01 | Dia, Canala

70 5 2
                                        

Bukan kebanggaan guru, cuman murid biasa yang masih harus banyak santunnya.

•••


'tik'

tetesan dingin nan bening itu perlahan turun dari satu lalu di susul oleh yang lain. Seketika menjadi deras, menyerbu bumi dengan airnya yang dingin. Suaranya sangat khas, hawa dingin kian terasa. Saat ini mungkin nyaman rasanya bila duduk sembari menyeruput teh hangat. Mendengarkan playlist musik yang menenangkan hati. Di dalam suatu ruang beratap dengan selimut tebal menggulung tubuh. Namun, tidak begitu bagi sosok gadis dengan umur kisaran 18 tahun yang tengah duduk termangu di depan makam berkramik putih. Membiarkan bulir-bulir air hujan seragam putih dan rok abu khas seragam siswi Sekolah Menengah Atas. Tidak perduli bila saat ini tubuhnya telah basah kuyup oleh air hujan. Dia menyungging senyum lalu memejamkan kedua matanya. Ia nampak seperti merasa nyaman dengan suasana itu.

Bibir mungil itu kemudian mendekat, mengecup singkat nisan dengan tepian kramik putih bertuliskan nama seseorang. Nama seseorang yang sepertinya sangat si gadis sayangi.

"aku pamit ya, makasih buat waktunya" ujarnya lembut seolah tengah berbicara dengan seseorang. Sebelum melangkahkan kakinya, gadis itu memberikan setangkai bunga mawar yang sudah di basahi oleh air hujan. Hanya setangkai namun sepertinya memiliki banyak makna. Ia pun melenggang pergi membiarkan buliran air hujan membasahi dirinya.

•••

"kakinya diangkat !"

"jewer kupingnya jewer!"

"tegak dong ! lakik kok letoy"

"apa ini ! rambut apa ini ! rambut udah kaya serabutan, potong ! seperti 12 windu tidak di potong"

"rok apa ini ! pendek sekali ! pahamu jadi kelihatan, jangan di pamerkan seperti paha ayam !"

"mau kamu di samakan paha ayam, tidak malu !"

"mana dasi kamu ! kenapa tidak dipakai? dasi itu mahal jangan kamu sia-sia kan !"

"kancingin seragam mu paling atas, mau bergaya seperti tukang malak kamu ?!"

"berdiri yang bener, bukan decak pinggang, memangnya kamu super model 12 negara. Model kok terlambat !"

itu adalah beberapa cibiran yang diucapkan oleh seorang wanita dengan tubuh yang agak berisi. Terlihat seperti ibu-ibu dengan umur berkisar 40 tahunan. Berprofesi sebagai guru yang dikenal sebagai salah satu guru killer dengan ciri khas kaca mata tebal yang memiliki rantai. Rantai yang nampak nyaman bergelantungan di ke-dua gagang-nya. Sepatu dengan hak tinggi berwarna merah pekat yang sudah menjadi petunjuk apabila guru killer satu ini datang berkunjung. Berkunjung menemui siswa/i yang sering bermasalah.

Rambutnya pendek se-bahu dan sedikit berkeriting. Wajahnya jutek, tidak pernah menabur senyum kecuali kepada satu siswa yang sepertinya karna guru itu memiliki rasa khusus untuk sang siswa. Langkah demi langkah terus terpatri. Sorot matanya menelisik ke segala arah. Di samping kanannya terlihat sebarisan siswa/i bermasalah. Bukan satu atau dua orang melainkan beberapa orang hingga membentuk barisan. Rata-rata kesalahan para siswa/i itu ialah terlambat datang. Walaupun mereka hanya terlambat 3 sampai 5 menit, bagi sekolah yang sangat menanamkan nilai ke-disiplinan itu, hukuman tetap berlaku.

Guru dengan tage name 'Rohimah', dikenal dengan sebutan 'Bu Kitek' sudah 7 tahun menjabat sebagai guru yang mengajar mata pelajaran Matematika sekaligus kepala divisi Keamanan dan Tata Tertib di SMA Gardana. Menjadi musuh para siswa/i bermasalah dan biang onar. Termasuk musuh dari gadis yang saat ini tengah melantunkan serangkaian doa yang ia hafal untuk menyelamatkannya dari mata intimidasi Bu Rohimah. Karna, jikalau menjadi sasaran tatapan intimidasi Bu Rohimah, ntah nasib buruk apa yang akan terjadi pada pagi hari ini.

BianglalaWhere stories live. Discover now