Maret 2020, Shibuya, Jepang.
Kuni POV
Musim semi, musim yang sangat mempesona. Kemanapun mata memandang, hanya ada guguran sakura dan kumpulan orang yang menikmati keindahannya. Sama sepertiku, yang sedang menikmati suasana meriah kelulusan SMA di antara kelopak sakura yang memenuhi udara.
"Kuni!! Ayo kumpul dulu!! Sudah hampir giliran kelas kita lho!!"
"Oh, yaa!! Aku segera menyusul--"
Tiba-tiba, aku melihat sesosok perempuan berdiri di antara pohon-pohon sakura, "Huh? Siapa ya itu?" gumamku.
'Masa' hantu sih? Enggak lah ya, mana ada hantu siang bolong begini, Kuni otakmu sedang tidak waras ya sepertinya,' lanjutku dalam hati.
Tak lama setelah aku berpikir demikian, sebuah suara keras terdengar dari arah sosok perempuan tadi.
BRUK!
"Loh, yang tadi berdiri di sana, sudah pergi?"
Karena penasaran, aku pun mencoba mendekati asal suara keras tadi, alias tempat sosok perempuan yang agak misterius itu, ternyata...
"UWAAA DAIJOUBU DESUKA??? A-A-AANOO DAREKA??!!"
Suara ambruk tadi ternyata berasal dari perempuan ini, entah apa alasannya dia tiba-tiba terjatuh. Tapi kulihat bibirnya agak pucat, mungkin Onee-san ini sedang sakit?
"Uhm..."
"WAA ONEE-SAN GAPAPA?? MAU KUPANGGILKAN AMBULANS?"
"Ahahah ie ie daijoubu yo, cuma pusing sedikit."
Tuh 'kan benar, lagi sakit-- tte Kunitsuna jangan malah mikir begitu!!
"Perlu kubantu berdiri, Nee-san??"
'Kenapa tiba-tiba aku memanggilnya Nee-san??? Sok akrab sekali??!!'
"Eh? Tidak usah ah merepotkan, aku bisa sendiri. Tapi ya tunggu beberapa menit lagi, masih pusing--"
"Jaa kemarikan tanganmu, tanahnya kotor, bajumu nanti ikut kotor, Nee-san..."
"Ahaha wakatta, arigatou nee, uhm, namae wa?"
"Oh, Tatsuhana Kunitsuna, Kuni aja gapapa."
"Jaa, watashi Takumai Haruka, panggil Mai saja biar singkat."
'Nama yang bagus, cantik seperti orangnya-- Kunitsuna sepertinya otakmu itu perlu reparasi secepatnya deh!!'
Kami berkenalan sembari berjalan ke bangku taman terdekat, tentu saja tangan Mai-san-- aku memanggilnya seperti itu-- masih di genggamanku. Badannya terlalu lemah untuk kubiarkan berjalan sendiri.
"Mai-san kenapa disini?"
"Lho, tidak boleh ya? Maaf, kukira ini lahan publik--"
"C-chigau desu yo, maksudku kenapa berdiri di depan pohon sakura seperti tadi? Mai-san sedang merenung atau bagaimana??"
"Eerr sebenarnya bukan merenung atau apalah itu, aku hanya sedang merasa santai, menikmati guguran bunga sakura saja."
"Hee, soukka."
Tapi kenapa Mai-san sendirian-- aku tadinya ingin bertanya seperti itu, sebelum suara teman sekelasku menggelegar memanggil namaku.
"KUUNII AYO KUMPUL!! UDAH DITUNGGUIN WOII!!"
"Mampus... Wakattaa aku kesana!!"
"Ahahaha sedang merayakan kelulusan ya? Bersenang-senanglah dengan teman-temanmu, keadaanku sudah membaik kok setelah duduk sebentar."
Aku agak tidak yakin pada awalnya, tapi aku tak mau membuatnya merasa tak enak, "Baiklah kalau Mai-san bilang seperti itu--"
Ketika aku merogoh saku blazerku untuk mencari ponsel, aku terkejut karena sakuku ternyata kosong melompong, sepertinya aku menitipkan ponselku pada Yuuta tadi sebelum pergi kesini.
"Uhh, aku lupa membawa ponsel."
"Gomen aku juga tidak membawa ponsel."
"Ie daijoubu, Mai-san, ukh doushiyou... Oh sebentar!!"
Langsung ku lepas kancing kedua blazerku dan buru-buru kuberikan kancing itu ke Mai-san.
"Ano, gomennasai Mai-san, hanya benda ini yang bisa aku beri sekarang, aku lupa kalau tadi ponselku kutitipkan ke temanku, jadi aku tak bisa minta nomor ponselmu."
"Ah, hai'. Padahal tanpa diberi barang juga aku akan selalu ingat dengan kebaikanmu lho, Kuni."
"Ie ie, aku ingin Mai-san mengingat hari ini, aku ingin Mai-san mengingat seorang laki-laki bernama Tatsuhana Kunitsuna. Ingatlah bahwa Mai-san pernah mendapat pengakuan cinta dari laki-laki tersebut--"
"KUNITSUNAAA LAMA BANGET WOII!!!"
"ISH JANGAN GANGGU ORANG LAGI NGOMONG!! SEBENTAR LAGI!!"
"Pfftt--"
Suara lirih yang manis itu terdengar di udara, Mai-san dengan polosnya melepaskan tawanya, sepertinya ia menertawaiku.
"Sudah sudah, temanmu sampai teriak begitu berarti udah mepet banget lho, iya iya aku akan ingat segalanya tentang Tatsuhana Kunitsuna, apa itu cukup bagimu?" Tanyanya sambil tersenyum.
"U-un, sudah cukup banget, arigatou nee, itoshii na Mai-san..."
"Hei mulutmu manis sekali sepertinya??"
"Kenapa?? Mai-san tidak suka orang yang bermulut manis??"
'Kunitsuna urat malu mu memang sudah putus ya.'
"Tidak juga, aku tidak punya tipe tertentu."
"Baiklah kalau begitu, jaa aku pergi dulu, mata nee!!"
Kulangkahkan kedua kaki ku pergi, meninggalkan bangku taman tempat Mai-san duduk dan melambaikan tangan kanannya padaku, sambil memegangi kancingku di tangan kirinya.
"Cie Kuni abis nembak onee-san ya???"
Ini anak emang ya, gak bisa gitu baca situasi.
"Yuuta omae, mulutmu itu bisa diam tidak??!!"
"Weits bro santai, telingamu merah tuh."
"Telingaku gak merah!!!"
"AHAHAHA KUNI MEMERAH GUYSS LIAT DEH!!"
"YUUTAAA!!!"
Musim semi, 2020.
Harusnya musim semi tahun ini berakhir seperti musim semi lainnya, sebelum sebelum ini. Namun sesuatu terjadi di hari kelulusanku, di hari terakhir di kalender musim semi.
Mai, Takumai Haruka.
Mai-san, meskipun suatu saat kita bertemu lagi dan hanya aku yang mengingat hari ini, aku tak peduli. Aku akan tetap membuatmu ingat tentang memori ini, tentang kancing, dan tentang Tatsuhana Kunitsuna.
Kuni, xx Maret 2020
shiiroyuu
Your Only Bloom
YOU ARE READING
Your Only Bloom
Teen FictionTakumai Haruka, seorang perempuan cantik yang tak sengaja membuat seorang laki-laki muda-- Tatsuhana Kunitsuna -- jatuh hati padanya di kali pertama mereka bertemu. Di lautan kelopak bunga sakura, perasaan Kuni terhadap Mai muncul dan bertumbuh seir...
