"jadi lo sebenernya anak kedua atau ketiga?" ucap nya sembari menatap serius
"gak tau gua juga, lo tau? gw aja sampe nanya ke guru agama gw perihal ini, sebenernya saya anak keberapa ya bu jadi nya kalo silsilah nya gitu? ucap ku
"apa kata nya?"
"gak di jawab, kayanya beliau juga bingung atau mungkin kasihan sama gua? cuman jawab sabar ya rala" timpal ku
------ Haiii
Terima kasih sudah berkenan hadir ikut menyelam dalam kisah ku, rentetan masalah ku sedemikian rupa ku ringkas agar kalian tidak terlalu dalam terbawa hidup yang mati ini. Aku sendiri Rala tanpa nama panjang agar lebih singkat dalam pengetikan. Kelahiran Februari tepatnya Aquarius menjadi zodiak ku. Hidup di tengah keluarga yang saat itu amat menantikan ku walaupun sekarang amat mendorong ku. Kalian akan ku perkenalkan dengan sosok Ayah dan Ibu ku bersama karakter nya yang jelas akan tergambar dalam kisah ku. Mereka memutuskan menikah dan lahirlah aku dan adik ku Talita. Tapi siapa yang tau alasan kita semua dilahirkan selain mereka yang merencanakan?
Sejak kecil aku sudah di rampas habis-habisan dari kewarasan, kebahagian, bahkan sampai kehidupan. Mereka semua penjara bagi ku tak ada celah untuk nafas dan berlari dari semua ini. Tapi aku tidak berlarut, untuk apa aku risaukan hidup? aku membelokan itu semua dengan pembuktian bahwa sejak SD hingga kuliah di kampus favorit bagian yang membanggakan sebenarnya bukan itu, tetapi aku berhasil gratis dan mendapat beasiswa sejak seragam merah putih. Tidak bukan agar tidak jadi beban dalam hidup yang kelam ini, walaupun nyatanya kini ku tenggelam di dasar.
Penolong selain Tuhan dikirim melalui berbagai manusia antara lain Arsa, Sani, Cahaya dan lainnya yang akan ku jelaskan dan menjadi alasan untuk ku detik ini tidak meninggalkan alam semesta "masih ada gua, lo pergi dari sana ya cahaya lo terlalu indah untuk padam atau di rubah jadi gelap" ujar nya
YOU ARE READING
Rala
Non-Fictionbukan pertanyaan lagi yang ada di fikiran ku detik ini, akan tetapi dialog dalam hati memastikan Tuhan tidak akan meninggalkan ku kan? semua bising di kepala, riuh di hati menjadi teman abadi sejak saat itu. seperti tidak ada sama sekali cahaya unt...
