Setelah kepergian Arga, Nara sulit untuk menemukan pengganti Arga di hatinya banyak memori yang mereka lakukan bahkan ada satu memori yang buat Nara tidak bisa lupa sampai sekarang.Besok tepat 7 hari kepergian Arga, Nara belum bisa menerima kepergian sang pacar. Sudah 6 hari Nara mengurung diri di kamar, mamah Nara khawatir melihat anaknya hanya diam dikamar.
" pah! mamah khawatir sama Nara "
" papah juga sudah berusaha mah buat bujuk Nara keluar kamar, bahkan papah sudah ngajak Nara buat beli eskrim kesukaanya namun tidak ada respon dari Nara "
" mamah juga udah bujuk sama seperti papah tapi... sama aja gak ada responnya "
Tidak lama kemudian suara pintu kamar terbuka tampak Nara dari sudut kamar, ia berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang tamu, papah dan mamah Nara melihat kondisi tubuh anaknya sangat terkejut.
Nara lahir dari keluarga yang bisa dibilang sangat harmonis, mamah dan papa Nara hanya memiliki Nara satu-satunya semenjak Arga masuk kedalam kehidupan Nara, ia di anggap sebagai anak sendiri oleh orang tua Nara, pas kepergian Arga tidak hanya Nara yang merasakan kehilangan sang pacar namun kedua orang tua Nara pun merasakannya juga. Hanya tinggal kenangan yang Nara punya, ibu Nara selalu menghibur anaknya, meski seringnya menangisi sang pacar seperti malam ini.
Orang tua Nara tidak biasa melihat anaknya seperti ini, bahkan tampak seperti tidak memiliki semangat hidup. Namun sekarang, sang ibu berusaha menjadi seorang pemerhati yang sangat teliti. Sayang, tetap saja anak itu selalu memurungkan dirinya. Termasuk hari ini, anak itu habis-habisan menyalahkan dirinya atas kepergian sang pacar.
"AKU SANGAT BODOH BISA-BISANYA AKU KEHILANGAN ARGA! APA YANG TELAH KU PERBUAT? KENAPA ARGA PERGI MENINGGALKANKU?!!"
Wanita bernama Santi itu berteriak di depan kamar anaknya usai mendengar suara teriakan. Berkali-kali sang ibu menjelaskan bahwa bukan salah anaknya atas kepergian Arga, melainkan penyakit yang menyiksa Arga hingga seperti ini.
Sang anak tak percaya dan terus menyalahkan dirinya, dengan nada tinggi, Nara mengatakan bahwa dia benar-benar kesal dengan dirinya. Anak itu marah, namun tak mengerti bagaimana cara menunjukkan kemarahannya yang nyaris meledak. Bagaimana tidak, hampir setiap hari mendapatkan perlakuan dari social media, bahkan temannya selalu tak percaya atas cerita-cerita yang dia ungkapkan tentang kepergian Arga.
Seumur hidupku aku tak pernah merasakan kehilangan sosok laki-laki seperti ini. Entahlah, apa mungkin karena kedua orangtuaku memperlakukan Arga seperti anaknya sendiri, hampir setiap hari Arga datang kerumahku hanya untuk bertemu ibu, hingga tak ada satu pun dia punya waktu untuk nongkrong bersama temannya.
Kadang aku berpikir, kenapa Arga tak pernah membawa ku bertemu dengan orang tuanya? Hanya pertanyaan itu yang kini memenuhi relung hatinya. Tapi lebih baik memilih untuk diam saja.
Sedikit demi sedikit air mata mulai mengering, dan aku mulai memaksakan diri untuk berdiri, juga mencari barang pemberian Arga. Rupanya aku belum merapihkan barang pemberian Arga, mungkin aku harus merapihkannya sekarang jika tidak segera aku akan sulit untuk melupakan kenangan ini. Polaroid terlihat berdebu, ingatanku kembali ke masa lalu saat kita di kelas 11 dan aku selalu mengganggunya yang sibuk memotret langit di tengah lapangan basket. Arga seorang photographer, dan dia tak pernah bisa di ganggu saat sedang memotre pemandangan sekolah. Tumpukan polaroid Arga tersusun rapi diatas kotak kecil. Aku membuka satu persatu dan mulai tersenyum.
Aku mengambil polaroid itu dengan sembarang, membosankan. Polaroid itu dipenuhi bercak kuning. Lembar demi lembar kubuka, hingga sedikit demi sedikit kutemukan Polaroid yang tak biasa. Aku yakin benar, polaroid ini adalah foto Arga dan temannya, dengan tulisan di belakang polaroid itu, aku belum pernah melihat laki-laki satu ini.
Yang membuatku antusias, ada pesan dari polaroid ini, laki-laki itu memakai topi yang sama dengan topi yang dimiliki Arga, dengan motif yang sama dan tambahan tato di lengan kanannya.
AKU MULAI BERTANYA-TANYA, SIAPA DIA? KENAPA DIA MENGENAKAN TOPI YANG SAMA SEPERTI ARGA? DAN MEMILIKI TATO YANG SAMA?
...
-TO BE CONTINUE-
nousurprises
YOU ARE READING
Kamu Tampan
Teen FictionKamu tampan!, apakah aku pantas memiliki kamu? orang sekitarmu selalu mengatakan bahwa aku sangat tidak pantas bersamamu bahkan saat kita bertemu hanya sekilas mata. " Sebagai wanita biasa, aku tak bisa memilikimu ". itulah ucapan yang selalu di lon...
