bab 1 • api yang memilihmu

169 31 112
                                        



flashback beberapa bulan lalu ....

genre forbidden dark obsession•

"Beberapa lelaki datang untuk cinta. Yang lain, untuk kehormatan. Tapi dia datang untuk membakar segalanyaㅡtermasuk aku."

Suka_Duit── .✦

Malam itu, langit berwarna merah. Api membungkus atap rumah-rumah dengan suara retak dan jeritan. Asap menutup bintang, dan angin membawa bau daging yang hangus. Seorang gadis berlari di antara mayat dan bara, kakinya berdarah, rambutnya berantakan, mata basah oleh abu dan ketakutan.

Elaraㅡdesanya dijajah.

Tidak ada peringatan. Hanya terompet perang yang melengking dari utara, disusul dengan derap langkah dan tawa brutal para Viking. Mereka datang bukan untuk menaklukkan, mereka datang untuk merenggut. Entah itu, harta benda berharga termasuk nyawa sekalipun, mereka tidak memiliki hati dan empati kala aroma anyir tercium begitu lekat.

Elara baru berusia tujuh belas waktu itu, terlalu muda untuk bertempur.

Terlalu tua untuk diampuni, ia bersembunyi di balik tumpukan jerami saat langkah-langkah sepatu kulit mendekat. Angin musim dingin berubah arah, seolah takut menghadapi apa yang datang. Rumah terbakar tanpa suara jeritan. Rumah kedua menyusul dengan suara kaca pecah, suara anak-anak menangis, dan logam besi yang menghantam daging.

Api tak menyala kuning. Ia menyala biru dan oranye, menari liar seperti dewa yang lapar.

Langit gelap, tapi desa terangㅡoleh api yang menelan sejarah mereka.

Gadis itu ketakutan, sangat takut melihat apa yang ia lihat beberapa saat lalu, keluarganya dihunuskan oleh kapak di depan mata oleh sekelompok viking. Tanpa empati sama sekali, dan rasa takut itu menggelegak di dalam dirinya. Elara meringkuk di setumpukan jerami.

Nafasnya tercekat saat melihat bayangan tinggi besar di depannya, seorang pria berhenti di depan tempat persembunyian.

Sepi.

Hening.

Lalu suara serak, dalam, seperti batu bergesek salju, "Keluar, atau aku tarik kau dengan rambutmu."

Suara itu ... tidak marah. Tapi berat. Tegas. Tak ada pilihan di dalamnyaㅡhanya perintah.

Elara membeku, tapi akhirnya muncul dengan tangan terangkat. Matanya langsung bertemu dengan tatapan paling dingin yang pernah ia lihat. Bukan kebencian. Tapi milik seseorang yang sudah terbiasa melihat mayat lebih dari matahari.

Rurik berdiri di sana.

Tinggi.

Berbaju kulit hitam penuh bercak darah. Wajahnya tidak tertutup, tidak juga tersenyum. Tapi ada sesuatu di matanya saat melihat Elaraㅡbukan hanya ketertarikan. Tapi seperti menemukan potongan takdir yang hilang. Hingga terasa sesuatu dingin di leher gadis itu, bilah tajam tak lain sebuah pedang tertuju disana, menyentuh, hampir mengiris kulitnya.

Membuat Elara meringis kesakitan, tak berani melangkah mundur, tak berani bergerak. Menahan nafas, saat air mata menumpuk di kelopak matanya.

"Yang lain akan memperkosamu," Rurik bersiul, menekan ujung mata pedang itu menggores kulitnya.

Elara tidak menjawab. Ia jatuh ke tanah, napasnya tercekat oleh bau daging hangus dan kuda yang meraung. Di kejauhan, seseorang berlari sambil terbakar, memanggil nama yang tidak akan pernah menjawab lagi.

Mimpi buruk baru di mulai.



To Be Continue

To Be Continue

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oathless (On Going)Stories to obsess over. Discover now