CHAPTER 1 [1/4]

69 13 3
                                        

Seorang gadis berambut pink pendek berlari menyeret koper menuju pintu keluar. Raut tegang diwajahnya semakin terlihat kala sepasang emerald itu bertubrukan langsung dengan pria paruh baya di lobby bandara.

"Otou-san! Bagaimana Sakira? Apa yang terjadi dengan adikku?!" tanyanya cepat.

Kizashi menggelang pelan. "Sakura.. Maafkan tou-san. Tapi Sakira.."

Gadis itu—Haruno Sakura. Berjalan cepat memasuki mobil lalu melaju kencang meninggalkan Kizashi yang menatap sendu dibelakang—sendirian.

Didalam mobil. Sakura memukul stir beberapa kali—menginjak pedal gas sekuat mungkin dengan pandangan semakin menajam. Ia melampiaskan perasaan kesal, marah, bingung, sedih dan panik yang dirasa.

Mengapa harus adiknya?

Sakura menjatuhkan keningnya diatas stir. Beberapa kali ia menahan keinginan untuk menorobos lampu merah. Sebelum menginjak pedal gas sekuat tenaga kala lampu berubah warna seperkian detik.

Sedan putih itu melaju tanpa celah dijalanan. Menorobos beberapa mobil yang menghalangi penglihatannya—hingga sepasang iris hijau itu mendapati gedung pencakar langit yang teramat ia kenali.

Sakura membanting stir tanpa ampun dan menginjak rem kuat kuat. Haruno Hospital. Gedung yang menjadi tujuannya saat ini. Ia membuka pintu mobil—membantingnya kuat lalu berlari memasuki rumah sakit dengan nafas tercekat.

Beberapa pengunjung dan perawat dibuat kebingungan mendapati gadis berambut pink aneh berlarian dikoridor. Ia bahkan menubruk punggung orang tanpa meminta maaf dan lebih memilih mendongak melihat tiap nomor kamar rawat—menghiraukan bisik bisik disekitar.

Hingga seorang pemuda tinggi menarik tangan Sakura cepat dan membawanya ke ruangan tidak terpakai disudut dekat tangga.

"SIAL!! LEPASKAN!!!" teriak Sakura keras.

"Baiklah, tenang.. Ini aku.."

Sakura menatap lurus pemuda yang menyeretnya sembarangan. "Sasori?"

Akasuna Sasori—sepupu Sakura. "Hm. Akhirnya kau datang."

"Tentu saja. Adikku kritis bagaimana bisa aku tidak datang!" sentaknya.

Sasori tersenyum tipis. "Kau ketus seperti biasa."

Sakura menatap Sasori tidak percaya. "Serius? Kau menyeretku kemari hanya untuk bicara omong kosong? Bajingan!" ia menubruk pundak Sasori—berniat meninggalkan ruangan jika tangannya tidak dicekal kuat.

"Aku minta maaf. Aku hanya terlalu senang melihatmu lagi, Sakura." Sasori melonggarkan sedikit cekalannya.

"Katakan!" Sakura menatap Sasori tajam.

Pemuda itu mendesah lelah. Sepasang hazel nya terlihat sayu kala berhadapan dengan emerald yang semakin menajam.

"Aku selalu berada disekolah yang sama dengan adikmu—memperhatikannya dan menjaganya semampuku. Namun kali ini aku lalai.. Sakira.. Dia ditemukan pingsan direrutuhan rumah tidak terpakai dengan keadaan keguguran. Aku bersumpah tidak tahu bagaimana Sakira bisa hamil! Adikmu tidak pernah cerita apapun padaku. Kandungannya berusia 2 bulan.. Dan.." Sasori menggelang cepat seraya mengusap wajahnya yang kembali mengeluarkan air mata. "Maafkan aku, Sakura. Ini semua salahku. Aku tidak bisa menjaga adikmu.."

"Keguguran?" Sakura menatap Sasori tidak percaya. "Bagaimana bisa Sakira hamil?"

"Seseorang melihatnya. Sakira pingsan setelah menusuk perutnya sendiri."

Sakura menggelang cepat. "Tidak! Tidak! Adikku tidak seburuk itu sampai dia membunuh anaknya sendiri."

"Tapi itu yang terjadi. Aku pikir Sakira juga baru mengetahui kalau dirinya hamil. Dan mungkin saja dia tidak pernah menginginkan ini lalu menusuk perutnya sendiri. Atau.." Sasori menatap Sakura serius.

TWIN | SASUSAKUHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora