1. Senja

68 7 23
                                        

Senja yang kian menipis, menenggelamkan cahayanya. Berganti dengan rembulan, tanpa penerangan. Di balik panggung itu. Gadis yang sama sekali tidak bisa melupakan kenangan pahitnya.

Bahkan, seuntai kata sekedar menanyakan keadaan kelu rasanya. Gadis polos yang hanya tau kebahagiaan tanpa tau apa itu rasa sakit sebenarnya.

Hidup dengan keluarga tidak utuh selama yang ia pikirkan. Bagaikan seekor burung yang tak bisa terbang dengan sebelah sayapnya. Sayap itu tak patah, tak pula tiada, namun ini bukanlah soal sayap.

Kemewahan dengan keberadaannya berarti, namun tak selang berapa lama. Sampai ia sadar, selama ini ia hidup di dunia kebohongan, yang penuh dengan kepalsuan.

Apakah kasih sayang itu palsu?

Apakah perhatian itu palsu?

Apakah ucapan itu palsu?

Manis, namun menyakitkan. Terus mendapatkan tuntutan yang sama, bahkan tiap harinya. Berbeda dengan ia dulu, membuatnya semakin bingung entah siapa yang berada di pihaknya.

Sentara Febriana Caniago.

Gadis polos yang bisa membohongi dirinya sendiri. Bahkan, saat ia beranjak dewasa. Tara sudah membunuh jiwanya sendiri, dengan membuat jiwanya yang baru.

Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam keluarganya hingga ke akar, yang membuatnya menjadi seperti ini.

Apakah aku hanya jadi pelampiasan semata?

Apa arti aku hidup?

Apakah aku sebegitu tak berharganya?

Keluarga macam apa ini?

Apakah ini yang di namakan keluarga?

Siapa yang menipu siapa.

Hari dimana kepergiannya, sekilas membuat Tara tersiksa setiap harinya, tanpa satu orang pun mengetahui akan hal itu. Bahkan apa yang ia ucapkan tiada artinya.

Rapuh.

Di ujung tandus.

Murka.

Benci.

Perasaan yang tak bisa Tara ucapkan dengan seuntai kalimat manis begitu saja. Bahkan terkadang ia selalu mengenyampingkan perasaannya sendiri, demi orang lain.

Apakah itu salah?

Semenjak kejadian terakhir yang Tara alami, ia sangat membenci yang namanya lelaki, dan cinta. Apa itu cinta? Bukankah cinta dan laki merusak segalanya?

Bukan berarti Tara menyukai sesama jenis, hanya membenci, tak kurang tak lebih. Luapan emosi yang selalu ia tahan sebisa mungkin.

Senja yang begitu menyakitkan, lebih baik melihat awan, ketimbang melihat senja yang selalu memutar kenangan itu, bak kaset rusak.

Perhatian dan cinta, sama sekali hal yang tidak Tara butuhkan untuk saat ini. Yang mana hal itu akan menimbulkan kebencian dan rasa sakit yang baru.

Apakah hanya ada sebelah pihak bisa di sebut dengan yang namanya keluarga? Basi sekali. Datang tanpa izin, pergi tanpa niatan kembali. Orang bodoh sekalipun tidak akan menerimanya.

Layaknya mengambil sampah sendiri untuk di pajang, buat apa? Bukankah itu tidak ada artinya? Sampah busuk sekalipun tak berhak di pungut kembali.

Yang tanpa sadar, Tara terus berada di dalam cangkang yang begitu kuat, sekeras apapun ia berusaha untuk memecahkannya.

Tak perlu membohongi dirimu sendiri, cukup terima apa adanya dirimu, yang ternyata hal itu yang selalu Tara abaikan, selalu tak perduli dengan keadaannya sendiri sedikitpun.

Pertama CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang