Menginjak jenjang SMA biasa dikenal dalam keaktifan berorganisasi, 6 bulan berpartisipasi di divisi multimedia akhirnya kami diangkat menjadi anggota OSIS, beranggotakan 6 orang laki-laki dan 6 orang perempuan.
Hari ini ruangan kubus berukuran 10 m × 10 m yang kami jadikan kantor multimedia terlihat seperti bengkel, kesibukan dikantor OSIS pun tak kalah memprihatinkan.
"ALENA SARDEN PLEASE HELP ME, KENAPA VIDIO NYA GETER GETER WOI."
Aku yakin Reina yang ditugaskan membuat vidio dokumentasi pembukaan OSIS tidak fokus mengerjakan tugasnya melainkan menyalahgunakan laptopnya menonton drakor lagi.
"Nama gua Alena Marsden." Ucapku menekankan.
"Lu ngedit apa bercinta sih?" Celetuk Meira sarkas.
Aku yang jijik melihat wajah memelas Reina mengambil langsung laptopnya.
"Eh...eh bentar, belum gua keluarin flim nya"
Semua mata tajam menyorot kepada Reina. Sebaliknya, target yang dituju membalasnya dengan nyengir kuda.
"Sayang Alena bentar yah, mending lu tarik nafas dulu, keluarin, tarik nafas lagi, temenin gua ngedit aja." Ucapnya mengedipkan mata, menepuk nepuk kursi sofa disampingnya dan aku benar-benar menghela nafas pelan.
Dengan tersedia wifi, computer dan akses, tidak menutup kemungkinan kami sebagai anggota multimedia tergiur memanfaatkan untuk hal pribadi.
Nayla selaku ketua langsung mengambil alih keadaan, tangannya mengetuk meja tiga kali, meminta perhatian semua orang yang berada dalam ruangan.
"Oke guys sekarang gua ga akan segan-segan ngingetin kalian kalo salah, leha-leha atau nyepelein tugas, gua tau kita udah 6 bulan lebih awal dari divisi lain di OSIS tapi bukan berarti itu hak khusus buat leha-leha. Inget deadline kita malam ini, ada tambahan?" Tanya Nayla menyisiri satu persatu anggota.
Semua menggeleng dan mengangguk secara bersamaan, tanda cukup dan paham untuk melakukan kerjasama.
"Alena" Panggil Nayla, aku menyahut pelan sebagai jawaban.
"Kalo udah revisi, prokernya langsung kasih ke sekre sama MPK ya, sekarang gua cek peralatan di aula bareng mulmed laki." Titahnya sembari meninggalkan ruangan, jempolku mengacung tanda aman.
"Rei, gua ngumpulin proker ke sekre sama MPK dulu yee, udah gitu gua balik dulu bentar mau ganti baju, lu gapapa gua tinggal?" Tanyaku memastikan. Reina menganguk pelan melanjutkan keharusannya mengedit vidio.
"Aman ko aman, hati gua yang ga aman njir ngapa drakornya on goin, ngegantung woi brengsek"
Terdengar celotehan Reina yang terus disahut Meira. Mungkin rasanya jengkel jika keduanya sudah adu mulut, tapi percayalah mereka yang membuat keramainan semakin ramai.
"Lu anyink, brisik," Ucap Meira jengkel
"Bejanda." Lanjutnya
***
Langkahku menyusuri karidor, aku menatap mading OSIS yang sedang dipercantik, aula pun dalam proses dekor untuk acara peresmian OSIS baru. Melihat sekitar rasanya baru kemarin melaksanakan kegiatan MOSA.
"Woiii, bantuin ngeprint." Pinta seorang pria ditujukan kepada Lea ketua MPK tahun sekarang.
"Tapi lu revisi proker" Tawar Lea tersenyum mengangkatkan kedua halis, merasa keberatan sedang merevisi ulang proker dari semua divisi.
"Kalo gua yang revisi, nanti malah nyaranin yang engga-engga" Jejalnya masih sibuk menekan tombol, memaksa printer untuk bekerja. Tetapi alhasil malah suara berisik dari printer yang keluar.
"Yaudah lu kerja lapang, gausah ngeluh" Tutur Lea merealisasikan keadaan.
"Oi lu liat apa Alena." Aku yang sedari tadi melihat keributan kecil di pintu kantor OSIS tidak sadar tersenyum kecil melihat kelakuan cowok yang sedang sibuk mengutak-atik mesin print.
"Proker mulmed." ucapku sambil menyodorkan kertas, "Wakil lu?" Lanjutku penasaran.
