PROLOG

11 2 3
                                        

Bunyi bel pertanda waktu istirahat tiba bergema di seluruh koridor sekolah. Siswa-siswi yang telah lama menantikan waktu ini dengan cepat berhamburan keluar kelas dan dalam waktu sekejap memenuhi kantin. Mereka menuliskan pesanan ke atas kertas kecil, lalu diberikan pada wanita paruh baya yang berjualan di kantin tersebut.

Salah satu gadis yang ada di antara lautan manusia itu tampak sedang duduk sendirian di sebuah kursi yang terletak di pojok kantin. Raut wajahnya tampak serius memandang ke arah orang-orang yang mengantre di depan meja pesanan. Matanya yang tajam berkelana liar memperhatikan setiap orang yang memiliki karakteristik berbeda-beda itu. Dari ekspresinya itu orang lain seolah dapat menebak bahwa dia adalah seorang pemerhati sekitar yang andal.

“Putri! Sendirian aja. Ke mana, nih, yang lainnya?” tanya seseorang yang tiba-tiba datang ke meja tersebut sambil membawa semangkuk siomay di tangannya.
Gadis yang dipanggil Putri itu memutar matanya sinis, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Laki-laki di hadapannya lantas menghela napas panjang menanggapi sikap Putri yang memang sudah biasa itu.

“Gak mesen makanan, Put?” tanya laki-laki tersebut. Oh ya, nama laki-laki itu adalah Alven.

“Gak,” jawab Putri dengan nada ketus.

“Terus ngapain ke kantin kalo gak mesen apa-apa?” Alven bertanya sambil mengaduk siomaynya. Sesekali matanya melirik gadis berambut ikat satu itu.

“Terserah akulah. Bukan urusan kamu, ya,” jawab gadis itu, lagi-lagi dengan nada ketus. Ia kemudian memasang earpod di telinganya dan mulai memutar lagu yang ada di ponselnya. Dengan santai gadis itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan memejamkan matanya menikmati lagu yang tengah mengalun merdu.

Jika kalian mengira bahwa gadis bernama Putri itu adalah sosok yang dingin, cuek, hemat kata, ataupun lain sebagainya, maka kalian salah besar. Dia hanya bersikap seperti itu pada situasi tertentu. Pada dasarnya, ia mudah akrab dan cukup ramah. Hanya saja, akibat krisis kepercayaan yang dialami, ia menjadi sosok yang mudah curiga terutama pada orang yang baru dikenalnya.

Bersikap waspadalah pada siapa pun yang belum tentu baik seperti yang terlihat, apa salahnya, 'kan?

Alven pun tak lagi berkata-kata. Ia mulai melahap makanannya dengan khidmat sambil memandangi gadis di hadapannya. Sesekali sudut bibirnya tertarik saat melihat Putri yang tampak begitu tenang tidur di kantin yang notabenenya selalu diisi dengan keributan dari orang-orang yang tengah mengantre.

“By the way, tadi Pak Haris marah, loh, gara-gara kamu keluar kelas sebelum waktunya. Beranian banget, sih, ngelakuin hal kayak gitu, Put,” celetuk Alven. Makanan yang tersisa di mangkok tinggal setengahnya.

Putri membuka sebelah matanya, lalu ia tutup kembali. “Kayak yang baru liat aja aku ngelakuin hal kayak gitu,” sahutnya santai. Tak ada raut rasa bersalah atau takut di wajahnya saat mendengar fakta dari Alven tersebut.

“Mau sampai kapan, sih, kayak gini, Put? Kamu gak tau kelakuan kamu ini bisa berakibat fatal,” ungkap Alven dengan raut wajahnya yang tampak khawatir. Mangkuk di hadapannya ia dorong agar menjauh. Sepertinya laki-laki itu sudah tak bernafsu untuk makan.

“Aku gak suka sama sekolah ini, Al. Ralat, maksudku aku gak suka sekolah mana pun. Kamu tau sendiri, aku sekolah hanya sebagai formalitas aja dan biar ibuku gak sedih. Sisanya ... ah, aku bener-bener gak niat buat masuk ke tempat yang gak ada keadilan ini,” timpal Anna yang wajahnya berubah menjadi terlihat frustrasi. Ia melepas earpod di telinganya dan membenarkan posisi duduknya menjadi tegak.

Putri terdiam beberapa saat. Matanya kembali menelisik ke seluruh penjuru kantin. Tawa dari para siswi yang tengah bercanda, curhatan seorang teman kepada temannya, Bi Ranti yang meladeni pesanan, entah mengapa ia justru merasa muak melihat semua itu. Perasaan benci di hatinya seolah tak pernah hilang. Selalu ada keinginan dalam hatinya untuk dapat keluar dari tempat yang ia anggap penjara dan tak ada keadilan ini.

“Kamu tau, Al? Aku benci banget sama kehidupan ini. Aku benci dengan perjalanan hidup yang gak jelas dan gak adil ini.” Mata Putri yang semula menatap para siswa dan siswi itu kini beralih menatap Alven yang juga tengah menatapnya. “Kamu pernah gak, sih, berpikir, ‘Kok aku bisa ada di sini?’ gitu. Maksudku, siapa yang mau masuk ke tempat ini? Bahkan aku heran, kenapa kamu mau masuk ke sekolah ini? Kenapa, Al?” Tatapan Putri tampak penuh tanda tanya.

Alven menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. “Kalo kamu ngasih pertanyaan itu ke aku, akan kuputar lagi pertanyaan itu ke kamu. Kenapa kamu masuk ke sekolah ini padahal kamu amat-amat benci sama tempat ini?”

“Sudah aku bilang, aku ke tempat ini bukan karena kemauanku. Ada dorongan dari sebuah keterpaksaan dan tuntutan ketidakadilan yang membuat aku harus berada di tempat ini. Lagipula, sampai kapan pun aku gak akan pernah ikhlas berasa di tempat yang sok paling baik ini,” sahut Putri diiringi tatapan jijiknya.

“Kamu udah makin jauh, Put. Rasa benci kamu udah gak bisa kekontrol. Harusnya kamu, tuh, belajar buat menerima semua yang terjadi dalam hidup kamu. Berhenti membenci hal-hal yang memang sudah lumrah atau semestinya begitu. Benci gak akan pernah bikin hidup kamu tenang, Put,” ucap Alven.

Mata Putri memandang laki-laki di hadapannya tak suka. Ia seperti ingin mengeluarkan sebuah argumen untuk dapat melawan perkataan Alven, tetapi sebisa mungkin berusaha ia tahan. Sementara itu, Alven justru serasa ingin tertawa melihat ekspresi Anna yang tengah menahan amarah.

“Simpan aja wejangan kamu itu buat orang lain. Aku gak butuh! Kamu bilang gitu karena kamu gak ngerasain gimana rasanya jadi aku!” bentak gadis itu. Kedua matanya tampak berkaca-kaca. Perasaan yang tercampur aduk antara kesal, marah, dan ... sedih.

Alven terdiam sesaat dengan pandangan yang mengarah ke bawah meja. Kemudian, ia angkat kepalanya dan menatap Putri yang masih setia memandanginya. “Aku emang gak bisa ngerasain gimana rasanya jadi kamu. Tapi aku paham, kok, sama keadaan kamu. Kamu pasti pengen lepas, kan, dari keadaan seperti ini?”

“Gak! Aku gak pernah mau berubah seperti apa selalu kamu bilang itu. Putri akan selalu seperti ini. Mencari keadilan dengan caranya sendiri. Bukan rela begitu saja menerima ketidaksetaraan perlakuan dari banyak pihak!” Sontak Putri pun berdiri dan pergi meninggalkan Alven yang masih duduk di kursi pojok itu.

Alven menggelengkan kepalanya. Kepalanya ia tolehkan ke belakang dan matanya menangkap sosok Putri yang makin menjauh hingga akhirnya menghilang di balik pintu keluar. Laki-laki itu menghela napas panjang. Ia berpikir, akan begitu sulit mengubah pola pikir temannya itu yang sudah begitu sejak dari dahulu. Apalagi Putri adalah seorang pemikir kritis sehingga membuatnya selalu sulit untuk dapat menerima setiap keadaan yang dirasanya tidak dapat dicerna akal.

♩✧♪●♩○♬☆

Welcome to my first story!

Setelah hampir dua tahun gak berani buat publish tulisan di sini, akhirnya aku kembali dengan cerita baru dan gaya baru. Semoga tulisanku kali ini dapat memberikan lebih banyak manfaat dan mata kalian gak sakit saat membacanya.

Happy Reading! Enjoy the story!

BROKEN FAITHDonde viven las historias. Descúbrelo ahora