[Terbit; Part Lengkap]
Pertemuan pertama mereka terjadi di bangku taman, di tengah hujan yang membasahi duka. Alkana baru saja kehilangan orang tersayang, dan Kristal; gadis asing dengan senyum hangat, menawarkan secangkir cokelat untuk menghapus di...
Aroma tanah basah membubung di udara tatkala hujan turun dengan anggun menyentuh bumi. Dinginnya tiap tetesan berlabuh pada dedaunan tempat di mana Alkana berteduh, juga beberapa jatuh di atas bangku panjang yang menopang raga lelaki itu. Langit sudah sepenuhnya redup ketika matahari kembali tertidur, lantaran terlalu malas berurusan dengan amukan awan yang membawa serta kilatan petir bersamanya.
Surai lelaki itu menempel pada kening ketika sang empu membawa wajahnya untuk menunduk, menikmati pemandangan hujan membasahi tangan yang berada di atas pangkuan, membuat tanah pada tiap jemari luntur bersama air dingin dan melebur kembali pada asalnya.
"Halo?"
Alkana mendongak ketika suara terlampau asing melayang di udara, sepenuhnya menaruh atensi pada gadis yang berdiri di sudut kanan bangku. Dia tidak terlalu menyukai hujan, tetapi kali ini, ia patut bersyukur lantaran tetesan itu mampu menyamarkan cairan yang hampir keluar dari kelopaknya.
"Ya," jawab Alkana, cepat dan singkat. Garis-garis wajahnya tidak sanggup untuk menyembunyikan duka. Kepergian dua orang terkasih terlampau tiba-tiba untuk bisa diikhlaskan, bahkan bekas pemakaman masih tersisa di tangan yang belum sempat dia bersihkan.
Gadis itu kembali merajut melangkah, mengapit payung merah muda di antara leher dan bahunya, juga kedua tangan memegang cup berisi minuman cokelat hangat. "Nangis aja kali, Kak. Alam udah berbaik hati untuk menyembunyikan, masa iya enggak dimanfaatkan," katanya ketika berdiri di sebelah kanan, lalu menyodorkan satu cup untuk dimiliki lelaki itu.
Alis Alkana terangkat, tetapi dengan ragu-ragu tetap menyambut pemberian itu. Obsidiannya menyelam ke dalam milik si gadis yang senada lautan madu. "Konteks?"
"Dari pada dibuang," jawab gadis itu ketika Alkana menanyakan maksud dari pemberiannya. "Kristal, ngomong-ngomong." Dia melanjutkan seraya mendaratkan tubuh di bangku yang sama.
Gemercik hujan jatuh dari dedaunan menjadi nyanyian sendu di antara mereka. Payung yang berada di kuasa si gadis kini diangkat kian tinggi, sehingga naungannya mampu menghalau tetes dingin yang mengenai lelaki di samping.
"Alkana," ucap lelaki itu pelan, tetapi cukup kuat untuk didengar oleh lawan bicara. "Dan terima kasih banyak."
Sudut bibir Kristal serta-merta mekar, membentuk sebuah senyuman yang tampak cocok dengan belah kenyal tebalnya. "Santai aja," jawab si gadis untuk kalimat terakhir yang lelaki itu lemparkan.
Embusan angin semakin gencar menggoyangkan daun yang menampung tetesan hujan, membuat beberapa dari mereka gugur dan bertabrakan dengan ranting sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Rambut Alkana terlalu basah untuk bisa digoyangkan alam, tetapi tiap tiupannya mampu membuat tubuh lelaki itu menggigil hingga ke tulang.
"Wajahmu, seperti membawa beban semesta." Gadis itu kembali melanjutkan, suaranya teredam bibir cup yang mengepulkan asap panas, sebuah usaha kecil untuk membawa sedikit kehangatan di tengah dinginnya suasana.
Dada Alkana membusung, indikasi sang empu sedang meraup oksigen sebanyak yang ia bisa. Sulur-sulur perih merayap di bawah kulit ketika tatapan kembali jatuh pada jemari basah karena jejak hujan. Ada bekas tanah pemakaman tersisa dan menyatu dengan rasa duka di depan matanya.
Karena melihat sang lawan bicara enggan melempar frasa, bibir tebal itu kembali melengkung diiringi helaan napas yang kelewat panjang. "Semesta agak memaksa, tapi nggak apa-apa, semua bakal baik lagi nantinya. Tiap luka ada obatnya, emang bekas nggak akan hilang dengan mudah, tetapi poin penting adalah sembuh dari itu semua."
Naungan yang dibawa Kristal menghalau tetesan dari langit, membuat cairan dalam obsidian Alkana yang sedari tadi tersamarkan akhirnya berhasil lolos jatuh ke pangkuan. "Tapi, mereka pergi selamanya."
"Sulit bukan berarti nggak bisa. Mereka yang pergi adalah kesayangan Tuhan, tugasnya di dunia sudah selesai, jadi relakan, ya? Biar perginya juga tenang." Kristal berkata hati-hati, takut jiwa yang sedang patah malah semakin remuk karena ditampar kenyataan pahit.
Ucapan itu terlampau jujur dan terkesan buru-buru bagi Alkana yang hatinya masih dirundung pilu, tetapi tetap dia iyakan dan amini agar semua berjalan dengan langkah yang baik. Lalu atensi beralih pada Kristal, membawa seluruh hal di depan sana untuk tersimpan dalam memori, rambut cokelat gelap, kulit tan manis, juga netra senada madu yang menyorotnya dengan penuh rasa penasaran, dia mengggores semua dalam ingatan, takut jika sewaktu-waktu akan lupa pada semua kenangan hari ini.
"Aku mau jemput kawan di bimbel, hujan juga udah agak reda." Gadis itu berkata lagi setelah hening yang lama menari-nari di antara mereka. Tungkai rampingnya kini bangkit berdiri dan jemari menyapu pelan rok sekolah abu-abu yang basah karena diduduki, lalu menatap Alkana dengan mekar manis di bibir penuh. "Sedihnya jangan lama-lama, ya? Takdir Tuhan selalu yang terbaik, kok, kalo kamu nggak bisa percaya sama aku, Tuhan nggak pernah bohong, kamu bisa percaya pada-Nya."
Sepatu Kristal yang basah berbalik untuk melanjutkan langkah, tujuannya pergi memang menjemput Sarah di bimbel, teman seperjuangan, tetapi melihat seseorang yang duduk putus asa membuat perjalanannya terhentikan. Dia tidak ingin menyesal dengan kabar kematian kasus bunuh diri besoknya.
"Kristal."
Suara yang membelah celah rintik hujan menyentuh gendang telinganya, membuat gadis itu menghentikan langkah dan berbalik untuk bersitatap dengan manik gelap milik Alkana.
"Untuk hari ini, terima kasih banyak. Pulangnya, tolong hati-hati. Coklat ini, akan saya bayar suatu saat nanti jika kita berjumpa lagi."
"Bayar dengan bahagia saja, ya. Kalo udah bisa senyum, artinya udah lunas."
Selepas mengatakan itu, Kristal kembali berjalan meninggalkan bangku yang berada di samping jalan, juga Alkana yang kini jantungnya berdetak tak karuan antara asam lambung naik karena banyak beban, atau pada kalimat bermakna terlalu dalam yang gadis itu lemparkan.
Ditemani oleh rintik hujan yang lembut, Alkana belajar tentang kehidupan. Takdir Tuhan memang tidak bisa dilawan, tetapi mengikhlaskannya adalah cara paling damai untuk mencapai ketenangan.
Tidak mudah bukan berarti tidak bisa, waktu akan menata semua dan kembali menyembuhkan.
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
Huh, hah. Huh, hah. Kinda gugup, tapi gas aja.
Halo kamu yang lagi baca ini!!! Gimana hidupnya? Semoga selalu dikelilingi sama hal hal baik, ya? Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk singgah.
Kritik dan saran akan diterima dengan senang hati, Sayang. Silakan meninggalkan jejak.