Dia (menoleh ke kanan-kiri): "Apa yang bisa kita lakukan di sini?"
Aku (mendongak, memandang langit): "Maksudmu, di bawah langit sore ini?"
Dia (mengangguk): "Iya."
Aku (mengangkat bahu): "Hm... mungkin, menunggu."
Dia (mengerutkan dahi): "Menunggu?"
Aku (mengangguk): "Iya."
Dia (mengusap tengkuknya): "Menunggu apa?"
Aku (tersenyum): "Menunggu momen. Siapa tahu, kamu akan mengatakannya sebentar lagi."
Dia (tergelak): "Kalau belum?"
Aku (mengibaskan tangan): "Ya... bukan masalah. Kita pulang saja."
Dia (menggaruk kepala): "Lalu?"
Aku (tersenyum): "Aku akan menunggu lagi nanti, di bawah langit malam."
Dia (menggeleng): "Kalau keras kepala itu berwujud manusia, pasti kamu salah satunya."
YOU ARE READING
Aku-Dia
Short Story[Kumpulan Cerita Mini] Mengabadikan momen ketika Aku melakukan percakapan dengan Dia tentang hal-hal yang ada dalam kehidupan kita. Kamu bisa menganggapnya ada atau hanya khayalanmu saja.