"Leee Ale aing ga bisa" Ucapnya kesal, Tangannya menekan berkali-kali tombol turned on di printer.
"Yaaaaaaaa...." Ucap Lea menjawab pertanyaanku sekaligus merespon malas patnernya.
Suaranya semakin malas ketika dirinya melihat geram ke arah printer.
"Lu nungguin Ragil sampe lahiran juga kagak bisa ngeprint kalo kertasnya ga lu simpen di printernya pinter."
Dalam hati aku terkekeh kecil melihat raut mukanya yang menatap printer layaknya musuh. Astaga imut sekali mukanya jika dijadikan gambar lucu.
Aku berinisiatif meninggalkan mereka agar leluasa bekerja sama, atau mungkin yang aku tinjau sejauh ini terpaksa bekerja sama. Tapi, aku yakin kedepannya progres mereka akan seru.
" Lee gua balik deluan, itu kertasnya udah gua duplikat buat diarsip ke sekre, nitip yee, lu jangan malem-malem baliknya, takut gada ojek" Ucapku meninggalkan kantor OSIS.
"Alena woiii, raport kita ketuker pas kemarin pembagian" Lea berteriak samar namun suaranya masih terdengar olehku.
"Kita sekosan, lu ambil aja ke kamar gua kalo butuh" Jawabku melambaikan tangan.
Sejauh ini dimasa SMA, aku berteman dekat dengan Lea teman satu kosanku, mungkin lebih cocok disebut rumah. Menyadari kesibukan kami yang aktif berorganisasi cukup menguras banyak uang untuk bulak-balik kendaraan umum, untuk itu kami memilih menyewa kosan yang berdekatan dengan sekolah dan efektifnya kami lebih fokus dalam hal belajar ataupun mengurus diri sendiri. Satu lagi yang akan kalian kenal sebagai teman kos ku dan Lea, dia Meysa. Aku belum bertemu dengannya setelah bersapa ringan pagi tadi. Mungkin kesibukannya didivisi bahasa akan terus menyita waktu santainya.
Tidak butuh waktu lama, aku segera mungkin kembali ke sekolah, kerjaanku telah usai. Namun, tugas tetaplah dikumpulkan sesuai deadline. Jika ada yang belum usai, maka disitulah kerjasama antar anggota diuji.
"Cepet amat lu" Sambut Lael setelah aku menutup pintu kantor mulmed.
Aku hanya memamerkan baju.
"Ganti doang dia" Jelas Reina menjawab pertanyaan Lael
"Progres lu aman?" Tanyaku pada Reina yang sedari awal aku masuk menyeringai tanpa dosa.
Tepat saat pertanyaan itu dilontarkan tawa renyah Reina tiba-tiba memenuhi ruangan. Aku yang horor mendengarnya bergidig menjauh.
"Alenaaaa, anjink gue sayang lu, demi apa, HELP ME." Aku mendelik malas sebagai jawaban.
Muka memelas Reina membawaku duduk disampingnya. Namun tulang rahangku geram untuk tidak mengomeli tingkahnya.
"Rei, lu tau seberapa banyak pun angka yang lu hasilin, kalo lu kali 0 hasilnya NOTHING. Saran dari gua, lu kaliin sama angka yang nominalnya sama, minimal lu kali sama angka satu lagi lah biar ada hasilnya," Jejalku diakhiri senyum "Lu pinter MTK pasti paham."
"Otaknya kebawa halu" Celetuk Meira membenarkan keadaan.
Setelah mengamati hasil editing vidio Reina, aku paham apa yang dimaksudnya "Geter geter." Ia tidak memakai warp stabilizer dan lupa dirander yang alhasil vidio tidak smooth.
"Segampang itu?" Tanyanya tercengang membanggakan hasil editing nya yang sudah selesai total.
Aku turut senang, walaupun yang lain mendelik malas, aku yakin merekapun senang. Dalam hal bekerja semua anggota sudah teruji efektif. Tetapi, terkadang ada saatnya mereka atau kami butuh apresiasi atas hasil kerja keras waktu dan tenaga.
#sorry ceritaku masih jauh dari kata sempurna, dan hanya penulis amatir, semoga kalian enjoy ya
#jan lupa vote dan comment
YOU ARE READING
Tacenda
RomanceTentang cinta dan hampa Tentang melukai Tentang janji Ada bahagia bertopeng luka Juga harapan berlebih Mengenai dia yang pergi dengan aku yang datang Hai Ali, ini Raib. Ali bagaimana kabarmu? akankah kita berperan kembali? Hei Acil, ini Ala Acil bai...
