Penantian

6 1 0
                                        


"Ne, kak mau kemana?"

"Hemm, kakak mau mencari Tuhan"

"Benarkah? Kalau bertemu sampaikan pada beliau, aku mau hidup enak"

"Oke, pasti kakak sampaikan. Kakak pergi dulu ya"

"Tapi, kakak janjikan kembali lagi?"

Kakak hanya tersenyum, dengan wajah sedih. Ia membelai rambutku dengan lembut. Dipeluknya aku.

"Kak, hati-hati".

Saat itu aku masih tidak mengerti apa-apa. Dengan tubuh kecil yang masih beketergantungan dengan seorang kakak, satu-satunya keluargaku yang mengerti dan memanjakanku. Dengan nasib dilahirkan dari keluarga rendah, kami selalu dikucilkan dan dikesampingkan. Bahkan ayah serta ibupun tidak memperdulikan kami, mereka kadang memaksakan kami bekerja entah menjadi seorang pengemis atau pemungut botol-botol bekas. Bila penghasilan yang kami dapat tidak sesuai/kurang, kami tidak diberi makan. Makanya itu aku dan kakakkupun melarikan diri dan hidup dibawah kolong jembatan. Ternyata nasib tetap tidak berubah. Sekuat tenaga kami berusaha, tidak ada yang mau menerima kami. Padahal kami hanya ingin merubah nasib menjadi yang lebih baik.

Sampai pada waktu seketika. Kakakkupun pergi, mencari Tuhan. Kami memang miskin, tetapi kami masih tahu kalau Tuhan Maha Segalanya. Kutersenyum dan berharap banyak kepada kakak, bila kelak ia bertemu dengan Tuhan aku ingin minta hidup yang enak. Lebih baik dari sebelumya. Agar semua orang didunia ini, tuan maupun nyonya dapat menerima kami, tidak memandang rendah kepada kami. Setelah berminggu-minggu kakakku pergi, aku tetap giat mandiri dan berusaha mengumpulkan uang sendiri. Agar pada saat kakakku datang nanti, aku bisa merayakannya. Orang-orang yang bertempat tinggal yang sama dengan kami dibawah kolong jembatan, tidak lupa kuundang. Hidup sendiri memang susah, tetapi terkadang ada tetanggaku yang masih perhatian kepadaku. Bahkan anak sebayakupun masih mengajakku bermain.

Beberapa hari lagi, genaplah umurku 10 tahun. Tidak terasa sudah hidup selama 10 tahun ini. Sungguh bersyukur karena ada kakak dan teman-teman yang masih ada membantuku. Walau kondisi kami sama-sama serba pas-passan tetapi kami saling menolong. Orang-orang yang bertempat tinggal disini, dibawah kolong jembatan ini adalah keluarga bagiku. Hanya beberapa hari lagi menuju dewasa, aku bisa membantu kakakku, aku ingin menjadi orang yang berguna dan tidak menyusahkannya. Tetapi aku sadar bahwa kakakku telah meninggalkanku selama sebulan penuh ini. Apakah kakak gagal ? Tuhan sulit dicari ? Atau Tuhan tidak mengabulkan keinginan kami ?. Tidak, aku harus percaya dengan kakak. Tujuan kami adalah merubah nasib, hidup enak, tidak dikucilkan dan diangga dengan orang-orang berkelas lebih tinggi dari kami.

Kak, hari-haripun terlewati. Genaplah umurku 10 tahun ini, tanpa kakak disini. Apakah kakak terlalu sibuk sampai tidak bisa datang  ? Apakah kakak lupa ? Kakak meninggalkanku disini. Tidak, aku tidak boleh sedih. Kakak diluar sana juga berusaha mencari Tuhan. Aku juga harus berusaha disini, aku harus mandiri. Demi kakak. Tiba-tiba teman dan anak sebayaku datang. Mereka bernyanyi selamat ulang tahun kepadaku. Rasa sedihkupun hilang. Entah bagaimana mereka bisa tahu tanggal ulang tahunku. Tetapi aku senang. Hanya ucapan, nyanyian, dan kebersamaan membuatku merasakan hangat, berkumpul disini. Dirumah bobrok ini, yang hanya aku sendiri tempati tanpa adanya kakak.

Dengan suasana bergembira ria, tiba-tiba menjadi tegang. Semua wajah mengarah kepadaku. Air matakupun jatuh. Kenapa mesti dihari ini ?. Sekumpulan ibu-ibu datang kerumahku dan mengabarkanku bahwa kakakku telah meninggal. Ia dipaksa bekerja dengan orang-orang berkelas atas. Bahkan kakak sering disiksa bila ia lalai bekerja. Tubuh kakak tidak ditemukan, entah dibuang kemana dengan orang-orang tersebut. Kak, bukannya kakak akan kembali ? Kakak tidak meninggalkankukan ?. Tangiskupun meluap. Orang-orang yang datang ke tempatkupun mulai ikut menangis, mereka turut berduka atas meninggalnya kakakku. Orang yang juga mereka anggap sebagai keluarga.

PenantianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang