Karina dengan perasaan kesal mengobati pacarnya yang terluka. Pacarnya alias Kim Winter tadi hampir menabrak pedagang bubur ayam, jadi Winter banting setir hingga tak sengaja menabrak pohon.
"Pelan-pelan, Rin." Karina menghela nafas setelah mendengar ringisan dari gadisnya. Jujur, kalo boleh jujur, Karina sudah sangatlah lelah dengan tingkah pacarnya yang pecicilan.
"Kalo naik motor tuh gak usah gegayaan, jatuh kan."
"Gak liat, sayaaaang." Winter menampilkan ekspresi cemberut, berharap Karina berhenti menceramahi nya.
"Dih? Kek begitu dikira luluh?" Tanya Karina seraya membereskan kotak obatnya. "Udah selesai, sana pulang." Usirnya.
Winter cemberut, "kan kita mau jalan-jalan, Karin."
"Gak jadi, kamunya aja luka-luka gitu." Cueknya.
Winter membuntuti Karina yang pergi ke dapur untuk meletakkan otak obatnya.
"Rin, katanya gabut, ayo jalan." Winter mendudukkan dirinya di ruang makan, seraya mengeluarkan ponselnya, "ayo, aku gak papa kok. Sana siap-siap." Sambungnya.
Tanpa banyak bicara, Karina langsung menyelonong masuk ke dalam membiarkan Winter di dapur sendirian. Toh, pacarnya gak bakal aneh-aneh ya, kecuali semua cemilannya abis dimakan Winter.
Sepuluh menit kemudian Karina datang dengan pakaian terbaiknya, "ayo, gak usah ngabisin cemilan aku mulu." Setelah mengucapkan itu, Karina langsung pergi ke garasi, menunggu Winter di motor.
✯✯✯
"Masih ngambek? Padahal udah diajak keliling, makan gulai perempatan punya mang Asep juga." Ucap Winter.
Karina diam, hanya fokus memakan gulai yang terlihat lebih menarik ketimbang pacarnya itu. Karina aslinya tidaklah marah, ia hanya khawatir Winter kenapa-kenapa. Makanya, untuk membuat Winter jera, ya harus didiamkan.
"Iya deh, maaf aku salah. Tapi beneran aku gak liat ada tukang buryam. Karin, please, jangan cuekin aku." Rengeknya, Winter tuh paling gak tahan kalo udah di diemin sama Karin, bawaannya pasti uring-uringan terus.
Karina menghelakan nafas, "jangan ngebut, kalo terjadi sesuatu sama kamu gimana? Aku cuma khawatir, Winter."
"Hey, aku gak bakal kenapa-kenapa. Aku usahain buat gak kebut-kebutan lagi." Winter menangkup wajah Karin lalu mengelus pipinya.
Karina hanya mengangguk. Kemudian keduanya kembali melanjutkan makannya yang tertunda, hanya ada keheningan diantara keduanya walau disekitarnya bisa dibilang sangatlah berisik.
Winter mengelap bibirnya dengan tisu lalu berdahem, "jangan malem-malem, ya? Kan besok sekolah."
"Cih, kek kamu sekolah aja. Yang ada mah bolos." Winter hanya tertawa menanggapi ucapan Karina.
"Aku gak bolos, cuma bosen aja dikelas." Alasannya.
✯✯✯
"Tugas fisika lo udah belum?" Karina sekarang sedang melakukan panggilan video dengan Giselle dan Yeji, teman dari masa mereka masih jadi berudu.
Setelah Winter mengantarnya pulang, kedua temannya dengan sigap menelepon. Gabut aja sih sebenernya, gak ada kerjaan padahal tugas numpuk.
"Hah emang ada tugas, tah?" Bingung Karin, padahal ia sudah mengecek semua buku.
"Ada,"
"Goblok, Karin kan dispen waktu hari Rabu gegara OSIS." Sahut Giselle, terlihat gadis itu sibuk dengan kacang kulitnya.
"Kalian udah? Liat dong," Pinta Karina, dan apa yang ia dapatkan? Kedua temannya dengan kompak menggeleng. "Yeuu, gue kira kalian udah." Cibir Karina.
"Santai aja, anjir, bisa liat kelas sebelah or maybe anak kelas udah ada yang ngerjain." Jelas Giselle.
"Singkatnya, nyontek aja sist." Timpal Yeji dengan tertawa renyah.
"Halah, terakhir kita nyontek cuma benar dua tuh." Julid Karina. Mengingat kembali momen ketika mereka lupa mengerjakan tugas, dan berakhir menyontek.
"Sekarang percaya sama gue, sist. Kali ini bener, kok." Giselle menepuk dadanya bangga, seolah-olah mereka akan berhasil mendapatkan sesuatu yang berharga.
"Betul loh, ya, kita pegang kata-kata lo. Kalo sampe remidi, lo siap kita gebukin." Ancam Karina, dan di angguki setuju oleh Yeji.
▪︎
▪︎
▪︎
TBC
Sebenarnya ini cerita udah ada di garap dari dua tahun lalu, cuma baru ke up karena tenggelam sama cerita-cerita lain😔
YOU ARE READING
Enough [END]
FanfictionMenceritakan tentang Winter yang punya kembaran. [DISCLAIMER : cerita ini hanya sebuah karangan fiksi dan tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata. Cerita ini murni karangan author, mohon maaf jika ada kesamaan latar dan tokoh] pict from Pintere...
![Enough [END]](https://img.wattpad.com/cover/344284100-64-k974143.jpg)