air laut yang kian membawanya menuju pelabuhan. Dia tidak lagi peduli pada kerumunan orang yang mulai bergerak mengemasi barang bawaan mereka. Cakra memilih membangun jeda yang panjang, tidak berniat membalas ucapan Bunda. Sampai akhirnya, tangan dingin Bunda menggenggamnya lalu menariknya ke dalam ruangan kapal.
"Kita udah sampai,"
Tiga kata, dan Cakra tidak punya pilihan selain pasrah.
Sebab selama ini, Renita tidak pernah memberinya hak untuk memilih.
YOU ARE READING
Elegi Bali
FanfictionFt. Sim Jaeyun, Park Jongseong & Park Sunghoon Bumi Cakrawala tidak mengerti bagaimana air laut bisa membawanya sampai ke Pulau Dewata. Namun dia lebih tidak mengerti mengapa Tuhan justru mempertemukannya dengan dua pemuda Bali yang membuatnya terli...
