Prolog

67 7 0
                                        


Di kampus, orang mengenalku sebagai Arya, mahasiswa DKV yang hidupnya cuma seputar cat air dan nirmana. Tapi mereka tidak tahu rahasia kecilku. Saat aku sedang penat menggambar, pelarianku bukanlah nongkrong di kafe. Pelarianku adalah mengurung diri di kamar, mendengarkan musik phonk yang ngebass banget, bikin animasi 3D, dan mengoprek game engine di laptopku.

Aku suka bikin game strategi turn-based buatanku sendiri. ngoding, ngatur node, dan mencari letak error di dalam sistem adalah caraku mencari ketenangan. Karena berbeda dengan manusia yang rumit, masalah pada komputer selalu punya jawaban logis. Kalau ada yang rusak, kau tinggal mencari di mana glitch-nya.

Sayangnya, aku lupa kalau otak manusia terutama otak gadis yang kucintai tidak punya sourcecode yang bisa kuperbaiki semudah itu.

Orang bilang, kamera tidak pernah berbohong. Bahwa sebuah gambar adalah bukti paling otentik dari realita yang membeku.

Sebagai mahasiswa Desain Komunikasi Visual, seharusnya aku yang paling tahu bahwa pepatah itu omong kosong. Gambar bisa dimanipulasi. Angle bisa menipu. Dan yang paling mengerikan... konteks bisa ditulis ulang.

Aku menatap layar ponselku yang retak. Di sana, di grup angkatan yang dulu ramai dengan candaan, kini hanya ada keheningan setiap kali namaku muncul. Atau lebih parah: sindiran halus yang menusuk.

"Hati-hati kalau diajak nugas berdua. Nanti direkam diam-diam." "Muka polos tapi predator."

Aku meletakkan ponsel itu telungkup di meja. Napasku berat. Di luar jendela kost, hujan mengguyur Depok, menyamarkan suara bising kota, tapi gagal meredam keributan di kepalaku.

Namanya Aira.

Gadis yang sama yang setahun lalu menangis di pelukanku karena takut gagal sidang tugas akhir. Gadis yang sama yang pernah berlari hujan-hujanan dari stasiun UI hanya untuk membawakanku obat demam.

Kini, gadis itu berdiri di seberang sana, di balik benteng perlindungan "korban", menunjukku sebagai monster yang menghancurkan hidupnya. Dia bercerita dengan air mata yang tampak begitu nyata, menceritakan kejadian-kejadian yang tidak pernah terjadi dalam memoriku.

Dia bilang aku memaksanya. Dia bilang aku mengancamnya dengan foto-foto yang tidak pernah aku ambil.

Bagian terburuknya? Dia tidak terlihat sedang berbohong. Matanya memancarkan ketakutan yang murni. Seolah-olah di dalam kepalanya, skenario horor itu benar-benar terjadi.

Aku tidak sedang melawan seorang pembohong ulung. Aku sedang melawan sesuatu yang jauh lebih rumit. Sesuatu yang rusak. Sebuah glitch yang tersembunyi jauh di dalam hatinya, yang mengubah cinta menjadi kebencian tanpa jejak.

Ini bukan kisah tentang bagaimana aku menemukan cinta sejati. Ini adalah kisah tentang bagaimana aku perlahan-lahan dihapus dari kenyataan oleh orang yang paling aku cintai.

Dan semuanya dimulai dengan segelas jahe hangat di Puncak Bogor.

The Glitch in Her HeartStories to obsess over. Discover now