Malam yang cukup kelam untuk seorang wanita sepertiku ini. Umurku sudah lama menginjak kepala tiga namun malam itu aku benar-benar dibuat syok luar biasa ketika melihat rumah tanggaku begitu rumit dan lebih parahnya lagi adalah ketidak tahunanku tentang mengapa semua ini bisa terjadi.
Lee Heeseung suami yang selama ini aku cintai entah mengapa dengan sangat kurang ajarnya ia bercumbu mesra bahkan sampai berhubungan intim di depan mataku sendiri. Aku melihatnya bersama dengan wanita lain namun yang lebih gilanya lagi adalah Heeseung sama sekali tidak menghiraukan keberadaanku. Aku marah besar. Tapi disisi lain aku merasa tubuhku tidak merespons sesuai dengan apa yang aku inginkan. Aku diam, menikmati pemandangan kotor itu sembari melipat kedua tanganku didepan dada. Tanpa sadar bibirku tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai. Semasa bodoh itukah diriku bahkan saat melihat suami tercintaku selingkuh secara terang-terangan?
"Heeseung. Aku mau bicara."
Kegilaan Heeseung telah selesai 30 menit yang lalu. Aku duduk di atas tempat tidur dengan tenang. Sementara suamiku baru selesai mandi, rambutnya masih basah.
"Aku capek. Mau langsung istrirahat." Ia berniat meninggalkanku.
"Berhenti disana!"
Ku langkahkan kakiku mendekat, kemudian kulihat ekspresi Heeseung syok luar biasa setelah mendapat tamparan cukup keras dariku. Tangan kirinya memegangi sebelah pipinya.
"Kamu gila?!"
"Bukannya seharusnya aku yang bilang begitu? Serius Heeseung. Didepan mataku? ... Kamu gak mikirin perasaan aku?"
Dia tersenyum remeh. Aneh sekali rasanya. Hatiku sakit luar biasa tetapi aku bahkan tidak bisa menangis. Harusnya aku sudah meneteskan air mata sedari tadi, juga setidaknya menjambakki wanita itu dengan penuh amarah. Namun sekarang ini yang kulakukan bukan seperti orang yang sakit hati. Rasanya sudah terbiasa dengan sikap suamiku.
"Baru sekarang kamu tanya gitu? Kemaren-kemaren kemana? Apa aku harus begini dulu baru dapat perhatian darimu?"
"Apa maksudmu Heeseung?"
"Sudahlah. Aku mulai muak. Urus aja dirimu sendiri. Itu kan yang kamu mau?"
Heeseung berlalu begitu saja. Meninggalkan aku dengan berbagai pertanyaan pertanyaan kosong. Kepalaku berdenyut. Baru saja aku mendudukkan diriku di atas tempat tidur tiba-tiba pintu kamar terbuka menampilkan sesosok anak laki-laki kira-kira sekitar 14 tahun. Itu anakku Jungwon. Di tangannya terdapat nampan berisikan segelas air putih juga beberapa pil disampingnya.
"Bunda jangan lupa obatnya diminum. Besok Jungwon izin gak bisa anterin obat bunda tepat waktu. Jungwon ada kelas malam sampai jam 11."
Kalimat itu mengalir begitu saja di telingaku. Obat? Sejak kapan aku mengonsumsi obat-obatan? Apa aku sakit? Pikiranku melayang di udara tanpa kusadari Jungwon masih berdiri di depanku dengan nampan yang masih ia pegang.
"Bun?"
"Sayang. Bunda sakit apa? Kenapa harus minum obat?"
Raut wajah Jungwon berubah. Anakku itu terlihat kebingungan. Namun ia masih diam saja disana sementara aku masih penasaran dengan apa sebenarnya yang terjadi.
"Jungwon sayang ... "
"Berhenti pura pura bersikap manis Bunda. Jungwon mulai muak."
Kali ini raut wajahku yang berubah. Kenapa anakku bisa berbicara seksar itu padaku. Belum sempat aku bertanya lagi Jungwon menyodorkan segelas air minum itu dengan sedikit kasar. Tidak lupa pula dengan pil-pil yang sedari tadi masih aku pertanyakan.
"Ini obat apa? Bunda kenapa?"
Prang!!
Pecahan beling dimana mana. Aku terkejut, menutup mulutku yang terbuka. Jungwon membanting gelas itu dengan kasar.
YOU ARE READING
White
FantasySekali saja. Izinkan aku mengulang kembali 17 tahun yang membuat keluargaku hancur. Aku hanya ingin memperbaikinya
