[I] KAKAK

666 37 2
                                        

Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, tempat, waktu dan kejadian itu semua murni ketidaksengajaan!

Enjoy~

~🌼~

Senin. Entah sudah berapa bulan Yeonjun disini, menunggu semuanya usai. Menunggu agar dirinya bisa bebas bermain hujan di luar. Ia berharap agar penyakitnya bisa diangkat begitu saja. Bak mayat hidup, dirinya terbaring dengan kulit sepucat kertas. Tak ada raut bahagia yang terpancar, pemuda itu total kehilangan tujuan hidup. Kini ia hanya menanti kepergiannya saja.

Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan pria yang lebih tinggi masuk. Itu Hueningkai, dokter yang merawatnya.

“Yeonjun? Bagaimana harimu?”

Yang ditanya hanya memalingkan muka. Enggan menjawab pertanyaan dokter di depannya. Sedikit sedih jika mengingat kondisinya saat ini.

“Apakah aku akan sembuh, dok?”

Hueningkai terdiam sejenak. Memikirkan bagaimana jawaban terbaik yang bisa diberikan pada Yeonjun. Anak itu… seperti tidak ada semangat untuk hidup.

Hueningkai menghela nafas, setelahnya ia berkata,

“Tentu! Kau bisa sembuh! Tenang saja, saya akan merawatmu dengan baik. Sudah menjadi tugasku bukan?”

Jika boleh jujur, Yeonjun ingin menangis, mengeluarkan semua beban yang ditanggungnya selama ini. Dalam keadaan lemah begini pun keluarganya tak ada yang peduli.

Yeonjun hanya merasa kesepian.

“Hey? Apa kau baik-baik saja? Apa kamu menginginkan sesuatu?”

“Aku hanya ingin keluar. Bebas dari ini semua. Hanya ingin menikmati hujan diluar sana tanpa memperdulikan kesehatanku. Hanya itu.”

“Apa kamu sangat menginginkan itu?”

Yeonjun mengangguk. Masih menunggu jawaban dokter muda didepannya. Berharap agar keinginannya bisa dikabulkan.

“Sepertinya bisa. Hanya saja… Kamu perlu pengawasan ku!”

Yeonjun tersenyum. Tak apa meskipun harus diawasi oleh dokter menyebalkan satu ini, yang terpenting dia bisa pergi menghirup udara bebas.

“Benarkah?! Apakah aku boleh keluar?! Yang benar? YEY!”

Pemuda itu memekik riang. Meluapkan kebahagiaannya yang menggebu-gebu. Tak sabar ingin keluar.

“Eits.. tunggu kondisimu membaik, baru boleh keluar. Mengerti? Kalau kamu drop lagi, aku tidak akan mengijinkan. Bahkan aku akan membatalkannya!”

"Yeonjun janji akan tetap stabil!” ucap Yeonjun sambil mengangkat telapak tangannya.

“Aku tidak butuh janji, aku butuh tindakan.”

~🌼~

“Mau pergi kemana?”

Kini mereka tengah menaiki mobil milik Hueningkai. Dokter itu meluangkan sedikit waktunya untuk Yeonjun, pasien yang sudah dianggap keluarganya.

“Aku… ingin ke panti asuhan, boleh? Sepertinya melihat mereka disana pasti sangat menyenangkan. Sudah dari lama aku ingin mengunjungi tempat itu,”

Hueningkai mengangguk. Tak apa, setidaknya Yeonjunnya akan senang.

“Kita sudah sampai. Tunggu sebentar! Akan ku bantu,”

Yeonjun tersenyum. Ia mulai turun dari mobil dengan perlahan, dengan dibantu Kai tentu saja. Menggerakkan sendinya menuju pintu yang tengah terbuka lebar di depan. Sedikit melihat interaksi anak kecil disana.

SERENDIPITY Opowieści tętniące życiem. Odkryj je teraz