Geranium di Kisahku

164 6 0
                                        

☆゚⁠

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

☆゚⁠.⁠*⁠・⁠。゚

Malam ini, entah kenapa keramaian yang sering kulalui terasa akan membawa ombak penghantam yang besar. Perlahan tapi pasti, kembali kulangkahkan kakiku yang tadi berhenti karena terhambat sepasang kekasih yang sepertinya sedang bertengkar.

Meskipun gelap malam mulai memekat, tak menghentikan aktivitas di alun-alun kota. Bahkan aku bisa melihat beberapa penjual yang baru membuka kios atau tempat dagangnya.

Saat asyik memperhatikan sekeliling yang menarik, mataku tak sengaja bertubrukkan dengan sepasang mata tajam dengan pupil hitam pekat. Langkahku terhenti dan tubuhku mendadak kaku.

Mata itu masih sama seperti dua tahun yang lalu. Masa-masa dimana aku dan dia masih saling melempar senyuman manis satu sama lain. Sungguh masa yang indah untuk dilewati tapi tidak untuk diulang.

Langkahnya yang pelan, membuat jantungku yang tadinya normal mulai berdetak tak semestinya. Meskipun sudah dua tahun berlalu, aku masih dapat melihat pahatan wajahnya yang tak berubah sama sekali.

“Hai…”

Aku tertawa mengejek dalam hati. Kenapa jantungku masih saja bereaksi akan suaranya itu? Untuk kali ini, aku merasa akan gagal menanganinya. Sungguh membuat lelah yang candu.

“Hai, Gam.” Nama yang dua tahun berusaha kukubur untuk tak diingat maupun diucapkan lagi.

Dapat kulihat senyumnya merekah tepat setelah kusebut namanya. Hatiku berdenyut, apa dia masih ingat masalah yang lalu hingga membuatnya sesenang itu saat kupanggil namanya?

“La, gue seneng. Sumpah, baru kali ini gue seseneng ini. Maaf, La. Maaf.” Suaranya bergetar, sangat. Apa aku bisa mengatakan jika saat ini, dengan kepala menunduk, ia berusaha menyembunyikan air matanya yang perlahan jatuh?

Kucoba untuk mengalihkan perhatianku ke mana saja. Tentu saja aku tak ingin menangis di tengah-tengah keramaian ini. Kudongakkan kepalaku untuk menahan air mata yang sudah tergenang di pelupuk mata.

Kami terdiam untuk waktu yang cukup panjang. Bersyukur kami tidak menghalangi jalan orang-orang, tapi tetap saja aku merasa tak enak dengan orang di sekitar kami yang terlihat penasaran dengan laki-laki yang sejak tadi menunduk di hadapanku.

“Gama, ayo kita bicara di tempat yang lebih nyaman. Gue rasa lo punya banyak hal yang ingin disampaikan.”

Gama Galahandika. Laki-laki yang tak ingin kudeskripsikan sedikit pun. Bukan karena apa, hanya saja aku tidak mampu mengdeskripsikan sosok yang terlihat sempurna di mataku.

Telaga Imajinasi [Kumpulan Cerpen]Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora