Bab 1: Bolos

3 0 0
                                        


            "Kamu diskors selama satu minggu," katanya sembari menjulurkan surat di atas meja kepada seorang gadis yang sekarang berpaling dengan wajah kesal. "Saya tidak peduli kamu anak siapa. Kalau kamu salah, kamu berhak dihukum. Lagipun, ini bukan kesalahan perdana yang kamu buat. Paham?"

Dia mendengus kesal, menatap tajam guru di depannya. "Apakah saya berhak mendapat kesalahan atas apa yang tidak saya perbuat?"

"Jangan mencoba-coba mengelabui saya, Raya," tegas ibu Suji—salah satu guru BK di SMA Garuda.

Raya berdecih pelan. "Ibu kira saya akan melakukan tindakan murahan seperti itu?"

Ibu Suji menolak alasan Raya, sangat kentara dari tatapan tajamnya. Raya pun demikian, menuntut respon dari ibu Suji dengan tatapan tajam. Ruangan ini mendadak panas dan menegangkan. Sepertinya, di antara mereka tidak akan ada yang berpaling lebih dulu. Tatapan tajam mereka sama-sama kuat.

Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu membuat Raya berpaling lebih dulu. Dia menyandarkan punggungnya secara kasar. "Permisi, Bu, ini laporan anak-anak yang sudah menjalankan hukumannya karena terlambat." Dia menjulurkan sebuah kertas membuat ibu Suji tersenyum manis. Dalam sekejap, amarah guru itu sirna saat melihat bagaimana tampannya ketua OSIS SMA Garuda.

"Baik, terima kasih banyak, Raja."

"Sama-sama. Saya permisi dulu."

"Tunggu, Raja!"

Raja menghentikan langkahnya, balik badan saat di ambang pintu. Dia menatap ibu Suji dengan penasaran. "Ada apa, Bu?"

"Bisa tolong berikan dia penjelasan kalau dia salah? Dia begitu ngeyel. Saya ingin makan siang." Jelas sekali, ucapan itu tertuju untuk Raya yang sekarang melipat kedua tangannya di depan dada. Raja mengikuti arah tatapan ibu Suji yang mengarah pada Raya.

Gadis itu bangkit dari duduknya bersamaan dengan dia mengambil surat di atas meja. Tanpa mengucapkan kata-kata, gadis itu berlalu begitu saja dan tanpa sengaja menyenggol keras bahu Raja.

Ibu Suji tersenyum senang. "Terima kasih sudah menjadi salah satu kelemahan Raya, Raja. Kamu boleh pergi, silahkan."

Raja mengangguk hormat. "Baik, permisi."

Ibu Suji mengangguk kecil. Dia mengambil kotak bekalnya yang berisikan salad buah segar. Dia mulai melahapnya.

****

Raya berpaling ketika hal pertama yang dia lihat saat memasuki kelas adalah wajah saudara kembarnya yang sedang tertawa bahagia—Ratu. Gadis itu tertawa terbahak-bahak bersama dua orang gadis. Seolah, tawanya itu menunjukkan kalau dia sangat bahagia dan tidak memiliki beban apapun.

Raya berdecih lalu menarik tasnya dari kursi.

"Mau kemana?" tanya Ratu.

Raya bungkam. Dia memasukkan barang-barangnya yang ada di laci meja ke dalam tas.

"Mau kemana Raya? lo mau bolos lagi?" tanya Ratu lagi.

Raya masih mengabaikannya, seolah dia menyamakan ucapan Ratu dengan suara penyiar radio. Dia menyangklek tasnya lalu berjalan keluar tanpa mengucapkan apapun.

"Kalau lo bolos gue bakal aduin ini ke papa."

Raya menghentikan langkahnya. Selalu saja hal ini yang dia dengar hingga membuat dia muak setengah mati. Sungguh, Raya sudah muak dengan kalimat itu.

INESPERADOWhere stories live. Discover now