i. Sakura
"Kau sungguh belum menemukan hadiahnya, Sayang?"
"Jangan memanggilku begitu."
"Tapi kau sudah menanyakan perihal hadiah ini hampir sebanyak sepuluh kali?" kata Neji di telepon.
"Aku tahu," sahutku dengan mata yang kembali terfokus pada rak-rak kue.
Aku tahu. Aku belum menemukan hadiah untuk Ino. Sekarang tanggal sembilan belas September, sementara aku harus sudah memberikan kadoku pada Ino di tanggal dua puluh tiga.
Aku mendesah, selalu terlintas perasaan buruk tiap kali aku berpikir betapa aku sudah dekat dengan hari ulang tahun sahabat karibku, sebab alih-alih sudah menjumpai meski satu saja barang yang kupikir mungkin akan cocok untuk Ino, aku malah belum mendapatkan apa pun dan masih luntang-lantung mencari toko. Aku sahabat yang payah. Ino akan membenciku.
Aku mengambil satu dus berukuran sedang dari tumpukan dus-dus donat yang sudah dilipat dan meraih capitan. Lemari kaca dingin di depanku menyimpan banyak sekali varian donat, yang sebagian besar belum pernah kucoba, plat-plat besi kecil bertuliskan bermacam-macam rasa diukir dengan begitu cantik dan terpajan di depan setiap tray stainless yang elegan, seakan-akan donat-donat itu adalah barang yang seharga emas.
Aku tidak tahu mana rasa yang paling enak, aku cuma pernah makan donat yang rasanya biasa-biasa seperti cokelat atau pasta kacang merah, yang kubeli di konbini alih-alih dari toko kue bermerk. Ya, ini adalah kali pertama aku mampir ke toko kue mahal. Tidak ada orang yang pernah mengajakku kemari, aku tidak punya uang, dan aku tidak punya pacar. Sebagian besar masa mudaku mungkin hanya akan habis diisi oleh hal-hal semacam mencari jati diri dan uang. Setelah menahun membantu Ayah di ladang, akhirnya dia mengizinkanku untuk bekerja keluar, dan satu bulan yang lalu—melalui Neji Hyuuga—aku berhasil mendapat pekerjaan di daerah Shibuya. Bagiku itu pencapaian luar biasa, tentu saja. Aku akan menikmati pekerjaanku sebagai penjaga kasir di salah satu supermarket terkenal.
"Kau suka donat rasa apa?" tanyaku pada Neji setelah beberapa saat tidak ada satu pun dari kami yang lagi bicara.
Kukira karena tidak ada obrolan, sambungan telepon sudah diputuskan Neji, namun melalui headset yang kukenakan dapat kudengar suara pemuda itu muncul lagi, "Kau sedang beli donat?"
"Ya," kataku. "Coba sebutkan dua rasa yang pernah kaubeli dari Toko Roti Magnolia."
Neji terkekeh. "Kau mau mentraktirku donat?"
"Tidak." Aku turut terkekeh sewaktu Neji mencebik. Aku menjawab jujur. Aku berniat kemari membeli beberapa kue dan donat tadinya hanya untuk Nona Ieiri, tetanggaku yang baru saja melahirkan anak pertamanya setelah lima tahun menunggu momongan. "Aku bercanda, sebutkan saja rasa yang kausuka."
Suara-suara bising dari ketukan keyboard dan teriakan-teriakan aneh yang kuduga dari game yang tengah Neji mainkan sejenak mengganggu pendengaran ini. Neji adalah laki-laki yang menarik, kuakui tampan dan lumayan pintar, ia juga sangat candu terhadap banyak permainan-permainan online, yang selalu dia geluti hampir di setiap akhir pekan. Aku pernah pergi ke rumahnya yang besar dan Neji pernah memperlihatkan lemari setinggi tiang cermin miliknya yang dipenuhi dengan ratusan kaset-kaset game berbagai genre.
"Sial." Neji mengumpati karakternya yang mungkin tertembak mati. "Halo? Kau masih di sana?"
Aku sudah memasukan dua donat dengan varian tiramisu dan alcapone ke dalam kardus ketika Neji bertanya padaku. Memilin obloran-obloran dari penting hingga ke taraf tak penting adalah suatu hal seperti rutinitas yang kerap kami lakukan di setiap hari. Jadi aku sudah tidak risi sewaktu Neji meneleponku bahkan ketika aku jalan-jalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
How We Live Now
Fanfiction[on-going] Sasuke adalah seorang psikiater muda, dan sudah menjadi tugasnya untuk mengulik lebih jauh cerita setiap pasien yang kerap tandang padanya, namun ketika gadis itu datang, kabut mulai menghujam, pekerjaan tak lagi semudah seperti biasanya...
