1| A New Beginning

69 3 17
                                        


———ooOOoo———

"Lo yakin, Elle?"

Hembusan napas panjang menjadi jawaban atas pertanyaan yang entah sudah ke berapa kali dilontarkan gadis cantik di hadapannya.

Jovanka.

Gadis blasteran Amerika–Thailand–Indonesia itu menatap Eloise dengan wajah memelas, seolah berharap kali ini akan mendapat jawaban yang berbeda.

Sayangnya, harapan itu pupus.

"Jov," Eloise menghela napas pelan. "Lo udah nanya hampir dua puluh kali."

Tatapannya beralih sekilas ke wajah Jovanka yang kini memajukan bibirnya kesal.

"And my answer will never change."

Nada bicaranya tenang, tetapi terdengar begitu mutlak hingga tak menyisakan ruang sedikit pun bagi Jovanka untuk berdebat.

Jovanka mengembuskan napas dramatis.

"Gue bakal ikutan. Lo tenang aja, gak usah sedih. Gue bakal nemenin."

Lucunya, justru Jovanka lah yang terlihat paling gelisah dengan rencana kepindahan itu. Sementara Eloise tetap duduk santai, wajahnya datar seperti biasa, nyaris tanpa ekspresi.

Ceklek.

Suara pintu yang terbuka langsung mengalihkan perhatian Jovanka.

Seketika matanya berbinar.

"Awwww! My baby Jennie bubibubibuuu!"

Tanpa aba-aba, ia berlari kecil lalu menerjang Jennie dalam sebuah pelukan, bahkan berniat mencium pipi gadis bermata kucing itu.

"Ewwwh! Keep your lips off!"

Jennie buru-buru mengangkat paper bag dan beberapa barang bawaannya ke depan, seolah siap menabrakkannya ke kepala Jovanka bila gadis itu nekat mendekat.

"Jahat banget, sih." Jovanka terkekeh tanpa merasa bersalah sedikit pun. Tatapannya kemudian jatuh pada tumpukan paper bag di tangan Jennie. "Eh, lo bawa apaan? Banyak amat, kayak mau pindahan."

Tangannya refleks hendak mengobrak-abrik isi paper bag itu.

Namun Jennie lebih cepat.

Dengan menjulurkan lidah mengejek, ia menarik semua bawaannya menjauh lalu berjalan melewati Jovanka menuju Eloise yang sejak tadi tetap tenang membaca beberapa lembar brosur di pangkuannya, sama sekali tidak terusik oleh keributan yang terjadi di ruang itu.

"Elle, ini barang yang lo butuhin. Seinget gue skincare lo masih sama kayak gue deh, jadi gue beliin yang gue pakai. Mana tahu lo butuh walaupun gak ada di daftar tadi."

Eloise meletakkan brosur berisi visi, misi, dan penjelasan pondok pesantren yang sedari tadi ia baca. Ia mengambil paper bag berlogo Sephora, lalu memeriksa satu per satu isinya.

"It's too much, Jey. I don't need this many."

Namun saat melihat wajah Jennie yang perlahan berubah murung, Eloise kembali mengangkat pandangannya.

"But I'll use all of it. Thanks, Jey."

"Owkaaayyy."

Hanya karena Eloise menerima pemberiannya saja, raut wajah Jennie langsung berubah cerah. Sebegitu berharganya Eloise di matanya.

"Where's mine? You forgot about me or what?" protes Jovanka sambil memasang wajah cemberut.

"Nih. Gue beliin yang lagi promo buat lo."

Jennie merogoh sesuatu dari dalam paper bag, lalu melemparkannya ke arah Jovanka.

"Waaaaahh! Lo tau banget gue emang lagi pengen beli parfum ini. Sayang banget deh sama my baby Jennie bubibubibuuu."

REWRITE OUR DESTINYStories to obsess over. Discover now